Kehangatan Bari dan Makam Santa Klaus di Italia

Setelah membuka mata dan terbangun dengan badan yang fresh, satu hal yang terbersit dalam pikiran saya adalah,” Ini kasur enak banget yak..”. Seumur-umur saya belum pernah mengalami tidur yang begitu memuaskan selain di tempat ini. Kasur memory foam di Korelle B&B ini sungguh membuat saya kepengen punya. Si Nyonya pun berpendapat sama. We have to get one of these beds.

Hari ini adalah hari terakhir kami di Italia. Malam nanti kami akan naik pesawat Volotea menuju Santorini, Yunani. Kami memutuskan untuk menghabiskan hari di Bari, kota pelabuhan Italia yang terkenal sebagai pintu untuk menuju negara lain di sekitar Laut Mediterania seperti Kroasia, Yunani, Albania, dan bahkan Montenegro. Bari memegang peranan yang cukup penting dalam sejarah bangsa Eropa sejak abad pertengahan. Kota pelabuhan ini merupakan titik keberangkatan para peziarah menuju Jerusalem dan juga merupakan pusat perbudakan di zaman tersebut. Begitu berharganya Bari, berbagai bangsa berusaha menguasai kota ini. Dari Kekaisaran Byzantium, suku Lombards, petualang Normandia, sampai Kesultanan Abbasiyah berusaha menguasai kota ini. Prestise Bari pun semakin meningkat dengan keberhasilan kota ini menampung relik Santo Nicholas alias Santa Klaus yang asli dari Bari. Konon beberapa pedagang Italia “mengamankan” relik tersebut dari Myra, sebuah kota di Turki yang sekarang bernama Demre. Relik berharga dari Santo yang baik hati nan pemurah namun keras pada pemeluk aliran sesat ini kemudian disimpan di Basilica San Nicola.

Usai menikmati sarapan pagi yang melimpah, kami pun kemudian berangkat menuju Bari dengan kereta. Ketika berpergian di Italia, saya selalu lebih menikmati perjalanan dengan kereta dibanding dengan bis. Hal yang sama saya rasakan ketika menumpang kereta dari Matera Centrale menuju Bari Centrale. Duduk di kereta yang modern sambil menikmati pemandangan ladang menguning dan langit berawan sungguh menenangkan hati. Tak terasa dua jam berlalu dan kami pun tiba di Bari.

Begitu keluar dari Bari Centrale, kami langsung berhadapan dengan jalan-jalan lurus dengan gedung-gedung perumahan dan toko di bawahnya. Kawasan tempat kami berada ini adalah wilayah modern Bari yang baru dibangun pada tahun 1960an. Layaknya kota Italia Selatan, Bari menawarkan suhu yang relatif lebih hangat dibandingkan kota-kota Italia di bagian tengah dan utara. Sinar mentari terasa kuat menyinari kami yang mulai menikmati kehangatan sinar matahari setelah selalu kedinginan dari awal perjalanan kami di Eropa. Kami pun berjalan menuju kota tua Bari yang sekitar 20 menit jalan kaki dari Bari Centrale. Itin kami hari ini sederhana, hanya mencari makan dan mengunjungi Basilica San Nicola. Hal-hal lain kami anggap sebagai bonus. Seiring dengan langkah kaki dan juga jam yang sudah menunjukkan pukul 1 siang, kami mendahulukan makan siang sebagai prioritas kami sekarang. Laper oiii..

Bermodal info dari Wikitravel, kami pun menyambangi Vini e Cucina. Vini e Cucina adalah Osteria, restoran sederhana dengan menu yang terbatas dan harga yang murah. Dengan pede kami berjalan ke restoran yang kala itu sedang melayani makan siang. Beberapa pengunjung tampak mengantri di depan dan kami pun ikutan. Dengan bahasa Italia pas-pasan, kami pun kemudian diantar ke meja dan lalu ditelantarkan. Kami yang bingung karena melihat pelayan yang cuma satu orang dan kelihatanya dia sibuk hilir mudik sambil sesekali berteriak dalam bahasa Italia. Waduh..ini mau nanya menunya gimana? Kami pun mengamati para pengunjung dan mendapati mereka pun tidak memegang menu. Ini gimana mesennya? Kami pun berbicara dengan anak muda di sebelah kami dan bertanya bagaimana memesan makanan di restoran ini. Ternyata kami hanya ada tiga menu yaitu salad, pasta dan pilihan antara ikan atau daging. Semua menu ini termasukd dalam paket dan harus dipesan. Lucunya ketika kami berbicara, anak muda ini langsung mengenali bahasa Indonesia yang kami pakai dan langsung menyapa kami dengan ,”Apa kabar?’. Kami langsung heran dan tertawa. Ternyata anak muda ini adalah adalah orang Belanda turunan Jawa yang dulu tinggal di Depok. Kami pun ngobrol soal Jakarta dalam bahasa Indonesia. Seneng rasanya bisa ngobrol dengan orang asing yang paham bahasa sehari-hari kita. Tanpa terasa, si pelayan pun datang dan menanyakan pesanan kami. Kami pun kemudian memesan prosciutto sebagai antipasti (makanan pembuka), spaghetti dan ikan yang kemudian datang dalam bentuk calamari. Ditemani dengan vino el casa, kami pun kemudian menikmati makan siang kami yang luar biasa. Rasanya enak dan walaupun kami hanya memesan satu menu, kami tetap merasa kenyang.

