Menikmati Keindahan Mostar, Sang Permata dari Bosnia Herzegovina

” It is a simple room but quite homey. If you need anything, you can contact me.” kata Dino, host Airbnb kami di Mostar. Dino dan istrinya memberikan banyak info mengenai Mostar dan yang paling berharga adalah pengalamannya selama hidup di Mostar. Berusia 40an, Dino tentu saja mengalami periode kelam dalam sejarah Bosnia. Dino menceritakan bagaimana dirinya terkena serpihan granat yang merobek perutnya ketika serangan terhadap keluarganya. Dengan nada yang datar, Dino menceritakan bagaimana perang begitu buruk dan generasi mereka begitu trauma mengenai apa yang pernah terjadi. “We never wish for war. All of us just want to live normally. We learned from what happened in those dark days and we don’t want to inherit hatred towards our children.” jelasnya sambil menatap langit Mostar yang berawan. Saya merasa terharu dan tidak enak karena membawa topik pembicaraan ke masa lalu seseorang yang kelam. Sebagai seorang yang hidup di negara relatif damai dan tidak pernah berpengalaman dengan konflik senjata, saya tidak bisa membayangkan hidup dalam rasa takut dan teror yang tak kunjung henti. Hidup damai tanpa gangguan dan bebas melakukan aktivitas adalah suatu kemewahan yang mestinya kita syukuri.

 

Setelah mendengarkan cerita Dino, kami pun kemudian berjalan menuju kawasan kota tua Mostar. Rumah Dino hanya sekitar 15 menit dari kawasan kota tua namun letaknya yang berada di bukit membuat kami harus berjalan menurun menuju jalan utama. Kontur Mostar yang terletak di gunung memang membuat penghuninya mesti terbiasa berjalan dan naik turun tangga, apalagi kalau tinggalnya di sekitar kota tua. Kami berjalan melewati perumahan dan menyadari kalau kami tidak tahu jalan hahaha. Sim card Orange yang kami beli dari tanah air tidak mencakup wilayah Bosnia dan penjual simcard tersebut sudah wanti-wanti agar kami tidak menyalakan sinyal agar layanan simcard kami tidak dihentikan oleh provider. Kami pun kemudian mengandalkan sinyal GPS yang masih berfungsi namun tidak banyak ngefek karena offline Google Maps hanya menunjukkan rute mobil bukan pejalan kaki. Kami pun kemudian mengikuti insting kami berjalan menurun menuju jalan raya yang sejajar dengan terminal bis. Sesampainya di jalan raya, kami berjalan mengikuti rute Google Maps menuju kota tua Mostar.

IMG20180624154226
Bangunan saksi perang di Mostar

Ketika menyusuri jalan raya, kami berpapasan dengan bangunan tua peninggalan perang yang tidak lagi dihuni. Temboknya dipenuhi lubang-lubang peluru dan jendelanya yang ditambal dengan batu bata memberikan kesan suram. Suatu penanda akan sejarah kelam Mostar di masa lalu. Ada banyak bangunan serupa di Mostar dan kota-kota lain di Bosnia. Bangunan-bangunan yang dibiarkan tanpa penghuni karena statusnya yang tidak jelas. Para investor tidak bisa mengeksekusi lahan yang tidak jelas kepemilikannya dan akhirnya dibiarkan begitu saja seperti monumen bersejarah.

Setelah berjalan selama 5 menit, kami pun sampai di kawasan kota tua yang lebih ramai dibandingkan dengan kawasan perumahan tadi. Toko-toko dan restoran mulai terlihat dan kami kemudian mampir ke sebuah ATM untuk mengambil uang. Bosnia menggunakan mata uang BAM atau biasa disebut Bosnian Convertible Marks. Umumnya toko-toko di Mostar juga menerima Euro dengan konversi sederhana  1 Euro = 2 BAM. Bermodal ambil uang di ATM, kami pun kemudian bisa makan siang kebab dan membeli es krim murah seharga 1 BAM saja. Sambil menikmati es krim, kami pun melenggang melewati toko-toko di kiri kanan kami sebelum langkah kami tiba-tiba terhenti karena pemandangan indah bagai lukisan terhampar di hadapan kami.

