Cesme, Antara Keindahan Laut Turquoise dan Kenangan Masa Silam

” Lu ke Turki melulu, kayak gada tempat lain aja.” tanya beberapa teman saya yang sepertinya heran melihat sebagian besar postingan sosmed saya isinya foto-foto liburan di Turki. Kalo dipikir-pikir bener juga. Dari tahun 2014 sampai sekarang (2019), total saya sudah mengunjungi Turki sebanyak 5 kali. Si Nyonya pun mesti maklum jika saya sering menonton video Youtube tentang travel Turki saat santai. Sepertinya saya ketagihan Turki. Seorang Turcophile, rasanya. Bagaimana tidak, selalu ada tempat menarik yang ingin saya kunjungi di Turki seperti Cesme, sebuah kota kecil di pesisir barat Turki.

Berawal dari niat mulia ingin menularkan kecintaan saya kepada Turki, saya membuka open trip Turki tahun lalu. Saya ingin membawa trip ala saya yang fokus ke budget dan petualangan kepada teman-teman pembaca blog Guru Kelana. Singkat kata, saya berhasil mengumpulkan 9 orang yang siap bertualang bersama saya di Turki. Tujuan yang saya pilih masih mainstream, IstanbulEfesusPamukkaleCappadocia, alias tempat yang biasa dikunjungi oleh turis kebanyakan kalo pergi ke Turki. Saya sudah pernah beberapa mengunjungi tempat tersebut dan naluri petulangan saya menjerit ketika menyusun itin. “I need to visit some new places.” batin saya berseru. But where? Setelah menatap peta Turki dari Lonely Planet, saya pun kemudian memutuskan untuk mengunjungi Cesme dan Alacati, dua kota pesisir sekitar dua jam dari Izmir.

Bis Cesme Sehayat
Menunggu bis datang

Setelah beristirahat semalam penuh dan menikmati kahvalti yang kaya serat, kami pun siap berangkat menuju destinasi pertama kami di Turki yaitu Cesme. Hari ini adalah Idul Fitri hari kedua dan kami beruntung akses transportasi dan fasilitas penunjang turis masih buka seperti biasa. Tidak ada yang berubah di sini, layaknya hari biasa toko-toko tetap buka dan restoran penuh pengunjung. Yang beda adalah, kita tidak usah membayar ongkos metro dan bis karena Pemda Izmir menggratiskan transportasi umum selama liburan Idul Fitri. Kami pun melangkah masuk ke metro menuju stasiun Fahrettin Altay dengan tanpa membayar apapun. Ah saya suka hal gratis hahaha. Bis menuju Cesme terparkir di terminal Uckuyular yang lokasinya tak jauh dari stasiun Metro Fahrettin Altay. Bis yang juga menuju Alacati ini sangat ramai di musim panas. Ketika kami menunggu bis datang, sudah ada belasan turis yang juga menunggu bis Cesme Sehayat. Untungnya, tak lama setelah satu bis penuh meninggalkan kami, bis lain yang masih kosong datang menyambut kami yang langsung berebutan tempat duduk dengan turis lainnya. Liburan musim panas di Turki memang greget.

Cesme terletak di ujung barat Turki sekitar 85 kilometer dari Izmir. Kota yang berhadapan langsung dengan Pulau Chios, Yunani ini terkenal sebagai kota pelabuhan sejak zaman Romawi. Karena lokasinya yang strategis, kota ini juga merupakan persinggahan para saudagar yang berlabuh serta pasukan penakluk yang membutuhkan jalur logistik yang aman. Sultan Beyazid, putra Sultan Mehmet yang menaklukkan Constantinople, membangun benteng di Cesme yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Cesme juga terkenal akan populasi penduduk beretnis Yunani yang dulu tinggal di kota ini. Di segala penjuru Cesme, anda bisa menemukan bangunan rumah, jalan, serta gereja yang dibangun oleh etnis Yunani dulu.

Setelah melewatkan satu jam di bis sambil menikmati pemandangan kota Izmir dan jalur pesisir Turki yang lancar, kami tiba di Cesme. Supir bis hanya menunjuk ke arah jalan yang kiri-kanannya terdapat toko dan restoran sambil berkata, ” Cesme Kalesi” yang artinya benteng Cesme. Rombongan kami berjalan sambil sesekali berhenti melihat toko-toko dan restoran yang nampak sepi. Jalanan berbatu khas kota lama terbentang dengan bendera-bendera Turki mini tergantung menghiasi kota yang sudah indah ini. Mirip Bodrum, kota pantai yang saya kunjungi bersama si Nyonya tahun lalu. Bunga Bougenville yang merekah dengan indahnya menghiasi salah satu sudut jalan. Rombongan kami pun berhenti di salah satu sudut jalan tak jauh dari gereja Ayios Harambolos. Sebuah taman dengan kursi dan cafe di sisi jalan menarik perhatian kami. “Ngeteh dulu yuk, ga usah buru-buru. Kita santai aja dulu disini.” saranku yang udah ngiler ngeliat beberapa penduduk lokal duduk santai menikmati Cay dan Borek. Tanpa menunggu lama, kami pun kemudian duduk di kursi kayu di pinggir jalan sambil menikmati cay, teh hitam pengganti kopi kebanggaan orang Turki. Angin semilir yang bertiup perlahan membelai kami yang sudah mulai berkenalan dengan teriknya mentari di pesisir Turki. Rumah berbatu yang sekarang sudah berubah fungsi menjadi toko roti di seberang kami mengingatkan saya pada salah satu sudut kota Rhodes yang pernah saya kunjungi beberapa tahun lalu. Sungguh saya merasa berada di Yunani daripada Turki.

