The Passion of Matera

Jika anda membaca tulisan saya kali ini dan heran dengan pilihan judul artikel ini, well…anda mungkin satu dari banyak orang Indonesia yang mungkin belum pernah mendengar nama kota kecil di Italia Selatan ini, termasuk saya yang baru tahu nama Matera sekitar 2 bulan sebelum kami berangkat. Berawal dari ubek-ubek itinerary trip Eropa bersama si Nyonya, saya mencari cara untuk mencapai Santorini dari Dubrovnik. Penerbangan dari Dubrovnik ke Santorini sangat mahal dan akhirnya saya menemukan flight murah dengan Volotea dengan transit satu malam di Bari, Italia. Jadi rutenya Dubrovnik-Bari-Santorini, trus ngapain di Bari? Setelah berguru dengan Om Google, saya pun menemukan Matera, Italia.

Terletak sekitar 2 jam dari Bari, kota pelabuhan terkenal di Italia, Matera merupakan kota tua yang terkenal akan keunikan bentang alam dan bangunan-bangunan di kotanya. Wilayah kota tua ini yang dikenal dengan nama Sassi ini telah dihuni dari abad 10 SM dan menjadikannya sebagai kota tertua yang pernah dihuni terus menerus oleh manusia. Penduduk Matera dulu tinggal di bawah tanah seperti di Cappadocia, Turki. Mereka membangun tempat tinggal mereka mengikuti topografi wilayah mereka yang terletak di ngarai. Penampilan kota ini yang kuno dan orisinil ini menginspirasi  banyak produser film untuk menggunakan Matera sebagai lokasi shooting mereka. Salah satunya adalah Mel Gibson yang terkenal dengan film “Passion of Christ”. Arsitektur dan bentang alam Matera yang kuno konon mirip dengan pemandangan Yerusalem pada abad 1 Masehi. Inilah yang kemudian mendorong banyak produser film mengikuti jejak Mel Gibson untuk menggunakan Matera, seperti film Ben Hur yang terbaru karya Timur Bekmambetov dan Wonder Woman yang dibintangi oleh Gal Gadot yang cantik luar biasa itu.

Setelah menempuh penerbangan selama 50 menit, dan kereta selama 2.5 jam, kami pun sampai di Matera. Matera Centrale, stasiun kereta Matera,terletak tak jauh dari kawasan Sassi yang dapat dicapai dengan berjalan kaki selama 30 menit saja. Kami memilih tinggal di Korelle B&B, penginapan dekat stasiun yang ternyata merupakan rumah penduduk lokal. Awalnya kami merasa kebingungan karena googlemap membawa kami ke kawasan perumahan di belakang stasiun kereta. Tidak ada tanda-tanda adanya bangunan hotel atau penginapan bahkan ketika sinyal GPS sudah menunjukkan kami sampai di lokasi. Eh ternyata, kami sudah berada di depan Korelle B&B yang lebih mirip bangunan rumah penduduk yang besar. Pemilik hotel belum tiba saat kami berada disana. Kami harus menunggu sekitar 10 menit sampai seorang ibu-ibu Italia yang ramah datang dan mempersilahkan kami masuk. Pemiliknya sebut saja Gianluca, saya lupa namanya( maaf ya bang), mengantarkan kami ke kamar yang mungkin merupakan kamar paling keren yang pernah kami tinggali. Kamarnya luas, toilet dan kamar mandinya bersih. Namun yang paling keren adalah ranjangnya yang menggunakan kasur full memory foam yang nyaman itu. Ah ga salah pilih penginapan. 

Setelah menaruh tas dan beristirahat sebentar, kami pun kemudian beranjak keluar dari penginapan menuju Sassi de Matera. Sejak pagi tadi perut kami belum diisi dengan makanan. Jam pun sudah menunjukkan pukul 2 siang dan perut kami sudah protes minta makan. Sialnya, ketika mencari tempat untuk makan siang, kami tidak menemukan satu restoran pun yang buka. Ternyata restoran di Italia (atau setidaknya sekitar Matera) hanya buka di jam makan siang dan kemudian baru buka lagi menjelang makan malam. Kami yang kelaparan pun harus berpuas hati makan kue bayam dan roti di sebuah cafe. Langit Matera yang tadinya cerah pun sekarang berubah mendung, pertanda hujan segera datang. Kami pun kemudian segera berjalan menuju Sassi sebelum hujan tiba.

 Jalanan menuju Sassi di Matera sepi kala kami sampai di bagian kota kuno ini. Toko-toko banyak yang tutup dan tidak banyak pengunjung yang berkeliaran seperti layaknya tempat-tempat wisata di Italia. Langit yang kelabu dengan angin kencang yang berhembus menyambut kami ketika kami berdiri menghadap lembah yang dipenuhi oleh rumah-rumah batu berwarna krem pucat. Bangunan-bangunan yang nampak tua ini memang mengingatkan kami tentang Jerusalem di film Passion of Christ. Aura kuno dan sepi membuat suasana semakin menarik minat kami untuk menjelajah tempat ini. 

