How We Missed Our Flight to Cappadocia and Ended up in Istanbul Instead

Pagi buta kami dijemput oleh seorang sopir bertubuh tinggi besar brewokan yang dipanggil oleh Temo untuk mengantar kami menuju airport. “Safe flight and I wish you will visit Tbilisi soon.” ujar Temo sambil menjabat tangan saya. Of course, I will return to Tbilisi in a heart beat. Kota dengan keindahan gado-gado ala kuno dan modern ini sungguh membuat kami betah dan ingin tinggal lebih lama lagi. Namun waktu berkata lain, kami harus kembali ke Turki untuk melanjutkan perjalanan kami.

Niat awal kami sebenarnya adalah mengunjungi Capadoccia melalui Istanbul. Naik pesawat dari Tbilisi dan lanjut penerbangan menuju Kayseri  kemudian menikmati pemandangan ala permukaan bulan di Cappadocia. Berbekal tiket promo Turkish Airline yang cuma tiga ratus ribuan rupiah, kami menyangka semua akan lancar dan kami akan sampai di Cappadocia tanpa masalah namun kami salah.

20170705_072121

Pesawat Pegasus Air yang membawa kami ke bandara Sabiha Gokcen mendarat tepat waktu pukul 7 pagi. Kami langsung berlari menuju imigrasi karena penerbangan kami selanjutnya adalah pukul 9 pagi. Sesampainya di Imigrasi kami langsung lemas melihat antrian panjang nan mengular. Kami segera mengantri namun pergerakan antrian berjalan lambat karena loket imigrasi hanya dibuka beberapa dan tidak sebanding dengan jumlah antrian. Kami berusaha menjelaskan kepada petugas bahwa kami ada penerbangan lanjutan dalam dua jam namun kami tetap disuruh mengantri. Banyak penumpang yang juga memiliki penerbangan lanjutan juga tidak berdaya menghadapi antrian dan kolotnya petugas. Akhirnya kami hanya bisa pasrah mengantri dan berharap masih bisa mengejar penerbangan kami. Setengah jam berlalu kami masih di antrian. Sejam berlalu dan kami pun masih di antrian dengan muka masam setelah melihat seorang turis dari Tiongkok berlari melompati pagar antrian dan menyerobot masuk ke loket. Hebatnya, petugas imigrasi menerima turis kurang ajar ini dan dia pun melenggang masuk ke terminal. Setelah sejam lebih kami mengantri akhirnya kami melewati imigrasi dan kemudian berlari menuju counter check in.

Jam sudah menunjukkan pukul 8:30 pagi dan kami berharap cemas sambil menatap tajam petugas counter yang sibuk mengetik dan menelpon perihal penerbangan kami menuju Nevshehir.

“I am sorry, you can’t board the plane. You need to buy new tickets”

Ucapan petugas counter ini bagai petir di siang bolong bagi kami berdua. Si nyonya yang sudah membayangkan berfoto-foto di Goreme langsung kecewa dan protes. Namun semua sia-sia, kami harus membeli tiket baru untuk melanjutkan penerbangan menuju Cappadocia. Penerbangan selanjutnya menuju Nevshehir adalah pukul 9 malam dan waktu kami hanya tinggal 3 hari di Turki mengingat kami akan kembali ke Kuala Lumpur dari Istanbul. Akhirnya kami memutuskan untuk batal mengunjungi Cappadocia dan tinggal di Istanbul di sisa perjalanan kami. Beruntung pihak Terra Cave Hotel bersedia membatalkan booking kami dan private shuttle kami menuju Goreme tanpa biaya apapun. Kami sangat berhutang budi dengan hotel ini dan beneran guys, kalo kalian mau ke Cappadocia, ngineplah di Terra Cave Hotel. Hotel keren dengan konsep living in the cafe ini benar-benar costumer oriented dan fasilitasnya pun keren (endorsed by Gurukelana hahaha).

Lapar dan haus setelah drama airport yang berujung dengan ketinggalan pesawat, kami pun terdampar di Burger King. Makan dulu,mikir nanti. Kami kemudian segera menghajar dua paket Whooper dan setelah asupan gizi mulai memasuki aliran darah kami, kami kemudian memikirkan rencana kami selanjutnya. Wifi di Airport Sabiha Gokcen tidak bisa diandalkan dan banyak cafe tidak menyediakan layanan wifi. Akhirnya kami memutuskan untuk menumpang bus Havas menuju Kadikoy dan mencari hotel di Sultanahmet.

IMG20170706065011

 

Raut wajah si Nyonya yang sedih membuat saya pun tidak enak. Ah kenapa nekad waktu itu beli tiket yang waktunya mepet. Kenapa antrian bisa begitu panjang. Kenapa layanan imigrasi di Sabiha Gokcen begitu lelet. Berbagai kenapa menyerang pikiran saya selama perjalanan menuju Kadikoy namun segala sesal pun tidak berguna. Akhirnya ketika sampai di Kadikoy dan menemukan koneksi wifi, saya langsung memesan kamar hotel dengan kualitas bagus di Sultanahmet yaitu Tria Hotel. Hotel yang letaknya di dekat Blue Mosque ini memiliki rooftop bar yang menghadap ke Golden Horn sehingga kita bisa menikmati pemandangan indah sambil melupakan pengalaman pahit kami haha.

 

One comment

Leave a Reply