Jalan-Jalan Malam di Budapest

Setelah menikmati segelas es kopi di cafe seberang apartemen, saya pun kembali ke apartemen untuk beristirahat sambil menunggu malam tiba. Rencananya malam ini kami akan kembali ke Fisherman’s Bastion untuk menikmati suasana malam di sana yang terkenal sangat indah. Budapest memang menyenangkan. Setiap inci kotanya menawarkan suatu keindahan dan suasana yang bikin betah. Hari ini adalah hari terakhir kami di Budapest karena keesokan harinya kami akan berangkat menuju Bratislava. Walaupun kami sudah menghabiskan 3 hari di Budapest, kami tetap merasa kurang mengeksplorasi kota ini. Memang kami cenderung menurunkan tempo traveling kami dibanding dengan ketika kami di Paris dan Ceko, namun mau gimana lagi, kami terlalu menikmati suasana santai kota yang nyaman ini.

Setelah jam menunjukkan jam 8 malam, kami pun kemudian beranjak keluar dari apartemen kami yang nyaman menuju halte bis diseberang jalan. Berdasarkan informasi yang kami dapat dari google map, kami bisa mencapai Fisherman’s Bastion dengan menumpang bis dari seberang apartemen kami. Dengan infomasi ini, kami pun pede naik bis dan kemudian sekitar 20 menitan kami sampai di tempat yang sangat asing buat kami. Kami sampai di kawasan perumahan yang kala itu sangat sepi dan hanya ada beberapa orang di jalan yang mulai gelap karena matahari mulai tenggelam. Bingung karena petunjuk dari google mengarahkan kami ke daerah ini, kami kembali mencari petunjuk jalan menuju Fisherman Bastion. Ternyata kami harus naik tangga yang cukup tinggi di sebuah taman tak jauh dari tempat kami berdiri. Tangga ini mengarah ke kawasan Castle District tempat Gereja St Mathias dan Fisherman’s Bastion berada. Sialnya, kala itu sudah mulai gelap dan tidak ada seorang pun di taman tersebut kecuali kami. Pura-pura berani walaupun dalam hati was-was juga, saya menenangkan si Nyonya yang mulai parno. Kami pun kemudian berjalan cepat dan menaiki tangga dengan terburu-buru.

Setelah sampai di puncak tangga, kami pun bernafas lega karena kami telah melihat tembok istana yang tidak jauh dari Fisherman Bastion. Menaiki tangga di tembok istana ini, kami pun kemudian sampai di pelataran Fisherman’s Bastion. Saat itu Fisherman’s Bastion sudah “diduduki” oleh banyak turis dan penduduk lokal yang ingin menikmati suasana malam di sini. Matahari mulai tenggelam dan kami mencari tempat yang masih kosong di teras benteng. Seorang pria tua memainkan biola dengan nada yang ceria menghibur para pengunjung yang sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Ada sepasang kekasih yang sibuk ngobrol, rombongan turis yang sibuk mengabadikan keindahan kota Budapest yang mulai disinari oleh lampu-lampu berganti sinar mentari, dan seorang pria kesepian yang berdiri menatap kosong ke arah Parliament’s Building. Saya dan si Nyonya duduk menikmati suasana senja temaram yang perlahan berubah menjadi malam. Dari tempat kami duduk kami bisa melihat Parliament’s Building yang bersinar bagai mahkota perak bermandikan sinar lampu yang bersinar dalam kegelapan malam. Angin kencang yang bertiup pun tidak mengurangi niat kami untuk menikmati suasana malam disini. Sungguh waktu terbaik untuk mengunjungi Fisherman’s Bastion adalah malam hari.

Setelah puas menikmati pemandangan kota Budapest, kami pun kemudian menumpang bis menuju Chain Bridge. Si Nyonya yang haus kemudian melihat kios minuman ringan di dekat Chain Bridge. Kami pun berjalan ke kios tersebut dan si nyonya mengambil sebotol Dr Pepper dari kulkas tanpa melihat harga. Kagetnya kami ketika kasir langsung menagih harga 1100 HUF yang setara denga 3.4 euro. 3.4 Euro buat sebotol soda? You must be joking. Namun karena si kasir sudah sigap memberikan struk pembelian, kami tidak bisa menolak untuk membeli. Ah sudahlah, kami juga yang teledor tidak melihat harga sebelum mengambil barang. Para pembaca hati-hati ya, jangan teledor seperti kami yang harus membayar mahal hanya untuk sebotol soda yang rasanya juga aneh.

Sambil menikmati soda aneh yang kata teman Amerika saya enak ini, kami berjalan menikmati kesunyian malam di jembatan yang membentang diatas Sungai Danube. Chain Bridge dihiasi lampu-lampu kuning yang membuatnya terlihat gemerlap ditengah gelapnya sungai Danube. Keindahan icon Budapest ini memang membuat orang yang menyebrang saja serasa berada di dalam film romantis. Kami bergandengan tangan sambil berjalan di bawah lampu taman yang bersinar terang menuju sisi Pest dari sisi Buda. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan.

IMG20180620223306
Cafe di kawasan Deak Ferenc

Setelah sampai di seberang sungai, kami pun kemudian menumpang bis menuju Deak Ferenc. Kawasan Deak Ferenc kala itu masih ramai, malah makin ramai dengan muda-mudi yang nongkrong di cafe dan restoran. Sayangnya, kami tidak bisa bergabung dengan mereka karena harus bangun pagi esok hari untuk berangkat ke Bratislava. Kami pun harus berpuas diri dengan menikmati kebab ukuran besar dekat apartemen kami. Sungguh indah Budapest, kami akan kembali lagi ke kota favorit kami ini suatu hari nanti.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s