Istanbul dari Sisi yang Lain : Fener dan Balat

Kapal Ferry Kadikoy-Eminonu merapat di dermaga Eminonu. Kami yang masih terlena dengan lantunan merdu sang pengamen kemudian sadar kami harus turun dari kapal Ferry ini. 20 menit yang sangat berkesan. Pemandangan indah Selat Bosphorus, irama mendayu dari sang pengamen, kicauan burung camar yang terbang rendah di sisi kapal. Semua ini hanya 3 lira saja.

Kami pun bergegas berjalan menuju terminal bis Eminonu yang terletak tak jauh dari dermaga Eminonu. Suasana hangat kawasan Eropa pun langsung menyambut kami. Pedagang simit di pinggir dermaga duduk santai ngobrol dengan temannya sambil menggerak-gerakkan tangannya. Mirip orang Italia yang suka memainkan gesture tangannya ketika berbicara. Sepertinya penduduk di sekitaran laut Mediterania memang sangat ekspresif dan hangat. “Balik Ekmek! Balik Ekmek!” seru penjual sandwich ikan dari perahunya yang bergoyang mengikuti alunan ombak. Balik Ekmek, roti isi ikan sarden dan bawang, merupakan makanan khas wilayah pesisir Turki dan tempat terbaik untuk menikmati roti ini adalah Eminonu. Namun kali ini, kami harus melewatkan kesempatan untuk menikmati Balik Ekmek. Perut lapar kami bisa menunggu namun naluri bertualang kami tak sabar lagi untuk menjelajah.

Fener dan Balat tujuan kami kali ini mungkin terdengar asing bagi turis Indonesia yang biasanya hanya mengunjungi kawasan Sultanahmed dan Taksim. Fener dan Balat terletak di luar dari orbit turis mainstream dan belakangan ini mulai booming di mata para penikmat fotografi. Terletak di tepi Golden Horn, selat kecil yang menjorok memisahkan bagian Eropa Istanbul, Fener dulunya merupakan tempat tinggal para penduduk Istanbul yang beragama Kristen Orthodox. Para penganut Kristen Orthodox yang sebagian besar merupakan etnis Yunani ini tinggal dan membangun gereja-gereja indah sebagai tempat ibadah mereka. Sekarang Fener merupakan tempat yang asik untuk sekedar berjalan-jalan menikmati jalan-jalan sepinya yang membentang di antara bangunan perumahan tua yang masih berjuang untuk berdiri.

Setelah menumpang bis 48E dari Eminonu, kami berhenti di tepi jalan menuju Fener. Bangunan besar berwarna merah terlihat menjulang mendominasi bangunan-bangunan kayu lapuk disekitarnya. Red School atau Phanar Greek Orthodox College, bangunan megah mirip istana ini merupakan sekolah Yunani terbesar di Turki. Sekolah yang didirikan pada abad ke 15 ini merupakan pusat pendidikan bagi etnis Yunani setelah penaklukan Constantinople oleh wangsa Ottoman. Ada banyak pejabat di Kesultanan Ottoman yang merupakan alumni dari sekolah ini. Sayangnya pasca runtuhnya kesultanan Ottoman dan memburuknya hubungan antara Yunani dan Republik Turki membuat pamor sekolah ini menurun. Masih ingat tragedi pertukaran penduduk minoritas Yunani Kristen Orthodox di Turki dengan minoritas muslim Turki di Yunani? Akibat dari pertukaran penduduk ini, populasi etnis Yunani Orthodox di Fener semakin menurun dan berdampak buruk pada sekolah ini. Bangunannya yang megah dan dulunya menampung banyak murid sekarang hanya segelintir saja yang masih bertahan. Tak jauh dari sekolah ini terdapat bangunan yang sangat penting bagi umat Kristen Orthodox yaitu Ecumenical Patriarchate of Constantinople. Layaknya Vatican bagi umat Katolik, Ecumenical Patriarchate of Constantinople adalah pusat dari agama Kristen Orthodox. Pemimpin besar Kristen Orthodox sekarang yaitu Patriarch Bartholomew I tinggal di sini. Fener yang terletak tak jauh dari pusat Kekaisaran Byzantium di masa lampau merupakan pusat Kristen Orthodox. Walaupun wilayah kekaisaran Byzantium sekarang didominasi oleh Muslim Turki, para pemeluk agama Kristen Orthodox tetap menaruh Constantinople (nama lama Istanbul) di tempat terhormat.

