Cerita Tentang Kaisar Diocletian dan Pernikahan ala Kroasia

Setelah puas menjelajahi basement istana Diocletian, kami berjalan menuju peristyle yang merupakan pusatnya kota tua sekarang. Peristyle sebenarnya adalah halaman dengan tiang-tiang yang berdiri mengapit yang umum di rumah atau istana bangsa Romawi atau Yunani. Umumnya Peristyle merupakan tempat pemilik rumah bersantai menikmati taman dan biasanya hanya orang kaya yang sanggup untuk memiliki rumah dengan Peristyle. Kaisar Diocletian tentu saja tidak main-main dalam membangun rumah tinggalnya.hanya bahan-bahan bangunan terbaik dengan arsitektur mutakhir kala itu yang pantas untuk kaisar dengan ego besar sepertinya. Diocletian mengimpor tiang granit merah dari Mesir dan sphinx dari granit hitam untuk menghiasi istananya. Tiang granit tersebut masih menjadi bagian dari Peristyle dan hanya beberapa dari 13 sphinx yang masih utuh tersebar di beberapa bagian istana.

Kami menyisakan Peristyle untuk kami jelajahi nanti karena kami mendapati di sebelah kanan Peristyle adalah Katedral St Domnius. Katedral ini dulunya merupakan makam dari Kaisar Diocletian. Bangunan berbentuk segi delapan ini kemudian berubah fungsi menjadi gereja setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat di tangan bangsa barbar. Kaisar Diocletian yang semasa hidupnya membenci orang Kristen, membantai banyak penganut agama ini dan status pembantai Kristen pun melekat di kaisar yang sebenarnya cukup handal dalam memerintah Kekaisaran Romawi. Ironisnya, jika anda mengunjungi Katedral St Domnius/ Makam Diocletian, anda tidak akan menemukan tubuh sang kaisar disini, melainkan Santo Domnius, uskup yang dihukum mati oleh Diocletian. Makam Romawi berubah menjadi Gereja Kristen dan si Pembantai Kristen pun digantikan Santo Kristen. Saat kami ingin mengunjungi gereja ini, sebuah misa pernikahan sedang berlangsung dan tertutup untuk umum. Kami pun kemudian memutuskan untuk naik menara lonceng St Domnius yang tinggi menjulang. Menara bergaya Venesia ini dibangun pada abad ke 14, saat pengaruh bangsa pengarung lautan tersebut mencapai puncaknya.Menara lonceng yang tinggi menjulang ini menawarkan pemandangan indah Laut Adriatik dan kota tua yang indah. Setelah memanjat tangga batu melingkar yang kemudian berganti dengan tangga besi, kami pun sampai di puncak menara. Jangan anggap enteng tangga menuju puncak menara ini, angin yang bertiup melalui celah-celah menara membuat nyali beberapa turis ciut dan memilih untuk turun tanpa melanjutkan ke puncak. Saya dan si Nyonya yang cukup bernyali sampai di puncak dengan bangga dan keringet dingin melihat tangga yang kami lalui barusan.

Puncak menara lonceng ini benar-benar ideal untuk menikmati pemandangan Split seutuhnya. Kami bisa melihat pelabuhan Split dengan kapal-kapal layar yang berlabuh di atas perairan laut Adriatik yang berwarna biru berkilauan dibawah teriknya matahari. Atap-atap merah bata yang memahkotai tiap bangunan di kota tua Split membuat kami merasa berada di Italia. Angin yang bertiup pun tidak menghalangi niat kami untuk menikmati pemandangan indah ini. Sesekali membereskan rambutnya yang tertiup angin, si Nyonya berpose disamping tiang jendela dan saya pun sibuk mengabadikan moment ini dengan kamera handphone saya.

Usai menuruni kembali tangga menara yang rada serem tersebut, kami kembali menuju Peristyle yang kala itu sudah mulai ramai dengan turis. Ah iya, kali ini saya akan menceritakan kembali sejarah tempat ini. Peristyle ini merupakan halaman menuju tempat tinggal pribadi sang kaisar di Istana. Jika ada berjalan menuju Peristyle dari basement istana Diocletian, Pintu masuk (Vestibule) kediaman Kaisar Diocletian berada di belakang anda. Vestibule ini dibangun dengan agung dan anda bisa melihat 4 celah yang dulunya berisi patung para kaisar Romawi. Kaisar Diocletian membangun Vestibule ini untuk mengesankan para pengunjung dan rakyatnya. Sang kaisar sering menampakkan dirinya dan rakyat jelata harus berbaring menyembahnya (mencium jubah ungunya) sebagai simbol penghormatan di sini. Sekarang, terkadang terdapat aktor dengan pakaian kaisar serta beberapa tentara Romawi muncul dan menjadi atraksi turis. Kami sempat bertemu dengan dua orang yang berpakaian ala tentara Romawi dan beberapa turis pun berfoto dengan mereka dengan bayaran tentunya.

Suasana di sekitar Peristyle menjadi lebih hangat usai pengantin yang tadinya menjalankan misa Pernikahan kemudian keluar dan disambut oleh keluarga dan teman-temannya. Para pria bergitar menyanyi menyambut pasangan pengantin dan pengantin pun kemudian menari diikuti oleh kerabat mereka. Seorang pria membawa bendera Kroasia dan melambaikannya seiring irama musik. Suasana menjadi makin heboh ketika dua orang pria berdiri di dekat Vestibule dan menyalakan flare. Seketika asap dan warna merah menghiasi suasana pernikahan yang menjadi hiruk pikuk sukacita para pengunjung. Kami pun takjub dengan pemandangan ini. Sungguh suasana pernikahan yang lebih seru dan original dibanding dengan pernikahan modern di Indonesia yang lebih mirip liturgi dipimpin oleh MC. Kaku dan tidak ada improvisasi.