Menyebut kata indah untuk menggambarkan apa yang kami lihat mungkin tidak cukup menggambarkan pemandangan yang kami lihat saat itu. Sebuah jembatan batu membentang di atas sungai berwarna hijau bersih yang mengalir deras. Rumah-rumah batu dan mesjid dengan menaranya yang menjulang mengisi latar pegunungan dan langit yang berawan. Sungguh kami langsung takjub dan berdiri diam sebentar menikmati pemandangan luar biasa ini sebelum akhirnya insting narsis kami membangunkan lamunan dan kami pun berjuang mendapatkan foto jembatan terkenal ini. Jembatan batu (Stari Most) ini adalah hasil rekonstruksi dari jembatan tua yang dibangun pada masa Ottoman berkuasa di Bosnia. Sultan Sulaiman the Magnificent (iyak, si sultan dari film Abad Kejayaan itu) membangunnya pada tahun 1557 dan baru selesai 9 tahun kemudian. Jembatan batu ini merupakan suatu inovasi arsitektur pada zamannya dan menjadi simbol kota Mostar yang kental dengan nuansa Ottoman. Jembatan hasil karya dinasti Ottoman ini bertahan 400 tahun dan bahkan cukup kuat menahan beban tank NAZI yang melintas untuk menguasai daerah ini. Namun ketika Peran Bosnia berlangsung, jembatan ini diledakkan oleh etnis Kroasia untuk memutus suplai bantuan kepada etnis Bosnia yang menguasai bagian timur Mostar (kota tua dan sekitarnya). Konon ketika bongkahan batu dari jembatan jatuh ke sungai Neretva, air disekitarnya berubah warna menjadi merah. Penduduk lokal melihatnya dan bersedih. Teman Lama (panggilan sayang penduduk Mostar untuk jembatan ini) berdarah karena pertikaian mereka. Setelah perang berakhir, para pemimpin kota mulai berunding untuk membangun kembali jembatan bersejarah ini. Mereka memutuskan untuk membangun jembatan baru dengan bahan dan teknologi yang sama seperti yang dibangun oleh Sultan Sulaiman beberapa abad silam. Batu-batu untuk jembatan diambil dari tambang batu yang sama dan jembatan dibangun dengan teknologi Ottoman tanpa bantuan teknologi modern. Biaya pembangunan jembatan ini diperoleh dari donor internasional dan UNESCO mengawasi pembangunannya. Hasilnya? Pada tanggal 23 Juli 2004, jembatan batu yang baru ini diresmikan dengan meriah dan semangat kebersamaan pun kembali ke kota yang dalam proses pemulihan pasca perang ini. Turis-turis mulai berdatangan dan Mostar pun menjadi terkenal seperti sekarang.

Setelah berfoto dan mengagumi keindahan Stari Most, kami pun berjalan menyebrangi jembatan batu ini. Permukaan jembatan yang licin membuat berjalan di atas jembatan ini butuh kewaspadaan ekstra. Jika anda tidak memakai sepatu yang anti slip, lebih baik anda berpegangan pada sisi jembatan. Banyaknya orang yang juga berada di jembatan ini membuat berjalan cukup sulit namun ada hal yang menarik yang anda bisa nikmati di sini. Seorang pria dengan celana renang berdiri di sisi jembatan dan mengambil ancang-ancang untuk melompat dari jembatan. Pria ini adalah salah satu dari pelompat jembatan yang sering mempertunjukan aksi lompat dari Stari Most dengan bayaran. Biasanya teman-temannya akan mengumpulkan uang dari orang yang lewat dan setelah uang dikumpulkan dirasa cukup, pelompat ini akan lompat dari jembatan menuju sungai Neretva yang dingin. Ketika kami melihat pria ini kami yakin akan menikmati tontonan menarik, namun sayang setelah menunggu cukup lama, si pria tersebut tidak kunjung lompat sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami.

Berjalan di kota tua Mostar membangkitkan kenangan saya akan Turki. Sungguh berjalan di kota ini anda tidak akan merasa berada di Eropa, anda akan merasa berada di kawasan Kaleici, Antalya. Jalan-jalan berbatu dengan bangunan-bangunan batu, mesjid berkubah besar dengan minaret yang tinggi menjulang semakin mempermainkan imajinasi saya tentang Turki. Menyusuri jalan berbatu, kami menemukan Hammam Museum yang dulunya merupakan pemandian ala Turki. Di dalam museum ini pegunjung dapat mempelajari sejarah hammam yang konon merupakan adaptasi bangsa Ottoman terhadap pemandian Romawi.

