Menikmati Sejentik Austria di Hallstatt

Dinginnya pagi membangunkan kami tepat pukul 6 pagi. Saya yang masih enggan meninggalkan Cesky Krumlov, mesti memaksakan diri bangun dan mandi. Hari ini adalah hari yang istimewa buat saya dan si Nyonya. Tepat setahun lalu, kami mengikat sumpah setia sebagai suami istri dan lebih istimewanya lagi hari ini adalah hari ulang tahun saya. Karena hari ini adalah hari yang spesial, saya  pun memilih destinasi selanjutnya yang juga tak kalah spesial. Hallstatt, Austria menjadi pilihan kami sebagai tempat merayakan hari jadi kami yang pertama sekaligus ulang tahun saya yang ke 25 (ehem..).

Setelah menyadarkan si Nyonya dari tidurnya dan sarapan, kami pun bersiap menuju Halstatt. Untuk menuju Halstatt, kami menggunakan jasa shuttle dari Beanshuttle yang mengantarkan kami langsung menuju Hallstatt. Perjalanan menuju Halstatt dari Cesky Krumlov dapat ditempuh dalam 3 jam saja jika menggunakan mobil pribadi atau shuttle. Opsi lain adalah kombinasi bis dan kereta yang cukup melelahkan dan lama, yaitu 6 jam. Supir Beanshuttle datang 5 menit sebelum jam 8 dan kami langsung dijemput di depan Hostel Merlin. Supir yang fasih berbahasa Inggris ini kemudian membawa tas kami dan menaruhnya di bagian belakang mobil van yang kala itu sudah hampir penuh dengan penumpang yang kebanyakan orang Asia (Korea dan Tiongkok). Kami pun kemudian mengambil duduk di samping pak sopir agar mendapat pemandangan daerah pedesaan Austria yang indah.

Perjalanan menuju Hallstatt sungguh menyenangkan. Jalannya yang mulus membuat si Nyonya tertidur lagi dengan lelap, sementara saya sibuk menikmati pemandangan daerah pedesaan Austria yang bikin mata seger. Pertanian yang subur, ladang hijau dengan bangunan ala Eropa di tengahnya, peternakan domba dan bahkan kuda terus menghibur saya sepanjang perjalanan. Keindahan alam yang asri ini juga ditambah dengan udaranya yang segar berhembus dari jendela yang sengaja saya buka karena ingin mengambil foto. Setelah berada di perjalanan selama dua jam, shuttle berhenti di sebuah pom bensin dan kami pun keluar menuju supermarket setempat. Wah kami sudah sampai di Austria. Sungguh tidak terbayang kami bisa sampai di negeri Sound of Music ini.

Shuttle pun kemudian berangkat setelah kami semua masuk ke dalam mobil. Perjalanan kami tersisa satu jam lagi dan Hallstatt pun menanti. Saya yang tidak bisa tidur di mobil terus menatap keluar sambil menikmati soundtrack Sound of Music yang terus mengiang di kuping saya. Ladang hijau berubah menjadi pegunungan dan kami pun semakin mendekati Halstatt. Antrian mobil pun semakin terlihat dan setengah jam kemudian kami sampai di Halstatt. Sopir menurunkan penumpang tepat di tempat parkir mobil yang tak jauh dari pinggir danau. Kami langsung terpukau dengan keindahan pemandangan danau yang indah tersebut sampai lupa kalau kami masih membawa tas dan koper kami. Setelah menikmati pemandangan sebentar kami pun berjalan ke kantor Tourist Information yang letaknya tak jauh dari tempat parkir. Dari petugas di kantor ini kami mendapatkan informasi berharga tentang tempat penitipan tas, letak dermaga perahu menuju stasiun kereta Halstatt dan lain-lain.

Penitipan tas di Hallstatt terdapat di stasiun cable car sekitar 5 menit berjalan dari kantor Tourist Information. Kami pun berjalan menggeret koper dan tas kami menuju stasiun yang merupakan titik keberangkatan turis yang ingin mengunjungi tambang garam Hallstatt. Tambang garam tersebut terletak di atas bukit sehingga untuk mencapainya perlu menggunakan cable car. Kami yang tidak tertarik dengan atraksi ini memutuskan untuk hanya menitipkan tas di loker yang tersedia di stasiun cable car tersebut.

Setelah menitipkan tas, kami pun berjalan menuju pusat kota Hallstatt. Jam masih menunjukkan pukul 11 siang, kami pun kemudian berjalan di kota yang banyak menarik perhatian turis manca negara ini. Awalnya kami sangat menikmati jalan-jalan kami di Hallstatt. Pemandangan yang indah, bangunan kayu yang berdiri menempel di kaki gunung dengan warna klasik, jalan berbatu dan atmosfirnya yang sungguh bikin tenang. Namun segalanya berubah ketika rombongan turis yang datang dalam jumlah besar datang. Suara cempreng pun terdengar dari jauh dan memecahkan ketenangan yang kami nikmati sebelumnya. Wah, Asian Invasion datang. Rombongan turis dengan senjata tongsis dan kamera mulai memenuhi jalan dan alun-alun Hallstatt. Kami kesulitan untuk berfoto tanpa kehadiran turis-turis yang terus datang memenuhi tempat ini. Astaga, rame banget tempat ini sekarang.

