To the Walls of Dubrovnik!

Mau tahu apa atraksi paling terkenal di Dubrovnik dan kudu dikunjungi oleh turis yang mengunjungi Sang Permata dari Laut Adriatik ini? Bukan kota tuanya, bukan pula bangunan gereja St Blaise atau Stradun yang terkenal itu. Atraksi yang paling ramai dikunjungi tersebut adalah Tembok Kota Dubrovnik. Tembok sepanjang nyaris 2 kilometer yang melingkari kota Dubrovnik ini merupakan destinasi yang tidak boleh dilewatkan ketika mengunjungi Dubrovnik.

Setelah meninggalkan Old Port, kami pun kemudian berjalan menuju pintu masuk Tembok Kota yang terletak di dekat Pile Gate. Sebenarnya ada beberapa pintu masuk menuju Tembok Kota yaitu di dekat Pile Gate (gerbang masuk menuju Dubrovnik), di dekat Ploce Gate dan yang terakhir di dekat Fort of Saint John yang menghadap ke pelabuhan lama. Pintu masuk yang paling populer adalah yang didekat Pile Gate. Tidak heran ketika kami sampai, masih ada antrian pendek untuk naik ke Tembok Kota melalui pintu masuk ini walau hari sudah menjelang sore. Kami pun kemudian bergabung dengan turis mancanegara yang sudah siap dengan peralatan memotret mereka masing-masing.

Untuk si Nyonya yang kurang berminat dengan sejarah dan bangunan bersejarah, sifat antusias saya di atas tembok kota ini cukup mengherankan. Saya sangat kegirangan dan bahkan tak henti-hentinya menyatakan kekaguman saya terhadap tembok yang dibangun untuk melindungi kota dari ancaman Bangsa Ottoman ini. “Kayak anak kecil diajak ke Dufan” katanya. Well, ya bener juga sih. Saya sangat mengagumi benteng dan istana. Apalagi yang ukurannya massive seperti Tembok Kota Dubrovnik ini. Baru saja sampai di tembok, saya langsung terkagum-kagum oleh pemandangan yang terhampar di hadapan saya. Di sebelah kiri saya adalah pemandangan Stradun dan bangunan rumah,gereja dan menara bel yang menjulang. Di bawah sana kerumunan  orang duduk di sekitaran Air Mancur Onofrio sambil menikmati es krim atau sekedar menikmati pemandangan orang lalu lalang. Di sebelah kanan saya adalah Laut Adriatik yang luas dengan Pulau Lokrum di satu sisi dan Fort St Lawrence yang menjulang di sisi yang lain. Sinar mentari dengan silaunya yang menerpa mata sipit saya ini pun tidak menghalangi antusiasme saya menikmati keindahan tempat ini. Angin yang berhembus mengusir panasnya mentari dan kami pun terus berjalan dari satu benteng ke bagian lain sambil sesekali berhenti untuk berfoto.

Tembok Kota Dubrovnik dibangun sesuai dengan kontur kotanya yang melingkar menghadap Laut Adriatik dan bersandar pada Mount Srd yang kokoh. Di beberapa bagian tembok terdapat benteng melingkar yang merupakan inovasi terbaru pada abad ke 15.Benteng melingkar dapat mengurangi efek hantaman bola meriam musuh dengan jauh lebih efektif dibandingkan dengan benteng persegi. Pemimpin Dubrovnik kala itu tidak berhemat dalam membangun tembok pertahanan ini dan teknologi terbaru pun digunakan. Uniknya, tembok yang dibangun untuk menangkal serangan bangsa Ottoman ini nyaris tak tersentuh oleh bangsa Ottoman atau Venesia yang merupakan saingan dagangnya. Tembok dan kota Dubrovnik baru mengalami kerusakan akibat gempa dan pengepungan oleh Pasukan Yugoslavia pada tahun 1991. Dampak dari pengepungan ini dapat kita lihat sekarang pada warna atap bangunan di Dubrovnik. Warna oranye yang cerah berarti atap baru yang menggantikan atap lama. Warna oranye kehitaman berarti atap lama yang selamat dari serangan artileri pasukan Yugoslavia kala itu.