Di belakang Hammam Museum, terdapat sebuah Cafe de Alma, sebuah cafe yang populer dengan kopi Bosnia tradisional yang rasanya luar biasa. Bangsa Bosnia mengenal kopi dari Bangsa Turki yang membawa tradisi ngopi ke daerah ini. Walaupun rasanya mirip, namun bagi saya kopi Bosnia rasanya lebih mantap dari kopi Turki. Di Cafe de Alma ini, saya berkesempatan menikmati secangkir kopi Bosnia dengan kebiasaan lokal yang unik. Jaz, pemilik cafe, menyiapkan secangkir kopi yang disajikan dengan lokum (Turkish Delight), gula dalam bentuk kotak, dan segelas air. Kopi terlebih dahulu dituangkan ke gelas yang lebih kecil, dibiarkan sebentar lalu saya diminta mencelupkan gula sedikit ke kopi dan menggigitnya sedikit kemudian baru menyeruput kopi. Kebiasaan minum kopi seperti ini tidak saya temui di Turki, hanya di Bosnia. Unik ya?

Usai menikmati secangkir kopi Bosnia, kami pun kemudian kembali menuju Stari Most. Masih penasaran dengan atraksi pelompat jembatan, kami pun kemudian menunggu sambil menikmati pemandangan di bawah jembatan. Banyak turis di bawah sana bersantai sambil berfoto di bantaran sungai Neretva. Perhatian kami terhadap pelompat jembatan pun teralihkan dan kami mulai beranjak menuju pinggiran sungai di bawah sana. Sungai Neretva merupakan sungai yang paling berharga bagi penduduk Bosnia dan Kroasia. Sungai yang menyediakan air bersih ini mengalir dari dasar gunung Zelengora dan Lebrsnic menuju Laut Adriatik. Mostar adalah salah satu kota yang dilalui oleh sungai ini dan bisa dibilang merupakan urat nadi perekonomian Mostar. Kehadiran sungai ini dan Stari Most telah menarik banyak turis untuk mengunjungi Bosnia sehingga turut membantu perekonomian penduduknya.

Air sungai Neretva terasa dingin bagai air es. Dino mengatakan kalau air sungai Neretva selalu dingin sepanjang musim sehingga kurang cocok untuk berenang. Para pelompat jembatan tentu memiliki nyali yang besar untu melompat ke sungai yang airnya dingin ini, pikirku. Di tepi sungai Neretva, kami bisa menikmati pemandangan Stari Most dari sudut yang berbeda. Jembatan batu dengan sungai yang bersih serta kota batu diatas sana menjadi latar berfoto yang indah. Tidak heran banyak turis yang repot-repot turun ke sini untuk berfoto. Sebuah perahu karet bermotor pun bisa disewa untuk turis yang ingin mengambil foto Stari Most dari sungai. Saya dan si Nyonya cukup puas untuk berfoto dengan latar Stari Most, lagian nyewa perahu karet di sungai yang mengalir deras rasanya kurang ideal buat berfoto (alasan utamanya sih kami pelit aje hahaha).

Beranjak dari tepi sungai, kami pun kemudian berjalan kembali ke kawasan kota tua Mostar. Perut kami yang lapar kemudian mengarahkan kami ke restoran bernama Hindin Han. Restoran yang mendapat review sangat baik dari berbagai situs travel ini merupakan restoran kesukaan kami di Mostar. Terletak di dekat jembatan Kriva Cuprija yang dibangun sebelum Stari Most, restoran ini menyajikan makanan khas Balkan dengan pemandangan sungai Neretva. Menu andalan restoran ini adalah mixed grill yang mencakup berbagai daging panggang yang lezat. Restoran ini pun selalu ramai dikunjungi oleh para turis dan penduduk lokal. Kami beruntung datang sebelum makan malam dan masih mendapatkan tempat dengan pemandangan sungai yang cakep. Ketika pelayan restoran datang, pilihan kami tentu saja jatuh pada mixed grill porsi besar yang kemudian membuat kami kaget. Satu hotplate besar penuh dengan sosis, kofte, iga bakar, dada ayam, shish kebab, kentang goreng, roti dan sayuran diletakkan dengan senyum ramah sang pelayan. Mulut kami pun menganga kaget dengan porsi makanan yang bisa mengisi perut 4 orang Asia sampai kenyang ini. Ditemani bir Sarajevsko, kami pun mulai menikmati hidangan ala Balkan yang lezat ini. Rasanya memang mantap. Dagingnya gurih dan setiap gigitan membuat kami terus ingin melanjutkan. Sayang setelah berjuang cukup lama, kami hanya berhasil memakan habis semua dagingnya dan menyisakan kentang goreng yang teronggok sia-sia di hotplate. Bahkan segelas Sarajevsko tambahan tidak bisa menambah selera kami untuk menghabiskan semua.

