Kisah Melintasi Perbatasan Kroasia dan Istana Kaisar Romawi

Bayangkan anda berada di dalam bis di tengah malam dan anda disuruh keluar dari bis karena anda akan melalui pemeriksaan paspor di pos perbatasan dan suhu diluar adalah 7 derajat celcius. Inilah yang terjadi pada kami ketika akan melintas perbatasan Slovenia dan Kroasia. Seluruh penumpang bis diminta turun dan masing-masing berbaris untuk menjalankan proses imigrasi. Paspor saya dicap keluar dari Slovenia dan lalu saya harus berdiri menunggu petugas di pos Kroasia untuk memindai paspor seorang penumpang lain. Nah ini masalahnya, si petugas nampak kebingungan dengan mesin scan yang mereka punya dan kami harus menunggu lama hanya untuk satu orang saja. Kehilangan kesabaran, sang petugas pun kemudian keluar dari post dan memutuskan untuk mencap semua paspor penumpang tanpa menginput data. Si petugas pun lucunya setengah hati mencap paspor saya sehingga capnya hanya nampak samar-samar saja.Si Nyonya yang was-was meminta saya untuk meminta cap lagi agar tak bermasalah di kemudian hari. Akhirnya saya pun mampir ke si petugas yang masih sibuk mengurusi penumpang lain. ” You want another one? No problem.” sahutnya dengan ramah. Saya pun mendapat cap yang kali ini lebih jelas dari sebelumnya. Tampaknya petugas imigrasi di Eropa sangat santai dan easy going.

Setelah semua paspor penumpang dicap, kami pun boleh kembali menikmati kehangatan dalam bis setelah disetrap dalam dinginnya malam yang berkabut. Seperti biasa, si Nyonya kembali tertidur dan saya kembali berusaha tidur namun pikiran saya melayang-layang menuju tujuan kami selanjutnya yaitu Split. Split adalah kota terbesar kedua di Kroasia dan merupakan salah satu kota transit bagi para turis yang hendak mengunjungi destinasi di sekitaran pesisir Dalmatia. Split dibangun pada abad ke 3 Masehi oleh Kaisar Romawi yang bernama Diocletian. Kaisar yang berasal dari Dalmatia (nama Kroasia di jaman Romawi) ini membangun istana besar sebagai tempat tinggalnya. Setelah kekuasaannya berakhir, istana ini kemudian mengalami kemunduran dan akhirnya ditinggalkan sampai bangsa Slavic(nenek moyang bangsa Kroasia, Bosnia,Serbia, dan Ceko) datang dan menghuni kompleks istana ini. Sekarang, kompleks istana Diocletian telah tumbuh menjadi sebuah kota besar dan merupakan salah satu daya tarik wisata sejarah Romawi di Kroasia.

Setelah berada di dalam bis cukup lama (8 jam), kami kemudian sampai di terminal bis Split yang terletak di pinggir laut dan tak jauh dari kompleks istana Diocletian. Mengingat kami belum memiliki Kuna (mata uang Kroasia), kami kemudian menukarkan uang di terminal sekalian membeli tiket menuju Mostar (Bosnia) untuk keesokan harinya. Ah kami terlalu terburu-buru, rate Kuna di terminal ternyata tidak sebagus di money changer yang kami lalui usai melewati terminal. Seandainya kami bersabar sedikit, kami bisa mendapat rate yang lebih baik. Dengan sedikit manyun, kami pun kemudian berjalan menuju penginapan kami yang terletak sekitar setengah jam jalan kaki dari terminal, yaitu Guest House Duje. Kami sengaja memilih penginapan ini karena kami sudah kehabisan penginapan murah di sekitar kota tua Split. Akhirnya penginapan ini menjadi pilihan kami. Harganya yang murah namun tidak jauh dari kota tua Split menjadi pertimbangan kami untuk tinggal di sini.

