Suatu Romansa di Ljubljana, Slovenia.

Hari ini adalah hari terakhir kami di Budapest. Badan yang masih malas untuk bangun mesti dipaksa untuk bangkit dari ranjang merah kesayangan yang sudah menampung badan kami berdua selama 3 malam. Dengan enggan, kami pun bersiap meninggalkan ibukota Hungaria yang sangat berkesan bagi kami. Setelah mandi dan berberes, kami pun kemudian meninggalkan apartemen Martina dan menumpang taxi dengan aplikasi Taxify yang pernah kami gunakan di Bratislava menuju Terminal bis Nepliget. Kalau di Bratislava, Taxify merupakan aplikasi taksi online dengan mobil plat hitam, di Budapest Taxify merupakan taksi resmi dengan logo seperti taksi pada umumnya. Taksi pun datang menjemput kami di samping apartemen Martina. Budapest pagi itu sangat sepi dan lalu lintas sangat lancar. Wajar, jam baru menunjukkan pukul 6 pagi. Kami yang masih ngantuk pun menikmati perjalanan menuju terminal Nepliget dengan mata separuh tertutup. Sebenarnya kami dapat menumpang metro menuju terminal Nepliget, namun karena kami harus menumpang Flixbus pukul 7 pagi, maka kami memutuskan untuk menumpang taksi saja.

IMG20180621054834
Bye-bye Budapest

Tidak sampai setengah jam saja, kami sudah sampai di terminal Nepliget yang saat itu sudah mulai ramai dengan calon penumpang yang menunggu di platform. Terminal Nepliget adalah salah satu terminal bis di Budapest. Di banding terminal Kelenfold, terminal bis tempat kami pertama kali menjejakkan kaki di Budapest, terminal Nepliget tampak lebih modern. Bangunan besar berlantai dua dengan fasilitas modern membuat suasana terminal nampak seperti bandara. Kami yang tiba setengah jam lebih awal langsung mencari peron bis Flixbus diparkir. Ternyata bis kami masih belum datang dan akhirnya kami menunggu di dalam sambil minum kopi. Lantai basement dari terminal bis ini merupakan tempat restoran dan minimarket berada. Anda bisa membeli makanan murah di sini sebagai bekal makanan selama perjalanan. Saya pun membeli sepotong pizza yang harganya cuma 350 HUF alias 1 Euro saja.

Setelah menunggu selama 15 menit dan tidak menemukan tanda-tanda kedatangan bis, kami baru sadar ternyata bis Flixbus yang akan membawa kami ke Ljubljana adalah bus Budapest-Torino. Untung, kami cepet nyadar kalo ga bakalan ketinggalan bis yang servisnya serba buru-buru itu. Bis pujaan para budget traveler ini memang jadi andalan buat jalan-jalan murah di Eropa walaupun kadang banyak pro dan kontra di kalangan penggunanya. Kami cukup menikmati layanan Flixbus, entah karena kami jarang naik bis, namun naik bis di Eropa memang menyenangkan. Seperti dalam perjalanan menuju Ljubljana kali ini, kami duduk manis menikmati perjalanan sambil melihat pemandangan ala Eropa Tengah yang indah. Perjalanan darat dari Budapest menuju Ljubljana menghabiskan waktu 6.5 jam. Si Nyonya seperti biasa menghabiskan waktunya untuk menebus waktu tidurnya yang terganggu, sementara saya sibuk membaca artikel mengenai Ljubljana dan tempat-tempat yang bisa kami kunjungi di sana.

Ljubljana adalah kota terbesar dan ibukota dari Slovenia, negara yang dulunya merupakan bagian dari Yugoslavia. Slovenia berbatasan langsung dengan Italia, Kroasia dan Austria. Letaknya yang strategis ini membuat penduduknya memiliki sifat yang lebih mirip gabungan antara orang Mediterania yang easy going dan ramah serta orang Austria yang memiliki etos kerja tinggi. Orang Slovenia terkenal ramah dan sangat suka ngobrol. Banyak dari mereka yang fasih berbagai bahasa, mungkin karena letaknya yang strategis dan dekat dengan bangsa yang berbeda-beda bahasanya. Walaupun Slovenia tergolong negara yang kecil, negara ini memiliki daya tarik yang luar biasa. Banyak wilayahnya terletak di pegunungan dan lembah yang memiliki pemandangan yang indah seperti Lake Bled dan Maribor. Tujuan kami mengunjungi Slovenia adalah menikmati pemandangan alam indah ala Slovenia di Lake Bled dan tentu saja menikmati kawasan old town Ljubljana.

Setelah sekali berhenti di halte dan beberapa jam berada dalam bus, sampailah kami di terminal bis Ljubljana. Terminal bis yang letaknya sepelemparan batu dari Stasiun kereta Ljubljana ini ternyata sangat sederhana. Cuma beberapa peron saja dan letaknya pun tepat di pusat kota. Setelah mengambil tas, kami pun berjalan menuju apartemen Sebastjan yang letaknya cuma 3 menit jalan kaki dari tempat kami menapakkan kaki di Ljubljana hahaha. Apartemen Sebastjan yang lokasinya strategis ini sebenarnya bukan apartemen pilihan pertama kami karena harganya yang lumayan mahal, namun karena host apartemen yang semestinya menjadi tempat kami tinggal di Ljubljana tidak bisa dihubungi,kami pun berpindah pilihan. Apartemen Sebastjan yang terletak di atas sebuah cafe ini sangat nyaman dan ideal untuk menjadi base mengunjungi Ljubljana dan tempat-tempat wisata lainnya di Slovenia. Kasur yang empuk, dapur, kamar mandi yang bersih dan pemiliknya yang ramah membuat betah tinggal di sini.

