Menikmati Lake Bled dan Hiking menuju View Point

Hujan turun mengguyur dari dini hari. Ramalan cuaca dan nasihat Sebastjan pun terbukti. Hal yang paling kami khawatirkan pun terjadi. Hari ini semestinya kami berangkat menuju Lake Bled dan kemudian menumpang Flixbus menuju Split. Masalahnya, kami sudah membeli tiket Flixbus dari Bled dan kami tidak mungkin merubah rencana kami yang sudah fix ini. Sambil bermalas-malasan di pagi yang dingin ini, kami pun mencoba mencari rencana lain. Berbagai rencana kami bahas dari mengunjungi Piran yang letaknya dekat pantai dan di luar jangkauan badai, Skocjan Cave yang menawarkan aktivitas indoor, sampai stay di Ljubljana sampai menjelang malam dan berangkat ke Bled untuk mengejar Flixbus tujuan Split yang sudah kami book.

 

Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu hujan deras ini untuk  mereda dan kemudian keluar untuk makan siang sebelum memutuskan apa yang hendak kami lakukan. Hujan terus mengguyur sampai jam 11 siang dan berubah menjadi gerimis berangin. Terdorong oleh rasa lapar yang tak terperi, kami pun keluar dari apartemen dibawah lindungan payung pinjaman Sebastjan. Hujan yang mengguyur membuat suasana kota tua Ljubljana menjadi romantis. Jalan-jalan bebatuan yang basah dengan pengunjung yang jarang membuat kami serasa yang punya kota ini. Warna bangunan-bangunan tua yang terbasuh oleh air hujan menjadi lebih terang dengan warna pastelnya. Kami pun kemudian berjalan ke restoran Chinese food yang kami lihat kala ikutan konser dadakan kemarin. Pemiliknya seorang imigran Chinese mengira kami berasal dari mainland dan langsung berbahasa Mandarin dengan kami. Tentu saja kami hanya menjawab sebisanya. Maklum, bahasa Mandarin kami sangat terbatas walau tampang kami masih serumpun dengan orang Mainland. Si Nyonya yang kangen dengan makanan Asia langsung memesan mie goreng yang rasanya mantap apalagi di luar sana sedang hujan.

Setelah makan, kami pun berjalan-jalan di bawah gerimis menikmati Ljubljana yang mulai ramai dengan pengunjung. Cafe-cafe pinggir sungai mulai ramai degan para pencinta kopi yang ingin menghangatkan diri. Suhu udara yang rendah kemudian menghantarkan kami juga ke pintu sebuah cafe yang bernama Cacao. Sesuai namanya, cafe ini menyajikan makanan dan minuman dari coklat. Pelayan yang fasih berbicara bahasa Inggris menyambut kami dan langsung mengantarkan kami ke meja dalam cafe yang hangat dan tentu saja jauh dari terpaan gerimis di luar sana. Saya memesan segelas coklat panas dan segelas cappucino untuk si Nyonya. Di luar dugaan, coklat panas yang datang bukan seperti coklat panas ala milo atau Ovaltine yang encer. Coklat panas ala Cocoa lebih kental dan mirip coklat yang dilumerkan. Jangan ditanya rasanya, mantep bener. Hangat dan manis membuat badan langsung nyaman. Si Nyonya sibuk mencari info mengenai kondisi Lake Bled terkini dari sosmed. Jerih payahnya kemudian berhasil. Seorang turis asal Malaysia yang nge-post fotonya di Lake Bled mengatakan kalau Lake Bled sekarang hanya mendung dan tidak diguyur hujan. Berdasarkan informasi ini, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami ke Lake Bled.

