From Mostar to Sarajevo: A Visit to Little Jerusalem (part 1)

Mostar di pagi hari serasa seperti kota mati, setidaknya di kawasan sekitar rumah Dino. Jam baru menunjukkan pukul 7 pagi namun sepertinya belum ada aktivitas apa pun di luar sana. Angin bertiup kencang menyambut saya yang baru membuka pintu kamar. Hmm..kayaknya enakan stay di dalem dulu deh. Si Nyonya yang masih lelap tertidur terlihat sangat nyaman dan rasanya tidak enak membangunkannya. Rencana kami pagi ini adalah naik kereta menuju Sarajevo, namun hanya ada dua kereta menuju Sarajevo dari Mostar yaitu jam 6:45 dan 17:04. Tentu saja kami sudah ketinggalan kereta pagi dan tidak mungkin berangkat menuju Sarajevo sore nanti karena besok kami akan berangkat menuju Dubrovnik. Saya pun menunggu si Nyonya untuk bangun saja untuk menentukan apa yang akan kami lakukan hari ini. Berbekal burek,sejenis roti isi keju khas Balkan, dan secangkir kopi panas, saya pun menikmati kopi sambil membaca artikel tentang Sarajevo.

Sarajevo, ibukota Bosnia Herzegovina, terletak di lembah pegunungan dan telah lama menjadi titik pertemuan berbagai budaya dan bangsa. Penduduknya telah lama hidup dalam berbagai budaya dan agama yang berbeda. Dari mesjid ala Ottoman, gereja Orthodox, sinagoga Yahudi,dan gereja Katolik bertebaran di kota yang salah satu julukannya adalah Little Jerusalem. Penduduknya yang multietnis dari etnis Bosnia, Serbia, Kroasia dan minoritas etnis lain lama hidup berdampingan dengan damai. Sarajevo juga merupakan pusat dari perhatian pemerintah Yugoslavia yang kala itu merupakan kekuatan besar di Eropa Timur. Yosef Broz Tito, pemimpin Yugoslavia, menganggap Sarajevo sebagai kota yang ideal untuk mewakili  Yugoslavia sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin pada tahun 1984. Sayangnya sekitar sepuluh tahun kemudian Sarajevo kembali menjadi pusat perhatian dunia karena Perang Bosnia. Pada suatu pagi di tahun 1992, serangan artileri dari pasukan VRS (pasukan Republika Sparska) menghantam Sarajevo dan mengubah kota ini menjadi medan perang. Pasukan VRS yang terdiri dari etnis Serbia mengepung Sarajevo dan memutus Sarajevo dari dunia luar. Penduduk Sarajevo yang multietnis tersebut berjuang bersama untuk bertahan hidup. Mereka membangun tempat perlindungan,berbagi makanan dan bahkan membangun terowongan keluar kota untuk mendapatkan makanan dan kebutuhan hidup lainnya. Ketika terancam oleh serangan, mereka tidak lagi menganggap etnis mereka yang berbeda sebagai penghalang, bahkan penduduk Sarajevo dari etnis Serbia pun bahu membahu mempertahankan diri dari serangan pasukan VRS. Setelah NATO dan PBB turut campur menyelesaikan konflik di Bosnia, situasi di Sarajevo pun mulai membaik. Sekarang kita dapat mengunjungi Sarajevo dengan aman walaupun bekas-bekas perang seperti gedung-gedung tua dengan lubang peluru masih berdiri sebagai kenangan buruk masa lalu yang semoga tidak berulang.

Si Nyonya terbangun oleh aroma kopi yang kuseduh namun jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Kami pun kemudian memutuskan untuk tetap berangkat ke Sarajevo dengan menumpang bis. Setelah bersiap-siap, kami pun berjalan kaki menuju Terminal Bis Mostar East. Jika anda terbiasa dengan kondisi terminal yang ramai, anda akan terkejut dengan terminal Mostar yang sepi dan terkesan terlantar. Bangunan terminal yang terhubung dengan stasiun kereta ini cukup luas namun hanya sedikit orang yang berlalu lalang. Setelah membeli tiket ke Sarajevo, kami pun iseng berjalan menuju stasiun kereta Mostar. Stasiun kereta Mostar terlihat bahkan lebih “serem” lagi. Bangunan besar namun kosong dan hanya satu loket yang dibuka. Saya pun iseng menanyakan tiket menuju Sarajevo dan memang hanya ada dua kereta menuju Sarajevo dalam sehari. Suasana creepy di stasiun ini kemudian membuat kami kembali ke stasiun bis dengan cepat.

Bis menuju Sarajevo pun kemudian datang menjemput kami yang sudah menunggu selama 15 menit. Bis sederhana dengan AC ini melaju melalui jalan-jalan pegunungan Bosnia yang indah. Di sepanjang perjalanan, kami dihibur dengan pemandangan gunung dan sungai yang masih asri, jauh dari pencemaran dan membuat kami sibuk memandang ke jendela. Perjalanan menuju Sarajevo dengan bis memakan waktu 2.5 jam, sedikit lebih lama dibandingkan dengan naik kereta yang cuma 2 jam saja. Singkat kata kami pun sampai di ibukota Bosnia Herzegovina dengan aman.

