Traveling Sebagai Guru : Sebuah Memoar Perjalanan


12 tahun yang lalu saya cuma seorang guru les Inggris yang ngider dari satu rumah ke rumah dan ga pena kepikiran buat traveling. Gimana mau traveling, lah wong paspor aja belom punya dan waktu itu traveling ke luar negeri itu serasa mahal dan impossible. Cukuplah sesekali ke Cibodas nemenin anak-anak karya wisata atau ke Puncak ikut acara pengembangan rohani. Sampai suatu ketika, ortu murid les yang kelabakan digangguin ma anak-anaknya yang sering rusuh dirumah nawarin saya buat membawa anak-anak ke Singapura buat liburan. “Tolong bawa anak-anak ya Dro, besok kamu dateng ke Kantor Imigrasi di Beos, cari Pak Taskim. Dia bakal bantu kamu bikin paspor.” Ucap Bu Bertha yang bikin saya senyum sumringah. Paspor yang jadi dalam waktu 2 hari ini pun akhirnya jadi awal dari Travel Lust (Nafsu Kelana) saya yang sampai sekarang tiada reda.

Di eskalator Ion Orchard yang kala itu merupakan mal paling baru di Singapura


Tibalah saya dan anak-anak di Singapura. Saya tiada henti motret sono sini padahal baru juga nyampe Changi Airport. Perasaan saya beneran berasa berjalan dalam fantasi, impian, halusinasi tapi real (apalah kalimat ini). Saking senengnya, saya ga bisa tidur walau nginepnya di Meritus Mandarin Orchard. Jam 2 pagi saya memutuskan untuk turun dan berjalan-jalan di Orchard Road yang kala itu sepi tak ada orang. Tak ada rasa takut walau diri saya baru pertama kali berada di negeri orang. Di Singapura inilah saya baru tau ada aksen bahasa Inggris yang super ajaib ketika saya berbicara dengan resepsionis hotel yang menyarankan saya pergi ke WAWAWEK dengan murid-murid saya. Belakangan saya baru tau WAWAWEK = Wild Wild Wet. Ajaib bukan?

Bersama murid-murid les anak Ci Bertha yang bayarin saya ke Singapura


Perjalanan awal nan gratisan ini pun kemudian membakar niat saya untuk merambah ke negara-negara lain yang lebih jauh. Berbekal buku Traveling di Asia Tenggara dengan modal 5 juta karya Mbak Claudia Kaunang, saya pun berhasil menggaet dua teman saya bergabung ngider dari Phuket (Thailand) nurun sampai Malaysia. Dari perjalanan ini saya mengenal penginapan dormitory dimana irama dengkuran berbagai bangsa sama saja suaranya. Di Phuket kami di dorong rasa penasaran “disambut” riuh oleh satu gang ramai dengan perempuan-perempuan cantik yang ternyata berjakun. Untung kami berhasil melarikan diri keluar dari gang separuh neraka tersebut. Uniknya, saat pagi saya melihat salah satu dari waria tersebut bersimpuh dihadapkan seorang biksu yang kemudian mendoakan sang waria. Thailand membuka mata saya akan pentingnya menghargai perbedaan tanpa menghakimi dan menerima tanpa melihat latar belakang. Di Malaysia, kami mengenal nikmatnya Nasi Kandar yang selalu bikin nagih dan ajaibnya negara yang masih satu rumpun dengan kita ini. Disinilah saya bisa selalu tersenyum karena teman saya yang nota bene guru Bahasa Indonesia menggaruk-garuk kepala berusaha mencari tahu arti kata-kata dalam bahasa Melayu dan konteksnya. “ Lu pikir Pintu Kecemasan itu apa?” tanyanya kepada saya. Perdebatan semantik yang selalu menghiasi langkah kami selama di Penang,Kuala Lumpur dan Melaka bahkan Singapura.

My first backpacking trip to SEA, ini somewhere in Phuket


Sayangnya pengalaman travel bersama grup kecil ini tiada lanjutannya. Kami yang setelah menghabiskan waktu 10 hari bersama akhirnya tak pernah lagi pergi bersama. Sibuk dan masing-masing punya prioritas sendiri. Lah saya gimana? Malah uda ketagihan Traveling pula. Akhirnya saya pun kemudian belajar menerima fakta bahwa kesendirian bukanlah penghalang untuk mencapai tujuan. Kesendirian adalah peluang untuk mengenal diri dan mencapai apa yang selalu terhalang ketika bersama dengan orang lain.

Sendiri bukan berarti kesepian. Sendiri adalah berdua. Aku dan diriku. (Vernazza, 2015)

Langkah saya selanjutnya kemudian membawa saya ke Turki, Italy,Yunani (negara-negara yang berhasil merebut hati saya dan menggantikannya dengan kenangan akan Shish Kebab, Baba Rum, dan Souvlaki). Sendirian saya berpetualang mengikuti jejak Constantine Agung, Santo Paulus, Spartacus, James Bond dan tentu saja Hurrem si jelita. Di Italy saya belajar kalau berdiri di pojok gerbong Metro paling belakang dengan topi, kacamata hitam dan ekspresi konstipasi akan membuat anda dijauhi copet. Di Yunani, saya sadar hidup dan mati adalah kehendakNya namun naik motor ke bukit melalui jalur tepi jurang adalah cara yang salah untuk menemui Sang Khalik.

Santorini, 2015. 1 jam sebelum nyaris mati di tebing ketiup angin

Di Turki saya belajar tidak semua orang yang memanggilmu “brother” adalah your “brother” dan tidak semua orang yang dilabel buruk bener-bener jahat. Di Sultanahmet saya bertemu dengan seorang turis asal Indonesia yang dijebak oleh scammer kemudian menguras isi dompetnya. Awalnya sang scammer sangat ramah dan mengajak si turis untuk minum-minum. Terbuai oleh keramahan dan panggilan “brother” si turis pun akhirnya masuk jebakan sang scammer. Di pinggiran sawah tak jauh dari kota kuno Sardis, saya yang kepanasan dan malas berjalan jauh ke jalan raya menumpang mobil yang ternyata diawaki oleh orang-orang Kurdi. Ketika memperkenalkan asal usul mereka, saya langsung parno dan mengabari keluarga di rumah kalo-kalo saya diculik. Namun asumsi saya salah, mereka malah mengantarkan saya ke terminal bis terdekat dan memastikan saya naik bis yang tepat. “this is my phone number, call me if you have problem.” Katanya sambil menulis nomor HP di kertas.

Teman-teman Kurdi saya di Turki


Setiap perjalanan adalah guru bagi saya dan selalu ada sesuatu yang bisa saya pelajari entah itu baik atau pun buruk. Entah bersama teman atau pun sendirian, selalu ada hal baru yang bisa saya alami dan pelajari. Semua rangkaian pengalaman ini kemudian bisa menambah pandangan saya terhadap keragaman umat manusia dan karyanya. Sebagai seorang guru, saya pun pede ketika menjelaskan tentang sejarah Colosseum, Kuil Parthenon, sampai sejarah kelam Polpot dengan Khmer Merahnya. Ketika ngobrol dengan teman-teman Kristen saya, saya pun bisa membagi pengalaman saya ketika mengunjungi situs-situs kota kuno di Injil. Kepada teman-teman muslim saya, saya bisa berbagi pengalaman mengenai meriahnya saat Iftar di Istanbul. Traveling merupakan guru saya yang terbaik dan beliau selalu mengisi saya dengan pengetahuan, kenangan dan pengalaman yang dinamis dan tidak berhenti di saya.

“Travelling. It leaves you speechless, then turns you into a storyteller.”—Ibn Battuta.