Lake Bled dapat dicapai dengan mudah dari Ljubljana. Cukup menumpang bis yang selalu ada setiap jam dari Terminal Bis Ljubljana dan sejam kemudian anda akan sampai di Lake Bled yang cakep banget itu. Kami menggeret koper dan tas kami menuju Terminal Bis dan langsung membeli one way ticket menuju Lake Bled. Tak perlu menunggu lama, kami pun sudah duduk di bis dan menikmati perjalanan kami menuju Lake Bled. Pemandangan Slovenia memang luar biasa. Pegunungan yang indah dengan padang rumput yang luas membuat perjalanan satu jam menuju Lake Bled seperti part of the show alias hiburan tersendiri. Bis meliuk-liuk melalui jalan sempit di pegunungan dan kami pun sampai di terminal Bled. Terminal Bled terletak di kota Bled yang sepi dan sepertinya ada karena industri pariwisata yang booming di Lake Bled. Sebuah kantor Tourist Information yang merangkap terminal bis berada di tengah kota dikelilingi oleh restoran dan hotel yang kala itu sepi. Kami pun kemudian turun dari bis dan bertanya dimana kami bisa menitipkan tas kami. Petugas TI dengan ramah mempersilahkan kami menitipkan tas di kantornya dengan bayaran 3 euro untuk satu tas. Sang petugas juga menjelaskan aktivitas yang kami bisa lakukan di Lake Bled. Berhubung kami tertarik dengan hiking, si petugas pun menyarankan kami untuk berjalan menuju Bled Castle atau View Point. Kami pun memilih jalur non-mainstream yaitu hiking menuju View Point.

Bermodal roti, air dan snack ala kadarnya, kami pun berjalan menuju Lake Bled. Tak jauh dari terminal bis, kami sudah sampai di danau kebanggaan penduduk Slovenia ini. Danau besar yang asri dengan pepohonan rindang di sekitarnya membuat mata segar memandang. Beberapa ekor bebek tampak menikmati waktunya berenang ria di danau tanpa terganggu oleh turis-turis yang memotretnya dari pinggir danau. Nun jauh di atas sana Ljubljana Castle berdiri menghadap danau yang indah ini. Selain Ljubljana Castle, daya tarik utama Lake Bled adalah pulau kecil di tengah danau yang merupakan tempat sebuah gereja berdiri. Gereja Katolik di tengah pulau ini memiliki menara lonceng yang konon jika membunyikan lonceng ini tiga kali, harapan anda akan terkabul. Selain itu,pulau ini juga merupakan tempat populer untuk pernikahan. Menurut tradisi, pengantin pria harus menggendong pengantin wanita sambil naik tangga menuju gereja agar pernikahannya langgeng. Tradisi yang unik namun populer bahkan dikala pemerintahan komunis yang melarang kebiasaan ini. Nampaknya tidak ada yang bisa mencegah usaha pasangan yang dimabuk asmara.

Kami pun berjalan sambil menikmati pemandangan, melewati jajaran hotel mewah yang terletak di tepi danau. Sungguh beruntung orang yang tinggal di hotel ini, pemandangan danau dengan pulau kecil ditengahnya langsung menyambut mata yang baru melek dari mimpi indah. Dari satu mimpi indah ke kenyataan yang tak kala indah. Jalan di tepi danau juga tertata dengan rapih dengan jalur pejalan kaki dan jalur sepeda. Kami menyusuri pinggiran danau sambil sesekali berhenti untuk berfoto dengan pemandangan sekitar. Air danau ini sangat bersih dan mengundang untuk orang berenang. Namun sayangnya, suhu hari ini yang dingin membuat air danau serasa air es dan tidak memungkinkan untuk berenang. Oh iya, untuk mencapai pulau di tengah danau, kita bisa menyewa kano atau menumpang Pletna, perahu tradisional Slovenia yang terbuat dari kayu. Kami melewatkan kunjungan ke pulau tersebut karena terlalu touristy dan ongkosnya yang lumayan mahal buat budget kami.

Langkah kami kemudian membawa kami menuju rute menuju tujuan utama kami yaitu View Point. Awalnya jalur ini bersinggungan dengan jalan raya, namun kemudian berbelok ke sebelah kiri menuju taman yang rindang. Dari taman ini kami berjalan menyusuri jalan setapak yang terjal menuju hutan. Meninggalkan danau Bled di belakang kami, kami terus berjalan dan kadang mendaki dalam sunyinya hutan ini. Kami merasa benar-benar terputus dari peradaban karena tidak ada seorangpun disana. Si Nyonya mulai parno namun tetap penasaran untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami bertemu dengan seorang turis asal Amerika yang berjalan turun dari View Point. Turis ini mengatakan bahwa kami tidak jauh dari View Point, kira-kira setengah jam lagi berjalan. Kami pun kemudian memperoleh tenaga lagi untuk berjalan dan akhirnya kami sampai di sebuah tangga yang nyaris vertikal. Kami pun kemudian memanjat tangga ini dan sampailah kami di View Point yang ternyata adalah sebuah kursi yang menghadap ke Lake Bled. Pemandangan yang indah dari kursi inilah yang merupakan daya tarik View Point. Baru menikmati pemandangan tak begitu lama, rombongan turis Asia datang dan bergabung dengan kami. Alhasil, kami hanya berfoto dan kemudian berjalan kembali menuruni jalur menuju pinggiran danau.