Sesampainya di terminal Sarajevo, kami kemudian berjalan menuju stasiun kereta yang terletak tak jauh dari terminal Sarajevo. Berhubung kami tidak lagi memiliki koneksi internet, kami benar-benar bertualang di Sarajevo modal petunjuk orang lokal dan ingatan saya dari membaca guide book dan artikel. Ketika berjalan menuju stasiun kereta, kami melewati kantor pos yang juga melayani jasa penukaran uang. Kami pun kemudian menukarkan sebagian Euro kami dengan BAM karena Sarajevo hanya mengenal mata uang BAM tidak seperti Mostar yang masih menerima Euro dan Kuna.

Stasiun kereta Sarajevo walau tidak sesepi Mostar, tetap memiliki aura sangar tersendiri. Layaknya bangunan peninggalan komunis, stasiun ini memiliki gaya bangunan yang kaku dan terkesan dingin. Beberapa bapak-bapak duduk ngopi dan polisi berjalan lalu lalang walaupun tidak terlihat ada aktivitas berarti di stasiun ini. Kami pun berjalan menuju loket yang saat itu hanya dibuka satu saja.Seorang bapak tua melayani kami dengan ramah namun sangat bertele-tele. Beliau meminta paspor kami dan kemudian mengisi beberapa lembar kertas yang menurut asumsi kami adalah tiket. Setelah 5 menit, kami kemudian diberi tiket yang masih ditulis tangan alias manual. “Mirip kasir di film Zootopia.” kata si Nyonya yang terheran-heran melihat bagaimana membeli tiket kereta bisa begitu lambat. Setelah membeli tiket, saya pun iseng memotret suasana stasiun kereta namun saya ditegur oleh seorang polisi yang menunjukkan lambang tidak boleh memotret di tembok. Hmmm..kenapa motret aja ga boleh ya?

Berjalan keluar dari stasiun kereta, kami kemudian mampir ke sebuah kios makanan yang juga menjual tiket tram. Transportasi umum di Sarajevo mencakup tram dan bis. Berhubung kami hanya akan mengunjungi kawasan Bascarsija dan sekitarnya kami hanya membeli 4 buah tiket untuk pergi ke kawasan Bascarsija dan kembali ke stasiun kereta. Bermodal informasi dari Guide Book Rick Steve, kami menunggu tram #1 di halte depan stasiun kereta namun setelah menunggu cukup lama, tram ini tak kunjung datang. Kami pun kemudian bertanya kepada seorang wanita Bosnia yang menunggu tram dimana kami seharusnya menunggu tram menuju Bascarsija. Dengan ramah, wanita ini menunjuk ke arah kanan kami dan berbicara dalam bahasa Bosnia yang tidak kami mengerti. Kami pun kemudian berjalan menuju arah yang dia tunjukkan dan kami pun berpapasan dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Saya pun berinisiatif bertanya pada seorang petugas keamanan yang sedang berjaga tentang tram menuju Bascarsija. Ternyata tram tersebut melewati halte di depan Musium Nasional Sarajevo tak jauh dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. Kami pun kemudian berjalan menuju halte tersebut dan agak bingung dengan kondisi halte yang unik. Halte tram di Sarajevo sangat sederhana. Rel yang dipenuhi rumput dan tanah liat yang becek membuat kami sadar kalau kota ini masih berbenah dan terus memperbaiki kondisinya. Tram yang lalu lalang pun bukan tram modern seperti di Istanbul atau  Praha. Tramnya antik seperti peninggalan jaman Yugoslavia dengan gerbong yang sedikit. Setelah menunggu selama 5 menit, tram no 2 pun datang menjemput kami menuju Bascarsija (to be continued).

Further information:

  1. Jika anda ingin mengunjungi Sarajevo, pastikan anda membawa BAM (Bosnian Marks) karena di Sarajevo, anda mesti menggunakan mata uang ini untuk bertransaksi.
  2. Kawasan wisata Sarajevo berpusat di Bascarsija dan disini anda tinggal berjalan kaki untuk mengunjungi tempat-tempat seperti Latin Bridge dan bangunan bersejarah lainnya.
  3. Anda bisa membeli tiket transportasi di kios makanan dan tiket ini mesti divalidasi setiap naik tram atau bis. Namun ketika kami naik tram, kami mendapati tram tersebut terlalu penuh dan mesin validasi hanya ada satu dan di ujung gerbong sehingga kami tidak bisa memvalidasi tiket tersebut. Penduduk lokal yang kami tanya pun hanya tersenyum dan menyatakan kami tidak usah memvalidasi.
  4. Harga tiket bis dari Mostar menuju Sarajevo  adalah 21 BAM dan tiket kereta dari Sarajevo menuju Mostar adalah 12 KM. Naik kereta lebih menyenangkan dibanding naik bis karena lebih cepat dan jalur kereta lebih indah pemandangannya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s