Santorini : There and back again

Pesawat Volotea mendarat dengan mulus di bandara Santorini yang mungil. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam di pesawat kami pun sampai di Santorini dan kali ini kami sampai di tengah malam. Ya, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan tidak ada lagi kendaraan umum yang dapat mengantarkan kami ke Perissa, desa tempat kami menginap di Santorini. Untungnya, saya sudah memesan shuttle dari Shuttledirect.com untuk mengantar kami di tengah malam ini. Ketika keluar dari bandara, kami sudah disambut banyak supir yang memegang kertas putih bertulisan nama penumpang jemputan mereka. Seorang pria bertato memegang kertas bertulisan nama saya dan seorang penumpang lain. Si supir yang tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancar langsung tersenyum melihat saya menghampirinya dan meminta saya menunggu penumpang yang lain.Satu orang lagi penumpang yang akan ikut shuttle ini. Kami pun menunggu di bandara sambil dihembus angin malam yang lumayan kenceng. Bandara Santorini sangat kecil dengan fasilitas yang sangat terbatas. Ruangan tunggu pun sederhana dan jangan bandingkan dengan bandara Changi, sama bandara Polonia Medan jadul pun kalah besar. Ada beberapa toko yang menjual makanan namun harganya lebih mahal dari harga barang di pusat kota. Jika anda tidak memesan shuttle atau jemputan dari hotel, maka opsi anda satu-satunya adalah taksi. Karena terbatasnya taksi di bandara Santorini, terkadang anda akan berbagi tempat duduk di taksi bersama turis lain dan masih membayar harga yang sama. So, make sure anda memesan shuttle atau jemputan dari hotel jika anda sampai di Santorini di tengah malam.

Setelah menunggu selama 40 menit untuk seorang penumpang lain yang tak kunjung datang, akhirnya si sopir pun tidak sabaran dan memutuskan untuk berangkat walaupun penumpangnya hanya kami berdua. Shuttle yang berupa mobil van dengan lampu dalam yang berwarna biru ala diskotik tahun 90an ini kemudian berangkat ke Perissa dalam gelapnya malam. Jarak antara bandara dan Perissa ditempuh hanya dalam waktu setengah jam saja. Kami pun sampai di Marousi Rooms jam setengah 12 malam disambut oleh seorang pria setengah baya yang sudah menunggu kami. Marousi Rooms mungkin penginapan paling murah yang berhasil saya dapatkan di Santorini. Satu kamar berdua dengan kamar mandi dalam hanya 400rb semalam dan harga ini tergolong murah karena bulan ini tergolong high season. Ah penginapan murah namun nyaman ini pun menjadi tempat kami beristirahat malam ini dan 2 malam ke depan.

Marousi Rooms

Kamar kami di Marousi Rooms
Pemandangan dari depan kamar

Suara lonceng gereja berbunyi membangunkan saya dari tidur. Sinar mentari bersinar dengan terangnya menembus jendela kamar kami. Pagi sudah datang dan saya tertarik untuk melihat ada apa di sekitar penginapan kami. Gelapnya malam menghalangi pandangan kami semalam dan saya bisa melihat ada apa di sekitar kamar kami. Bangunan-bangunan putih dengan jendela biru serta lembah bukit gersang di belakangnya membuai mata saya. Ya…saya sudah berada di Santorini. Tanpa ingin membangunkan si Nyonya yang nyenyak tertidur, saya pun berinisiatif mencari tempat menyewa motor dan sarapan. Saya berhasil mendapatkan sebuah kios penyewaan motor yang sudah buka pagi itu. Moto Manos yang diawaki oleh satu keluarga Yunani yang ramah menyewakan sebuah motor 150cc seharga 70 euro untuk 3 hari. Sang ayah meminta syarat berupa SIM INTERNATIONAL sebelum melepas kunci kepada saya. Hal ini berbeda dengan kunjungan saya pada tahun 2015 dimana saya hanya menunjukkan SIM C biasa. “Insurance won’t cover you if you don’t have a proper license.” katanya. Well, ini make sense karena banyak turis yang tidak berpengalaman naik motor iseng naik motor dan kemudian mengalami kecelakaan.

Berhasil mendapatkan motor sewaan, saya pun kemudian mencari toko roti untuk mencari sarapan. Bakery atau φούρνος (baca : Fournos) adalah tempat yang paling ideal untuk nyari sarapan murah di Santorini. Jejeran roti dan kue yang enak menunggu pelanggan datang untuk membeli. Beragamnya roti dan kue juga membuat para pecinta roti memiliki banyak pilihan. Dua buah roti berukuran besar dan segelas kopi Yunani hanya 7 Euro saja. Memang sekilas terdengar mahal namun roti di Santorini berukuran besar dan cukup mengenyangkan. Usai menikmati sarapan, saya pun kembali ke Marousi Rooms untuk bersiap memulai petualangan kami di Santorini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s