Setelah menikmati suasana nikahan heboh di Peristyle, kami pun berjalan menuju Gerbang Emas yang merupakan pintu utama menuju Istana Diocletian. Gerbang Emas adalah salah satu dari 4 gerbang Istana Diocletian. 3 gerbang lain adalah Gerbang Perak (sebelah timur), Gerbang Besi (sebelah barat) dan Gerbang Perunggu yang merupakan gerbang dekat laut tempat kami masuk ke basement istana. Gerbang Emas merupakan gerbang yang biasa dilalui oleh kaisar ketika memasuki istananya. Tembok kota tempat tiap gerbang berada sekarang merupakan bagian dari rumah penduduk. Sering sekali terlihat ceruk tembok atau disebut niche dalam bahasa Inggris sekarang telah menjadi jendela dari rumah di belakangnya.

Tak jauh dari Gerbang Emas, terdapat patung Gregory of Nin yang bergaya cukup unik, seperti penyihir Hogwarts yang sedang mengucapkan mantra. Gregory of Nin adalah Uskup yang berusaha meyakinkan Vatikan untuk mengizinkan misa dalam bahasa Kroasia daripada Latin dan merupakan uskup kebanggan bangsa Kroasia. Penduduk dan turis menggosok jempolnya supaya hoki, termasuk kami yang iseng mengikuti kekinian ini. Kami kemudian berjalan menyusuri tembok istana dan sampai dekat Gerbang Perak. Sebuah standing banner yang tertiup angin menarik perhatian si Nyonya yang kemudian masuk ke sebuah halaman bangunan yang ternyata adalah studio foto. Perisai, tombak, dan pedang Romawi dipajang di halaman tersebut.Seorang pria muda datang dan langsung menyambut kami. Dengan ramahnya, dia menjelaskan kalau studionya menawarkan jasa berfoto dengan kostum Romawi dengan harga yang menurut saya cukup murah. Tanpa banyak basa basi, kami pun kemudian mengenakan toga ala kaisar dan permaisuri dan jepretan kamera pun kemudian mengarah kepada kami. Marko, sang pemilik sekaligus fotographer studio Glory Days Split, bergerak lincah memotret kami dengan kameranya dan juga kamera handphone kami. Biasanya studio foto di tempat yang touristy jarang mengizinkan kami berphoto dengan handphone,namun Marko berbeda. Pria yang lahir di Split ini sangat pemurah dan dia juga membagikan cerita tentang kota kelahirannya. Walaupun lahir di Split dan sering bermain diantara situs Istana Diocletian, terkadang dia hanya menganggap bangunan ini sebagai bangunan biasa. Marko mengklaim bangunan diatas studionya adalah kamar tidur Kaisar Diocletian. Saya hanya tersenyum sambil membayangkan betapa beruntungnya si Marco yang bisa menikmati reruntuhan ini setiap hari sedangkan saya harus terbang jauh-jauh dari Indonesia untuk melihatnya selama beberapa jam saja.

Usai berfoto kami pun menikmati jalan-jalan senja di Riva. Riva adalah jalur pejalan kaki yang luas dengan laut di satu sisi dan tembok istana di sisi lainnya. Cafe-cafe dengan meja dan kursi yang menghadap ke arah laut menawarkan kenikmatan ngopi yang asyik untuk para pengunjung yang ingin bersantai. Kapal-kapal kecil yang berlabuh dan pemandangan laut Adriatik yang indah memang menjadi salah satu daya tarik Riva. Bagi saya, berjalan-jalan di Riva adalah kegiatan paling menyenangkan di Split selain mengeksplorasi Istana Diocletian. Matahari mulai tenggelam dan kami pun mencari tempat untuk makan malam. Berdasarkan penelusuran si Nyonya, ada sebuah restoran sandwich yang ratingnya cukup tinggi tak jauh dari Th Riva. Nama restoran tersebut adalah Sexy Cow. Sexy Cow menawarkan menu sandwich berisi daging sapi tebal yang super enak. Kami pun tergila-gila dengan dagingnya yang empuk dan juicy. Duduk dan menikmati sandwich kami bersama penduduk lokal yang sepertinya sudah terbiasa dengan kehadiran turis membuat kami berasa seperti nongkrong di restoran fast food di Jakarta. Semua orang sibuk mengunyah dan ngobrol dengan teman tanpa menghiraukan apa yang terjadi di meja seberang.

Setelah menikmati makan malam, kami pun memesan Uber untuk mengantarkan kami menuju hotel. Kaki kami sudah capek untuk berjalan dan kami ingin cepat membaringkan tubuh kami di ranjang hotel. Esok pagi kami akan berangkat menuju Mostar, Bosnia dan kami butuh istirahat yang cukup malam ini. Split, Kroasia memberikan kami kesan yang sangat hangat akan negara-negara Balkan dan selalu membuat kami merasa nyaman walaupun kami jauh dari tanah air. See you again, Split.

Further information:

  1. Jika anda mampir di Split dan anda suka berfoto dengan kostum lokal, anda bisa menghubungi Glory Days Split di account instagram mereka @glorydaysplit. Hasilnya lumayan dan bisa menjadi kenangan seumur hidup. Kapan lagi berfoto ala kaisar atau prajurit Romawi dengan harga miring.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s