Setelah makan puas, kami pun berjalan kembali ke arah rumah Dino. Kami melewati Coppersmith Street yang merupakan tempat pengrajin perkakas menjual sendok, gelas dan peralatan makan dari tembaga. Jika anda suka peralatan makan antik, tempat ini ideal untuk membeli oleh-oleh khas Mostar. Tak jauh dari Coppersmith Street, terdapat sebuah mesjid yang bernama Mesjid Koski Mehmet-Pasha. Mesjid dari abad ke 17 ini merupakan mesjid peninggalan Ottoman yang paling terkenal di Mostar. Posisinya yang berada di tepi lembah menghadap ke Sungai Neretva menjadikannya tempat yang ideal bagi turis untuk berfoto. Di halaman mesjid terdapat air pancur tempat umat yang hendak sembahyang untuk membasuh kaki, muka dan tangan mereka sebelum masuk ke mesjid. Karena mesjid ini sudah terbiasa dengan turis, turis tidak perlu melepas sepatu mereka untuk memasuki mesjid. Jika anda berkesempatan untuk mengunjungi mesjid ini, jangan lewatkan kesempatan untuk naik ke menara mesjid untuk menikmati pemandangan Mostar yang indah. Sayang sekali ketika kami sampai di mesjid ini, mesjid sudah ditutup untuk turis dan kami hanya bisa berfoto di luar saja.

IMG20180625191231
Senja di Mostar

Usai mengunjungi mesjid Koski Mehmet Pasha, kami pun berjalan pulang menuju rumah Dino. Kami melewati pertokoan, rumah-rumah penduduk dan tentu saja naik tangga yang cukup banyak menuju ke kawasan rumah Dino yang berada di atas bukit. Kami berpapasan dengan beberapa anak kecil yang penasaran dengan tampang kami dan memanggil kami “Yapones” yang berarti orang Jepang. Mereka bermain dengan riang gembira dan tidak ada kelihatan beban perang masa lalu membayangi mereka. Anak-anak ini adalah masa depan Bosnia yang saya doakan cerah dan bahagia. Nun jauh di sana terlihat bagian modern kota Mostar yang ternyata merupakan wilayah tempat tinggal etnis Kroasia. Sebuah bangunan besar nampak terbengkalai dan setelah membaca beberapa artikel, saya baru tahu kalau bangunan tersebut adalah bekas perkantoran yang kemudian berubah menjadi markas sniper pada zaman perang. Kami tidak sempat mengunjungi wilayah etnis Kroasia pada kunjungan kami di Mostar namun kami selalu berharap di kemudian hari kami akan berkesempatan lagi mengunjungi Mostar yang penuh dengan keindahan dan keramahan penduduknya.

Further information :

1. Jika anda berangkat menuju Mostar dengan bis, pastikan bis sampai di terminal yang dekat dengan penginapan anda. Ada dua terminal bis di Mostar yaitu terminal East Mostar yang dekat dengan stasiun kereta dan kota tua Mostar dan terminal West Mostar yang berada di bagian Kroasia dari Mostar.

2. Hindari percakapan tentang perang atau politik terhadap orang Bosnia kecuali mereka yang membuka topik pembicaraan. Walaupun perang terjadi sekitar dua puluhan tahun silam, masih banyak penduduk Bosnia yang mengalami luka peperangan tersebut. Pandangan tiap etnis pun berbeda mengenai perang dan akan lebih baik jika sebagai turis dan teman dalam kemanusiaan, untuk bersikap arif dalam berbicara.

 

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Menikmati Keindahan Mostar, Sang Permata dari Bosnia Herzegovina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s