St George’s Cathedral

St George’s Cathedral, tempat Ecumenical Patriarch berada sekarang, merupakan bangunan gereja sederhana yang sempat membuat saya berpikir kalau saya nyasar. Bagaimana mungkin pusat agama Orthodox menempati bangunan yang begitu sederhana? Saya pernah mengunjungi beberapa gereja Orthodox di Yunani yang lebih megah daripada St George’s Cathedral. Ternyata sebelum penaklukan Constantinople oleh Mehmet II, pusat dari agama Kristen Orthodox adalah Hagia Sophia yang megah itu. St George’s Cathedral adalah pusat Kristen orthodox pasca penaklukan. Bangunan gereja yang tampak sederhana di luar ini ternyata menyimpan keindahan khas gereja Orthodox. Lukisan para kudus yang humanis, ornamen bangunan yang dihias dengan ukiran emas serta relik-relik suci yang disimpan dengan penuh hormat bersemayam di bangunan gereja ini. Suasana damai dan penuh haru mengingat betapa pentingnya bangunan ini secara historis dan reliji. Kami pun kemudian melangkah keluar dari bangunan bersejarah ini dan ketika mataku melihat lilin-lilin menyala, doa pun kuhaturkan, “Semoga Tuhan selalu memberkati dan menjaga tempat ini.”

Beranjak dari Fener, kami pun berjalan menuju gereja St Stephen di kawasan Balat. Gereja megah yang dibangun dengan rangka besi ini dibangun oleh minoritas Bulgaria yang menginginkan gereja sendiri. Gereja ini terlihat lebih megah dibandingkan dengan St George’s Cathedral dan setiap ruang di dalamnya dihiasi ukiran dan ornamen Orthodox yang indah. Kami menghabiskan waktu setengah jam menikmati keindahan gereja ini dan sekedar berlindung dari panasnya sinar mentari yang bersinar dahsyat siang itu. Gereja St Stephen berada di kawasan Balat yang bertetanggaan dengan kawasan Fener. Balat merupakan tempat etnis Yahudi tinggal dan sekarang kawasan ini terkenal dengan bangunan-bangunan tuanya yang sangat instagrammable. Jika anda pecinta fotografi, Balat merupakan tempat yang ideal. Rumah-rumah kayu yang lapuk, bangunan khas eropa yang menua serta jalan berbatu dengan toko atau cafe tempat penduduk lokal menikmati cay (teh) akan membuat anda tidak berhenti memotret. Saya dan nyonya pun demikian. Kami seolah berada di masa lalu dengan bangunan serta nuansanya yang kuno.

Cafe di Balat
Toko antik
Pasar rakyat di Balat
Kawasan Balat

Saya pun kemudian iseng menikmati secangkir Turkish Coffee di salah satu cafe di Balat. Duduk menikmati suasana sambil mengisi energi dengan secangkir kafein yang kuat adalah suatu kenikmatan tersendiri. Saran saya bagi teman-teman yang ingin mengunjungi kawasan Balat dan Fener, jangan menganggap tempat ini sama seperti Sultanahmed dengan Hagia Sophia, Blue Mosque, Hippodrome dan tempat wajib kunjung lainnya. Balat dan Fener adalah tempat dimana anda mengembara bebas menikmati selasar bangunan tua yang mulai lelah dimakan waktu, duduk menikmati secangkir cay sambil bercengkrama dengan penduduk lokal yang akan penasaran dengan kehadiran anda di lingkungan mereka, atau sekedar mampir ke pasar dan menikmati buah-buahan dengan harga miring. Fener and Balat are places to unwind and ponder that even decaying beauty can still charms and captivates mankind.

Advertisements

6 thoughts on “Istanbul dari Sisi yang Lain : Fener dan Balat

    1. Sayangnya mereka ga bisa bahasa Inggris. Banyakan org lokal yg kesini,jrg yg bahasa Inggris. Banyak yg bikin u sedih kalau ke Istanbul,tapi itulah fakta sejarah. Kerajaan datang dan pergi,kita sebagai penerus peradaban yah belajar dari masa lalu dan belajar lebih baik lagi haha. Kok jadi ceramah wmwk

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s