Istanbul dari Sisi yang Lain : Kadikoy, My Asian Home

Pegasus Air mendarat di bandara Sabiha Gokcen tercinta. Kami yang baru saja terbang dari Bodrum subuh tadi langsung disambut oleh cerahnya sinar mentari pagi Istanbul. Bagian Kedatangan Domestik Sabiha Gokcen masih sepi saat langkah kaki kami berjalan melewati gerbang masiuk. Sungguh kontras dengan kondisi setahun kemarin saat kami ketinggalan pesawat menuju Kayseri karena antrian imigrasi yang luar biasa mengular. Kenangan yang masih membekas pada si Nyonya yang masih sebel jika mendarat di Sabiha Gokcen.

Tanpa berlama-lama di Sabiha Gokcen, kami pun kemudian berjalan keluar mencari bus havas menuju Kadikoy, daerah Istanbul bagian Asia yang menjadi tempat menginap kami selama 3 hari ke depan. Namun antrian panjang penumpang yang mengantri bis Havas begitu mengular sehingga kami kemudian memilih naik bis umum menuju Kadikoy. Bermodal Istanbulkart kami pun kemudian menumpang Bis no. E-11 menuju Kadikoy. Berbeda dengan bis Havas yang langsung menuju Kadikoy, bis umum ini membawa kami keliling-keliling di Asia sampai perut kami yang baru diisi roti dan kopi keroncongan. Kami baru sampai di Kadikoy setelah sejam lebih berada di bis.Normalnya naik Havas hanya sekitar 40 menit tapi naik bis umum tentu lebih murah dan merupakan pengalaman tersendiri menikmati pemandangan bagian Istanbul yang jarang dikunjungi turis.

Sesampainya di terminal bis, kami langsung bergegas keluar dan mata tajam si Nyonya langsung melihat pelang “Cafe Elif” yang terletak tak jauh dari bis menurunkan kami. Kami pun kemudian memesan dua kebab ayam gulung (Tavuk Durum) dan dua botol Coca Cola. Dan ini semua hanya seharga 20 Lira alias Rp 60 ribu saja! Kadikoy memang menawarkan harga makanan yang lebih murah dibandingkan area Sultanahmet yang memang kawasan turis. Kadikoy merupakan tempat orang Istanbul asli tinggal dan bekerja. Harga disini biasanya dipatok untuk penduduk lokal sehingga relatif lebih murah. Kali ini kami ingin menikmati liburan di Istanbul dari sisi yang berbeda.Tidak memulai dari Sultanahmet seperti turis pada umumnya, tapi kami memulai dari Kadikoy.

Harga makanan di Cafe Elif

Kadikoy atau Chalcedon di masa lalu merupakan wilayah yang sudah dihuni sejak ribuan tahun silam. Dalam perkembangan sejarah, wilayah Kadikoy ini kemudian termasuk dalam kota Istanbul yang tadinya hanya berpusat di kawasan Sultanahmet saja. Kadikoy sekarang merupakan tempat tinggal penduduk Istanbul dengan keramaian otentik penduduk lokal, tidak seperti kawasan Sultanahmet yang lebih didominasi oleh turis. Tinggal di Kadikoy berarti hidup dalam nuansa asli penduduk perkotaan Turki. Para pejalan kaki yang terlihat sibuk mondar mandir menyebrang jalan ke dermaga Kadikoy, mobil dan bis yang saling berpacu dan kadang kurang menghiraukan pejalan kaki yang masih menyebrang walau lampu merah sudah menyala, pedagang simit dan jus yang dengan sabar menunggu pembeli serta suara kicauan burung camar yang sesekali terbang rendah dan mendarat. Keramaian yang membuat semua indra anda terkepung dan sibuk menerjemahkannya ke ingatan anda.

Kadikoy

Langkah kaki kami sampai di Muhurdar Caddesi, tak jauh dari kawasan Moda, tempat anak-anak gaul Istanbul menghabiskan malam dengan raki dan mezes. Sule dan suaminya menyambut kami dengan ramah dan bahkan membantu membawa koper si Nyonya masuk ke kamar. Apartemen Sule merupakan apartemen airbnb pertama yang kami coba di Istanbul. Kamarnya nyaman dengan kasur yang empuk dan pencahayaan alami yang membuat kami betah disini.

Setelah beristirahat sejenak di apartemen, kami pun kemudian melanjutkan petualangan kami ke sisi lain dari Istanbul. Kami akan mengunjungi tempat non-mainstream yang jarang dikunjungi oleh turis kebanyakan. Sebagai pembuka, kami akan mengunjungi kawasan Fener dan Balat yang terletak di kawasan Eropa Istanbul. Bermodal Istanbulkart, kami langsung menumpang kapal ferry jurusan Kadikoy-Eminonu untuk menyebrang dari benua Asia menuju Eropa. Mungkin hanya di Istanbul, orang dapat menyeberang dua benua hanya dalam waktu kurang dari setengah jam. Sebenarnya kami bisa menyebrangi Selat Bosphorus yang memisahkan Asia dan Eropa ini dengan kereta Marmaray Line namun saya lebih suka naik ferry. Kenapa? Karena dengan naik ferry saya bisa santai sejenak menikmati pemandangan indah kawasan Sultanahmet dari kejauhan. Hagia Sophia dan Blue Mosque yang bersanding dengan anggunnya, kompleks istana Topkapi yang gagah serta tembok laut peninggalan Kekaisaran Byzantium yang masih bertahan melindungi kawasan ini meski sudah berganti tuan. Semua pemandangan ini dapat kami nikmati seiring dengan suara petikan alat musik tradisional Turki dan lantunan suara sang pengamen yang menggugah perasaan. Sungguh jauh menyenangkan daripada duduk di metro dengan pemandangan gelap gulita di luar jendela.

Further Info:

Buat teman-teman yang ingin mencoba menginap ala Airbnb,silahkan gunakan kode referal saya untuk mendapatkan potongan sebesar 28 Euro untuk biaya penginapan Nih link kodenya : Potongan AirBnB . Anda hanya perlu klik dan join Airbnb melalu link diatas dan voucher 28Euro akan ditambahkan di account anda. Silahkan mencoba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s