Usai menikmati makan siang di Vini e Cucina, kami pun berjalan di kawasan kota tua Bari. Bangunan-bangunan di kawasan ini lebih tua dan lebih mewakili Bari sebagai kota kuno. Bangunan dengan arsitektur Norman yang kaku serta besar mendominasi tempat ini. Jalanan yang lebih mirip gang juga membuat suasana kota seperti berada di abad pertengahan. Kami pun kemudian sampai di Basilica San Nicola yang kala itu sedang sepi dari pengunjung. Basilica San Nicola didirikan pada abad ke 11 untuk menyimpan relik Santo Nicolaus dan kehadiran relik ini menambah pamor Bari sebagai salah satu pusat kekuatan di Italia Selatan. Kala itu tiap kota bersaing untuk mendapatkan relik santo-santa untuk meningkatkan status mereka. Venesia berhasil mendapatkan relik Santo Markus, Roma memiliki relik para rasul seperti Petrus dan Paulus, Salerno dengan relik Rasul Matius dan lainnya. Basilica San Nicola juga merupakan tempat ziarah penganut agama Kristen Orthodox yang banyak dianut di Eropa Timur seperti Rusia. Alhasil gereja ini memiliki dua altar dibagian Crypt yaitu altar Orthodox dan Katolik. Pada saat kami berkunjung, beberapa ibu-ibu berkebangsaan Rusia nampak khusyuk berdoa di hadapan altar.

Santo Nicholaus dari Bari atau lebih populer dengan sebutan Santa Klaus dilahirkan di Patara, Turki sekarang. Beliau terkenal dengan kemurahan hatinya dan juga keajaiban yang dilakukannya. Santo Nicholaus pernah memberikan beberapa kantong emas untuk menolong wanita-wanita yang hendak menikah namun tidak memiliki uang untuk mas kawin.Kantong-kantong emas ini diletakkan di jendela rumah mereka secara diam-diam. Mungkin kebiasaan ini pula yang menjadikan kebiasaan memberi hadiah pada hari natal. Beberapa legenda dan catatan juga menyebutkan Santo Nicholaus pernah membangkitkan orang mati dan menenangkan badai. Selain baik hati, Santo Nicholaus juga tercatat temperamental. Beliau pernah menampar Arius, seorang uskup yang terkenal dengan ajaran sesatnya Arianisme, saat Konsili Nicaea berlangsung. Santo Nicholaus menjalankan pelayanannya di Myra dan tinggal disana sampai akhir hayatnya. Jenazahnya dikuburkan di Myra namun tulang belulangnya dibawa oleh pelaut-pelaut asal Bari dan kemudian dikuburkan kembali di Basilica San Nicola.

Setelah berziarah ke Basilica San Nicola, kami pun berjalan menyusuri jalan-jalan kota tua Bari yang unik. Jalanan sempit namun rapih,anak-anak yang bermain sepak bola sempat mengingatkan saya pada Napoli namun lebih kecil dan sepi. Di setiap balkon rumah terdapat jemuran baju dan cat bangunan yang mulai pudar menambah suasana kuno kota yang umurnya sudah ribuan tahun ini. Di pinggir jalan terdapat ibu-ibu yang sibuk membuat Orrechiette. Jika anda pergi ke Italia, anda akan menyadari kalau orang Italia memiliki banyak variasi pasta. Kalau yang kita tahu cuma sebatas Fusilli, Spaghetti, Taglietelle dan lainnya, Orrechiette atau telinga kecil adalah jenis pasta kebanggaan penduduk Bari.Ibu-ibu ini membuat Orrechiette dengan tangannya sendiri tanpa bantuan mesin. Unik ya? Setelah berkeliling di kota tua Bari, kami pun merasa haus dan kemudian mampir untuk ngemil Gelato. Teman saya Monique menyarankan kami untuk mencoba Gellateria Gentile yang terkenal enak. Monique mang ga boong, rasanya mantap dan sangat menyegarkan terutama di hari yang panas. Sambil menikmati es krim, mataku melihat sebuah kastil bergaya Norman yang bernama Castello Fossato. Kastil yang dibangun oleh bangsa Normandia yang pernah menguasai Italia selatan ini terlihat tangguh dan kokoh. Sayang sekali kami tidak punya waktu untuk mengunjungi kastil ini. Kami pun kemudian beranjak ke arah Bari Centrale untuk kembali ke Airport.

Ketika berjalan menuju Bari Centrale, kami berpapasan dengan pelabuhan Bari yang indah. Perahu-perahu kecil nampak berlabuh dan jalanan yang ramai dengan kendaraan tampak berdampingan membentuk pemandangan yang indah. Bari mungkin bukan tujuan utama turis menuju Italia, namun merupakan side trip yang ideal bagi yang ingin mengunjungi Italia Selatan. Makanannya, sejarahnya serta suhu udaranya yang hangat membuat betah mampir sebentar disini. Saatnya pun tiba untuk berpisah dengan Bari. Kereta kami meninggalkan Bari Centrale menuju airport Karol Wotjla,Bari dan tak lama lagi kami akan berangkat menuju Santorini, Yunani. Bye Italy and see you soon, Greece.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s