Sepanjang karir traveling saya di Italia, saya belum pernah melihat kota dengan struktur seunik Matera. Kota ini dibangun dari batuan lunak seperti di Cappadocia. Hanya bermodal perkakas ringan, penduduk bisa mengukir ruangan di bawah tanah dan membentuknya menjadi rumah. Penduduk Sassi terbiasa tinggal dalam rumah-rumah gua ini dengan kondisi yang kadang memprihatinkan. Penyakit Malaria dan berbagai penyakit lain mendorong pemerintah Italia untuk merelokasi penduduk ke wilayah Matera yang lebih modern. Namun penduduk Sassi banyak yang menolak direlokasi dan tetap tinggal disini. Sassi sebelum terkenal sebagai tempat shooting film Passion of Christ merupakan kawasan yang identik dengan kemiskinan. Namun industri perfilman sedikit demi sedikit mulai meningkatkan kondisi ekonomi penduduk Sassi. Banyak restoran dan cafe mulai bermunculan seiring dengan arus turisme yang mulai berdatangan ke Matera. Sekarang, Matera memang masih kalah pamor dengan Roma, Venice atau kota lain di Italia, namun saya yakin 5 tahun ke depan Matera akan ramai dikunjungi turis mancanegara. 

Setelah menikmati pemandangan Sassi, kami pun melangkahkan kaki kami menuju kota tua ini. Jalanan berbatu khas Italia dan bangunan batu mengantarkan kami ke gereja San Giovanni Battista yang sederhana. Kenapa sederhana? Karena ornamen facade gereja hanya berupa ukiran batu tanpa warna dan hiasan lain seperti gereja di Italia pada umumnya. Uniknya, kami menemukan sebuah bajaj biru di depan gereja. Hmm..kok ada bajaj di Italia ya? Kami pun tidak melewatkan berfoto dengan bajaj ini. Penting ga sih? ya pentinglah..kapan lagi kita bisa foto sama bajaj di Italia? 

Kawasan Sassi terdiri dari jalan-jalan sempit, tangga-tangga batu dan rumah-rumah kuno yang membuat kami sering berhenti untuk berfoto. It does feel like Jerusalem. Imajinasi kami melayang ke scene Via Dolorosa dimana Yesus Kristus memikul salib berjalan tertatih-tatih di salah satu jalan sempit ini. Tidak heran Mel Gibson memilih tempat ini sebagai lokasi shooting Passion of Christ. Setiap sudut Sassi mengingatkan kita akan suasana Jerusalem di masa silam. Ketika kami mencapai Katedral Matera, kami berhadapan dengan lembah dengan sungai di bawah sana. Di lembah tersebut adalah lokasi shooting scene penyaliban di film Passion of Christ. Sayangnya kami tidak punya waktu untuk mengunjungi lembah tersebut karena kami harus mengikuti tour atau menyewa taksi untuk kesana.

Hujan pun mulai turun ketika kami sampai di depan Katedral Matera. Gereja yang kala itu ditutup untuk publik mengurungkan niat kami untuk berteduh. Kami harus berlari mencari tempat untuk berteduh sampai hujan berhenti. Untungnya kami berhasil menemukan satu jalan dengan atap batu yang melindungi kami dari air hujan namun angin dingin yang berhembus membuat kami mengigil kedinginan. Perut kami yang belum diisi makanan beneran membuat situasi ini menjadi lebih buruk. Lapar, dingin, kelaparan pula. Kami pun memutuskan untuk mencari makanan setelah hujan berhenti. Namun, lagi-lagi kami harus menunggu sampai waktu makan malam tiba karena restoran belum ada yang buka. Oh Lord… Kami pun kemudian berjalan menikmati suasana Sassi yang semakin sepi sesudah hujan. Kami sempat mengunjungi sebuah gua yang juga digunakan untuk lokasi shooting film Passion of Christ. Gua ini merupakan tempat tinggal penduduk dulunya, namun sekarang menjadi museum. Di dalam gua ini kita bisa melihat sebuah kapel kecil dan lukisan fresco. Sayangnya, kami dilarang untuk mengambil foto.  Setelah berkeliling selama 2 jam, kami menemukan sebuah restoran yang sudah buka dan rasa lapar kami pun terpuaskan dengan pasta dan steak yang rasanya luar biasa (tentu saja karena kami sangat lapar).

Setelah ngumpet di restoran sambil makan dan menikmati wine untuk menghangatkan badan, malam pun mulai tiba di Matera. Jika anda ingin menikmati Matera pada saat terbaiknya, datanglah pada malam hari. Pemandangan indah lampu-lampu yang gemerlap menghiasi Sassi dan membuat kami terkagum-kagum. Suasana berubah menjadi begitu romantis dan magis. Setiap bangunan yang tadinya terlihat kuno sekarang terlihat sangat indah bermandikan sinar lampu yang indah. Sayangnya, angin serta hujan gerimis membuat kami tidak bisa menikmati Matera dengan maksimal. Badan tropis kami belum terbiasa menghadapi Italia yang kala itu masih di ujung musim semi. Dinginnya angin berhembus kemudian membuat kami harus meninggalkan kota indah ini. Kami pun kemudian berjalan kaki kembali ke Korelle B&B dimana kasur memory foam menunggu kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s