Jalan di tembok kota ini bervariasi dari yang luas sampai sempit dan hanya bisa dilewati oleh satu orang pada saat bersamaan. Terkadang kami harus menunggu turis lain yang berhenti sebentar untuk selfie dan juga sebaliknya turis lain menunggu kami selfie. Yang jelas berjalan di tembok ini sangat menyenangkan walau kita terkadang mesti naik turun tangga. Pemandangannya membuat rasa lelah hilang dan kami pun menikmati tiap jengkal tembok yang panjangnya 2 kilometer ini. Saat kami melewati Fort Saint John, kami terkesima melihat kapal kayu besar yang akan berlabuh di pelabuhan lama Dubrovnik. Kokohnya kapal kayu yang baru saja selesai mengantarkan para turis berpesiar di laut Adriatik ini membuat imajinasi saya melayang ke zaman keemasan Dubrovnik. Kapal-kapal dagang dari Constantinople, Venesia, Genoa dan pusat perdagangan lainnya berlabuh dan ratusan awak kapal sibuk menurunkan muatan sementara para pedagang mengurus perizinan di kantor karantina. Sungguh pemandangan yang sangat menggugah hati.

Langkah kami kemudian membawa kami ke sisi tembok yang berdekatan dengan Minceta Tower. Tembok yang bersender dengan sisi Mount Srd ini menawarkan posisi terbaik untuk berfoto dengan kota Dubrovnik dengan atap oranyenya. Pulau Lokrum, Laut Adriatik, dan kota Dubrovnik menjadi latar pemandangan indah yang akan menghiasi foto anda. Setelah kami berfoto disni, kami pun berjalan menuju titik tertinggi dari tembok kota Dubrovnik yaitu Minceta Tower. Menara yang dibangun oleh keluarga Minceta ini berbentuk segi empat dan kemudian dikelilingi oleh benteng bulat oleh arsitek Italia,Michelozzo di Bartolomeo. Pada masa jayanya, menara ini dilengkapi dengan 9 meriam yang siap melindungi Dubrovnik dari serangan musuh. Sekarang menara ini menjadi tempat wisata yang ideal bagi para pencinta pemandangan indah. Seorang Kroasia yang saya temui di Minceta Tower bahkan berkata ” One has not been to Dubrovnik unless he has been to Minceta.’

Setelah menikmati pemandangan Dubrovnik, kami pun kemudian turun dan berjalan menuju pintu keluar yang terletak dekat Pile Gate. Perjalanan yang cukup menyenangkan dan sebanding dengan harganya yang mahal. Jika anda hanya ada satu hari untuk menikmati Dubrovnik, maka jangan sampai melewatkan kesempatan untuk berjalan di tembok kota ini. Totally worth it!

Further Info:

  1. Harga tiket masuk Tembok Kota Dubrovnik adalah sebesar 150 Kuna. Tiket ini hanya berlaku sekali masuk dan anda harus membeli tiket lagi jika anda ingin naik lagi.
  2. Jam terbaik untuk mengunjungi tembok ini adalah jam 8 pagi saat pintu masuk dibuka. Tembok ini paling sibuk dikunjungi pada pukul 9:30-11:00 saat rombongan turis dari kapal pesiar mulai memenuhi Dubrovnik. Setelah itu tembok kota mulai sepi karena panas mentari biasanya membuat orang malas naik ke tembok. Pengunjung mulai memenuhi tembok lagi pada pukul lima sore sampai tutup. Saya mengunjungi tembok ini pada jam 4 sore dan kondisinya tidak seramai kala jam 5.
  3. Biasanya pengunjung menghabiskan waktu sekitar 1-2 jam untuk mengelilingi tembok kota.Tapi lagi-lagi ini tergantung pada tempo jalan kaki dan seberapa sering anda berhenti untuk berfoto. Saya dan Nyonya menghabiskan waktu dua jam untuk satu putaran.
  4. Bawa air minum dan lotion sunscreen untuk melindungi diri dari sengatan matahari. Ada beberapa toilet dan cafe di atas tembok namun harganya cukup mahal.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s