IMG20180623132929
Cebapcici dengan saus paprika dan bawang merah

Setelah menitipkan barang dan tidur sebentar, kami pun kemudian memulai eksplorasi kami di Split. Split layaknya kota yang terletak di tepi pantai memiliki iklim yang lebih hangat dan matahari bersinar dengan cerah di awal musim panas tahun ini. Langit biru dengan sinar mentari yang cerah membuat jalan-jalan kami lebih menyenangkan dibanding waktu diguyur gerimis di Paris. Kami berpapasan dengan kios makanan yang menjual Cebapcici, makanan khas Balkan yang juga populer disini. Uniknya di Kroasia, Cebapcici diberi bumbu paprika berwarna merah yang terlihat garang namun rasanya sama sekali tidak pedas menurut lidah Indonesia kami. Namun rasanya cukup enak dan cocok untuk kami yang suka daging panggang. Setelah menikmati makan siang sederhana, kami berjalan menuju kota tua Split yang terletak di pinggir pantai.

Semakin berjalan mendekati kota tua, kami melihat banyak peninggalan masa lalu yang masih menghiasi Split. Tembok kuno, reruntuhan sampai gereja dengan arsitektur kuno mulai tampak. Sebuah menara bel gereja terlihat seolah mengarahkan kami menuju kota tua dan kami pun kemudian sampai di pelabuhan Split atau Marina. Banyak perahu layar sampai kapal pesiar nampak parkir di pelabuhan yang indah ini. Di antara pelabuhan dan tembok istana Diocletian, sebuah jalan khusus pejalan kaki nampak membentang dengan banyak orang berlalu-lalang. Jalan yang disebut The Riva ini dibangun oleh Napoleon dan sekarang menjadi surga bagi pejalan kaki dan penikmat cafe yang banyak dibangun di sampingnya. Dulunya sebelum The Riva dibangun, Istana Diocletian berhubungan langsung dengan laut. Pintu selatan yang menjadi pintu utama menuju Istana Diocletian sekarang ini dulunya merupakan pintu keluar sang kaisar dikala bahaya karena berhubungan langsung dengan laut. Kaisar Diocletian bisa langsung kabur dengan naik kapal laut untuk menghindari bahaya.

 


Kami kemudian berjalan memasuki Istana Diocletian dari pintu selatan dan langsung disambut oleh struktur istana yang tinggi dan megah. Bagian istana ini sekarang dipenuhi oleh toko-toko souvenir dan turis yang hilir mudik melewati jalan bagian istana yang berhubungan dengan Peristyle (halaman istana). Di bagian istana ini, kita dapat mengunjungi basement Istana Diocletian yang terkenal tersebut. Saya pun tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengunjungi ruang istana yang pernah juga menjadi latar film Games of Thrones. Basement Istana Diocletian atau Podrumi,merupakan bagian istana yang dibangun untuk menyeimbangkan fondasi istana besar diatasnya. Setelah istana ini ditinggalkan oleh penghuni aslinya, para pendatang menggunakan Podrumi sebagai tempat pembuangan sampah dan baru di abad ke 20, struktur besar ini berhasil diekskavasi dan dibersihkan. Podrumi menjadi acuan dari para arkeolog untuk menentukan besarnya bagian utama Istana Diocletian yangs sekarang sudah punah. Ruangan besar yang ditopang oleh tiang-tiang batu yang kokoh ini merupakan bukti keahlian bangsa Romawi dalam membangun bangunan yang tahan lama. Istana Diocletian konon dibangun selama 11 tahun dan memakan korban 2000 orang budak yang tewas dalam proses pembangunan. Saya berjalan kesana-kemari sambil takjub menikmati peninggalan bangsa Romawi yang handal ini. Saya berpapasan dengan patung Kaisar Diocletian yang terlihat angkuh dan gagah. Kaisar yang sekarang lebih terkenal dengan penindasannya terhadap orang kristen dan pembagian pemerintahan Romawi menjadi Tetrachy (4 bagian kekaisaran) ini sekarang meninggalkan untuk kita istananya yang megah. Tidak ada istana Romawi yang tersisa sampai sekarang kecuali Istana Diocletian. (to be continued).

Further information :

  1. Di sekitaran terminal bis Split terdapat loker penitipan tas yang bisa anda gunakan jika anda ingin mengunjungi Split untuk Day Trip.
  2. Split merupakan pusat transit menuju kota-kota lain di Kroasia atau bahkan kota di luar negeri seperti Mostar(Bosnia), Venice (Italy), Bari (Italy) dan lain-lain. Ada terminal bis, kereta dan ferry yang bisa menghubungkan anda dengan kota-kota diatas. Anda bahkan bisa menumpang ferry menuju Bari, Italia.
  3. Harga tiket masuk Basement Diocletian adalah 42 Kuna.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s