Kami pun mengungsi ke ujung desa yang masih terbilang sepi. Disini kami menikmati pemandangan gereja dan danau  Hallstatter yang sudah menjadi latar foto ikonik bagi turis yang mengunjungi Halstatt. Walau terkenal sebagai tujuan wisata sekarang, selama berabad-abad, Hallstatt terkenal sebagai kota pertambangan. Komoditi utama mereka adalah garam yang merupakan barang mahal di Eropa dari zaman Romawi. Oh iya, sedikit info trivia, tahukah anda kata gaji dalam bahasa Inggris yaitu “Salary” berasal dari bahasa Latin “Salarium” yang artinya garam. So pada zaman Romawi, para prajurit terkadang dibayar dengan garam yang pada saat itu merupakan barang mewah. Okay, cukup dengan infonya. Jika anda tertarik dengan sejarah pertambangan garam Hallstatt, anda bisa mengunjungi tambang Hallstatt yang terletak di atas gunung Dachstein. Cara mengunjunginya,anda hanya perlu naik cable car seperti yang saya jelaskan di atas.

 

Usai berfoto sejuta umat dengan pemandangan Hallstatt, kami pun mencari tempat untuk bersantap siang. Ada banyak restoran di pinggir danau yang indah dan menjual makanan ala Austria. Menikmati makan siang sambil dijamu pemandangan danau yang indah tentu bakalan menjadi kenangan ulang tahun dan perayaan anniversary pernikahan yang memorable. Namun, karena ramainya pengunjung, kami tidak berhasil mendapatkan tempat dan harus berpuas dengan makan sandwich isi Schnitzel seharga 4.5 euro dan bir yang kami beli di supermarket. Supermarket yang terdapat di dekat parkiran mobil ini merupakan life saver kami. Harga-harga makanan dan minuman di Austria memang lebih mahal dibandingkan dengan negara-negara tetangganya, namun harga di supermarket masih lebih masuk akal.

Usai  makan, kami pun kemudian berjalan-jalan kembali di sekitar Hallstatt sambil mencari spot yang sepi untuk duduk dan bersantai. Kami menemukan tempat di tepi danau yang cukup sepi dan asik untuk duduk sambil ngobrol. Ketika kami sedang asyik ngobrol, seekor angsa datang berenang melewati kami. Wah..angsa ini sama sekali tidak takut dengan kami. Dengan santainya angsa ini berlalu melewati kami dan kami yang masih takjub langsung memotret angsa cantik ini. Setelah merasa cukup menikmati Hallstatt, kami pun memutuskan untuk mengambil tas dan koper kami dan berangkat ke stasiun kereta Hallstatt. Walaupun kereta yang membawa kami ke Vienna baru berangkat 3 jam lagi, kami merasa sudah cukup dengan Hallstatt. Hallstatt terlalu ramai dan touristy buat kami. Dibalik keindahan foto gereja dan danau Hallstatt yang indah tersimpan kebisingan dan keramaian turis yang tumpah ruah dijalanan berbatunya. Kami pun kemudian membeli tiket perahu untuk menyebrang ke stasiun Hallstatt. Menumpang kapal bernama Stephanie ini merupakan pengalaman terbaik kami selama di Halstatt. Dengan perlahan, kapal berangkat meninggalkan desa Halstatt dan demikianlah perpisahan kami dengan kota indah Austria yang pesonanya menyihir banyak turis untuk mengunjunginya.

Practical Facts about Hallstatt

  1. Hallstatt dapat dicapai dengan bis atau kereta dari kota-kota di Austria seperti Vienna atau Salzburg. Perusahaan kereta Austria yaitu OBB memiliki website yang menayangkan jam keberangkatan tiap kereta dan anda juga bisa membeli tiket kereta disini. Jika anda membeli tiket dari jauh-jauh hari, anda akan mendapatkan harga yang lebih murah dibanding membeli dari mesin vendor yang terdapat di tiap stasiun.
  2. Anda bisa menitipkan koper di stasiun cable car di Hallstatt. Harga penitipan loker adalah 2 euro perjam. Tersedia berbagai ukuran loker namun semua memiliki harga yang sama.
  3. Stasiun kereta Hallstatt terdapat di seberang danau Hallstatt berhadapan langsung dengan kota Hallstatt. Jika anda datang atau pergi dengan kereta, anda harus menyeberang danau dengan menggunakan perahu kecil bernama Stephanie yang selalu datang menjemput para penumpang kereta. Harga tiket ferry adalah 2.5 Euro sekali jalan.
  4. Stasiun Kereta Hallstatt hanya memiliki fasilitas sederhana seperti mesin vendor tiket dan kursi taman. Tidak ada toilet di stasiun ini, jadi jika anda ingin ke toilet, pastikan selesaikan urusan anda sebelum sampai di stasiun ini. Biaya toilet di Hallstatt cukup mahal yaitu 1.5 Euro.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s