Gereja Ayios Harambolos

Setelah menghabiskan waktu sejam lebih di Cafe Cinaralti, kami pun berjalan menuju arah marina. Namun baru beberapa langkah kami berjalan, perhatian kami teralihkan oleh sebuah pintu menuju gereja. Ayios Harambolos, nama gereja ini. Sekarang hanya sebuah bangunan tempat pameran lukisan. Gereja yang cukup besar ini sekarang tidak lagi berfungsi sebagai tempat ibadah. Umat gereja ini telah migrasi ke Yunani pasca Perang Yunani-Turki, meninggalkan bangunan gereja dan kehidupan di Cesme. Beberapa mosaik masih terlihat menghiasi dinding gereja, menimbulkan suatu perasaan haru bagi yang menatapnya. Kami meninggalkan gereja dan kali ini kami terus berjalan sampai mata kami menangkap pemandangan laut dengan warna biru kehijauan.

Kawasan Marina

Konon legiun Napoleon yang terkesan dengan warna laut di sekitaran pesisir barat Turki menamai warna biru kehijauan ini Turqouise yang berarti warnanya orang Turki. Warna Turqouise ini menyambut kami ketika sampai di marina. Kapal-kapal kecil berlabuh di pelabuhan Cesme dan nun jauh disana, beberapa kapal kecil berlayar mengikuti arah ombak. Bangunan batu besar nan kokoh terlihat tak jauh dari marina. Tanpa harus menebak nama bangunan ini, kami tahu kalau kami sudah sampai di Cesme Castle.

Untuk masuk ke benteng Cesme, kita perlu membeli tiket masuk atau menggunakan Turkey Museum Pass. Jika anda ingin menghemat pengeluaran anda ketika mengunjungi museum atau tempat bersejarah di Turki, maka anda kudu membeli kartu ini. Bayangkan dengan hanya 315 Lira, anda bisa mengunjungi semua museum di Turki. Bermodal kartu ini, kami pun memasuki halaman benteng Cesme. Bangunan benteng Cesme terlihat kokoh khas benteng Eropa dengan struktur berlapis dan tangga yang curam. Jalan antara satu dinding benteng dengan yang lain dibuat terbuka agar memudahkan mobilitas pasukan pertahanan bergerak dan juga memaparkan pasukan musuh dari serangan atas. Beberapa ruangan dalam benteng sekarang menjadi museum yang menyimpan banyak barang peninggalan bangsa Yunani, Romawi dan juga Ottoman Turki. Banyak Amphorae (kendi tanah liat tempat menyimpan anggur atau minyak), koin zaman romawi, dan patung dewa dewi yang bisa kita lihat disini. Sebagian besar benda-benda kuno ini ditemukan di perairan sekitar Cesme yang memang sejak dari dulu merupakan tempat berlabuhnya kapal dari berbagai bangsa.

Setelah mengunjungi beberapa ruang di benteng, kami berjalan menaiki tangga ke atas puncak benteng. Tangga batu yang curam menuju puncak benteng tidaklah merupakan penghalang bagi kami yang masih bersemangat 45. Apalagi ketika sampai di puncak benteng dan menikmati pemandangan Cesme yang indah, kami sudah lupa rasa lelah naik tangga. Kapal pesiar dan kapal-kapal kecil di pelabuhan tampak menghiasi lautan biru benar-benar membuat betah mata memandang. Sinar matahari yang hangat serta angin sejuk yang bertiup membuat kami betah berlama-lama disini. Kami sibuk berfoto dan mengabadikan kenangan kami di Cesme sampai akhirnya kami sadar bahwa kami masih ada tujuan selanjutnya yaitu Alacati.

Further info:

  1. Cesme dapat dicapai dengan kombinasi metro dan bis. Jika anda tinggal di kawasan Basmane, anda bisa menumpang metro menuju stasiun Fahrettin Altay dan menumpang bis Cesme Sehayat menuju Cesme. Anda bisa juga menumpang bis Cesme Sehayat dari Otogar Izmir namun untuk mencapai Otogar Izmir, anda perlu menumpang bis atau taxi.
  2. Cesme dan Alacati terletak berdekatan dan dapat dicapai dengan dolmus yang selalu berkeliling dari Cesme, pantai Ilica dan Alacati. Anda cuma bayar sekitar 2 lira untuk sekali naik.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s