Berjalan santai di danau setelah menjalani trek menuju View Point merupakan suatu kelegaan sendiri. Kami merasa lebih tenang dan ketika bertemu dengan supermarket, kami langsung mampir untuk membeli makanan ringan dan soda. Saya menemukan minuman legendaris asal Slovenia yaitu Cockta. Cockta dulunya adalah minuman yang dikembangkan untuk menandingi popularitas Coca Cola di Blok Timur. Minuman ini cukup populer di jaman ketika Slovenia masih merupakan bagian dari Yugoslavia dan kemudian memudar setelah Slovenia merdeka. Sekarang banyak yang ingin mengenang rasa dari Cockta yang menurut saya mirip rasa pepsi lemon yang juga sudah punah di Indonesia dan kemudian memproduksinya lagi. Oh iya selain Cockta, saya juga sempat menikmati Kremna Rezina atau Bled Cream Cake yang merupakan kue kebanggaan Bled. Kue dengan krim tebal dan bolu ini tidak boleh dilewatkan ketika mengunjungi Bled. Rasanya manis dan tentu saja creamy, cocok dengan kopi yang saya pesan.

Ketika jam menunjukkan pukul 8 malam, saya kemudian mengambil tas yang kami titip di kantor TI. Petugas yang ternyata hanya menunggu kami untuk mengambil tas menyambut kami dengan ramah dan menambah kekaguman kami terhadap penduduk Slovenia yang ramah dan rajin. Setelah mengambil tas kami pun kemudian menunggu bis kami yang akan datang jam 10 malam. Kami kemudian menunggu sambil makan malam di sebuah restoran kecil yang menjual Cevapcici, makanan khas Balkan berupa bola-bola daging yang dipanggang kemudian dimasukkan kedalam roti. Cevapcici populer di daerah Balkan dan merupakan makanan khas Ottoman Turki yang diperkenalkan ke daerah ini di zaman keemasannya. Cevapcici sangat mengenyangkan dan ideal untuk makan malam kami berdua yang akan menghabiskan waktu semalaman di bis malam ini.

IMG20180622214145
Penampakan Si Nyonya yang Kedinginan

Malam pun tiba dan suhu udara mendadak menurun drastis. Kami menunggu di terminal bis di bawah terpaan angin dan suhu yang dingin. Si Nyonya yang tidak tahan dingin pun kemudian harus memakai baju 3 lapis ditambah Tolak Angin untuk melindungi tubuhnya dari angin. Kalau saya, hanya mengandalkan baju heattech dari Uniqlo dan wine yang saya beli dari Paris. Menggigil euy…saya berjalan kesana kemari untuk menghangatkan badan sampai akhirnya bis pun datang tepat jam 10 malam. Akhirnya, kami segera berangkat menuju Split.

Further info

  1. Tiket menuju Bled dari Ljubljana bisa dibeli di terminal seharga 7.8 euro one way. Jika anda ingin membeli tiket return harganya lebih murah. Jika Ljubljana adalah base anda dan anda ingin kembali ke Ljubljana di malam hari, saya sarankan untuk membeli tiket return atau anda harus membeli tiket dari sopir yang harganya lebih mahal sedikit.
  2. Anda bisa juga mencapai Lake Bled dengan kereta, namun stasiun kereta Bled terletak lebih jauh dari Lake Bled dan anda harus naik bis lagi untuk mencapai Lake Bled.
  3. Selalu membawa jaket jika anda ingin mengunjungi Lake Bled. Bahkan di musim panas sekalipun, suhu di sekitar Lake Bled cukup sejuk sehingga anda perlu memakai jaket biar ga kedinginan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s