Usai meletakkan tas, kami pun kemudian melanjutkan perjalanan kami menuju kawasan kota tua Ljubljana. Perut kami yang belum diisi apa-apa selain pizza dari Budapest sudah protes minta diisi. Langkah gontai kami kemudian membawa kami ke pusat kota dan mata kami lansung tertuju pada meja-meja makan yang tertata di luar sebuah restoran. Restoran yang bernama Gostilna Sokol tersebut merupakan salah satu restoran yang paling kesohor di Ljubljana. Konon bir di restoran ini merupakan yang terbaik di seluruh Slovenia dan untuk alasan ini saja kami sudah yakin akan pilihan kami. Seorang pria tinggi besar mempersilahkan kami duduk di salah satu meja di luar restoran yang lebih nyaman ketimbang di dalam restoran yang terlalu ramai kala itu. Ketika membuka menu, kami mendapati makanan ala Slovenia sangat terpengaruh oleh negara-negara tetangganya. Ada spaghetti dari Italia, goulash ala Ceko, dan sosis Jerman. Pilihan kami pun jatuh pada spaghetti dan sup hangat yang ditampung dalam sebuah roti bulat. Tentu saja tidak akan lengkap tanpa bir sokol yang memiliki rasa madu yang lezat. Kami menikmati makan siang sambil menikmati pemandangan kota tua yang indah. Sebuah air mancur kuno di ujung jalan menjadi pusat perhatian turis yang sibuk memotret. Kota tua ini mengingatkan kami pada salah satu sudut kota Cesky Krumlov yang baru kami tinggalkan seminggu yang lalu.

Usai makan siang, kami kemudian berjalan-jalan di kawasan kota tua yang sangat nyaman. Jalanan berbatu, bangunan dengan cat pastel dan suasana hangat yang membuat sekedar jalan-jalan sore di tempat ini menyenangkan. Kami memulai jalan kami dari pusat kota yaitu Preseren Square yang ramai oleh turis dan penduduk lokal. Patung France Preseren dengan seorang muse (peri pemberi inspirasi dalam mitologi Yunani) berdiri dengan gagah sementara para turis duduk dibawahnya menikmati waktu istirahat. Ada dua figur yang sangat penting bagi penduduk Ljubljana, France Preseren dan Joze Plecnik. France Preseren yang merupakan pujangga kebanggaan Slovenia dan Joze Plecnik, arsitek yang banyak merancang bangunan di Ljubljana termasuk Triple Bridge yang menghubungkan Preseren Square dengan City Hall. Sesuai namanya, Triple Bridge adalah jembatan tiga ruas yang membentang diatas sungai Ljubljanica dan merupakan salah satu icon kota Ljubljana. Jembatan bergaya Venesia ini sendiri merupakan simbol dari Slovenia yang merupakan negara diantara Italia dan Jerman, seolah mengungkapkan bahwa Slovenia adalah bangsa yang easy-going ala Italia dan juga pekerja-keras ala Jerman.

Di sekitaran sungai, kita bisa menikmati pemandangan yang indah dan yang terlebih menyenangkan adalah suasananya. Para penduduk hilir mudik berjalan santai di Triple Bridge. Beberapa dari mereka berdiri melihat pemandangan sungai yang kala itu sedang dilewati oleh perahu dengan penyanyi dan penari. Sungai yang airnya berwarna hijau menjadi latar yang menarik bagi para pengunjung cafe-cafe di bantaran sungai untuk menikmati makan malam. Sungguh tidak ada yang lebih menarik dari bersantai melihat aktivitas sore di kawasan old town kota ini.

 

Ketika malam menjelang, suasana makin ramai dengan banyaknya turis dan penduduk yang nongkrong di cafe dekat sungai. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan dan membuat suasana romantis terasa, apalagi kalau berduaan seperti kami. Ljubljana Castle yang terletak di atas bukit juga disinari lampu sorot yang membuatnya nampak misterius, menambah aura malam yang semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan kami masih menikmati suasana kota ini. Bagaimana tidak, walaupun ukuran kota tua-nya kecil, jalan dari satu ujung ke ujung yang lain palingan cuma 15 menitan, tapi ambiencenya yang membuat betah. Kami pun sempat ikut menikmati konser musik dadakan yang terletak tak jauh dari kawasan kota tua.Tua muda bergabung dalam kebersamaan menikmati lagu-lagu Maroon 5 dan Bruno Mars.

IMG20180621220059
waktu nonton “konser”, maap  ngeblur
IMG20180621211546
Malam tiba

Usai menikmati musik, kami kemudian berjalan kembali ke apartemen kami dan memikirkan apa yang akan kami lakukan besok. Rencananya kami akan mengunjungi Lake Bled esok hari, namun Sebastjan mengingatkan kami bahwa besok akan ada badai melanda sebagian besar wilayah Slovenia,termasuk Bled dan Ljubljana sehingga bukan ide yang bagus untuk mengunjungi Lake Bled. Kami yang tidak paham dengan cuaca Eropa menanggapi peringatan Sebastjan dengan setengah percaya. Maklum hari ini matahari bersinar dengan cerah dan ini musim panas, masa iya ada badai? Dan nyatanya peringatan Sebastjan pun terbukti adanya. (to be continued)

 

 

Advertisements