Jalan-jalan di Kawasan Jewish Quarter, Praha

Beranjak dari Havelska Koruna, kami menemukan pasar yang menjual buah-buahan dan oleh-oleh khas turis. Havel’s Market namanya. Pasar ini mungkin merupakan tempat paling murah jika anda ingin membeli oleh-oleh seperti gantungan kunci, magnet kulkas dan souvenir-souvenir lainnya. Kami sendiri tidak begitu tertarik membeli oleh-oleh seperti itu karena harganya yang lumayan mahal dan tidak otentik Ceko, sebagian besar made in China.Jadi lucu melihat kerumunan turis asal Tiongkok yang belanja magnet kulkas di Old Town Praha, serasa jeruk makan jeruk haha. Jika anda ingin sesuatu yang otentik, belilah snack atau kue wafer ala Ceko yang enak dan harganya murah.

 

Baru berkeliling di pasar sebentar, kami kemudian mulai kedinginan karena hujan dan suhu yang rendah masih menyelimuti Praha. Kami pun mengungsi ke sebuah cafe bernama Cafe Gaspar. Menunggu hujan yang masih terus mengguyur, saya pun memesan segelas hot wine untuk menghangatkan badan. Hot wine adalah anggur yang dicampur dengan beberapa rempah yang berkhasiat untuk menghangatkan badan. Sangat ideal untuk diminum saat hujan seperti sekarang. Sepertinya cuaca dingin ini mengikuti kami dari Paris. Kami yang hanya ngepak baju summer berasa saltum karena terus-terusan diguyur hujan.

Setelah nongkrong selama nyaris sejam, hujan pun mereda dan kami meninggalkan Cafe Gaspar menuju Jewish Quarter atau Josefov. Josefov adalah kawasan Ghetto atau perkampungan orang Yahudi yang terdapat di Praha, tak jauh dari Old Town Square. Berjalan menuju kawasan Josepov, kami menemukan patung penulis kebanggaan bangsa Ceko yaitu Franz Kafka. Patung perunggu Franz Kafka yang digendong oleh seorang pria berbadan besar tanpa kepala ini merupakan karya Jaroslav Rona yang menggambarkan salah satu scene dari novelnya yang berjudul ” Amerika”. Walaupun terlihat aneh, namun patung ini tetap menjadi sasaran potret para turis yang penasaran, termasuk kami.

Jewish Quarter

Setelah berfoto dengan patung Franz Kafka kami pun kemudian berjalan menuju pusat kawasan Josefov untuk mengunjungi museum-museum bertema kehidupan bangsa Yahudi Ceko. Bangsa Yahudi pertama kali bermukim di Praha pada abad ke 10 dan mereka tinggal di daerah rawa yang di masa depan menjadi kawasan Josefov. Seperti di negara-negara Eropa pada abad pertengahan, bangsa Yahudi selalu diperlakukan dengan kecurigaan dan tidak dianggap bagian dari penduduk Eropa. Para penguasa kerajaan Eropa memperlakukan mereka dengan tidak adil dan terkadang membatasi ruang lingkup mereka dengan membangun tembok di sekeliling kawasan tinggal bangsa Yahudi. Para penduduk Yahudi sering menjadi sasaran kebencian walaupun para penguasa membutuhkan jasa mereka yaitu peminjaman uang. Pinjam-meminjam uang di abad pertengahan dilarang oleh gereja karena melibatkan riba. Penduduk Eropa, termasuk kerajaan Bohemia, tempat Praha berada adalah mayoritas Nasrani. Hanya bangsa Yahudi yang bisa meminjamkan uang, namun tidak jarang bukan untung yang didapat tapi malah nyawa yang melayang. Terbelit hutang terkadang raja atau kaum bangsawan malah mengusir atau membunuhi bangsa Yahudi. Terdorong oleh motif ekonomi, Raja Josef dari Kerajaan Bohemia memperlakukan bangsa Yahudi dengan lebih baik. Kawasan ghetto tempat bangsa Yahudi tinggal dibangun dan tembok-tembok penghalang diruntuhkan. Bangsa Yahudi menamakan kawasan ini dengan nama Josefov, sesuai dengan nama Raja Josef yang bersimpati kepada mereka. Penduduk Yahudi pun mulai berkembang dan Praha menjadi salah satu kota Eropa dengan jumlah penduduk Yahudi terbesar. Namun segalanya berubah ketika Perang Dunia II meletus. Adolf Hitler dengan pasukannya menduduki Prague dan mulai mengadakan pembersihan terhadap etnis Yahudi. Sebagian besar penduduk beretnis Yahudi dikirim ke Kamp Konsentrasi dan populasi penduduk Yahudi dari 55000 jiwa pada tahun 1939 berkurang drastis menjadi 10 ribu orang setelah tentara NAZI diusir dari Praha. Sekarang hanya sekitar 3 ribu penduduk Yahudi yang tercatat di Ceko, dan sebagian besar telah tinggal di Praha. Sekarang kawasan Josefov menjadi kawasan elit dengan bangunan-bangunan modern dan peninggalan penduduk Yahudi berupa sinagoga-sinagoga dan pemakaman Yahudi masih berdiri sebagai bukti sejarah dan museum.

Pinkas Synagogue merupakan museum Yahudi pertama yang saya kunjungi. Setelah membeli tiket yang mencakup beberapa museum di kawasan Josefov, saya diberikan Kippa, topi kecil khas Yahudi, untuk dikenakan sesuai dengan tradisi Yahudi yang mewajibkan para pria untuk mengenakan penutup kepala. Pinkas Synagogue dulunya merupakan tempat ibadah penduduk Yahudi, namun sekarang sinagoga ini berubah fungsi menjadi monumen untuk mengenang penduduk Yahudi yang menjadi korban kekejaman NAZI Jerman. Penindasan Nazi terhadap penduduk Yahudi Ceko memang merupakan suatu moment yang menyedihkan dalam sejarah Ceko. Sebanyak 155 ribu penduduk Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi seperti Terezin dan Austwich. Sebagian besar dari mereka meninggal di kamp konsentrasi dan mayat mereka tidak pernah ditemukan. Di dinding bagian dalam sinagoga ini, kita bisa melihat nama-nama penduduk Yahudi yang meninggal dalam masa penindasan tersebut. Begitu saya masuk, saya mendengar lantunan suara mazmur yang diiringi dengan penyebutan nama-nama mendiang penduduk Yahudi. Lantunan mazmur dalam bahasa Yahudi yang khidmat dan nama-nama yang terukir di tembok membuat hati saya merasa sedih. Kok bisa ya ada kekejaman seperti ini? Hati saya makin masygul ketika naik ke lantai dua dari Sinagoga yang memaparkan lukisan karya anak-anak Yahudi yang dipenjara di Kamp Terezin. Lukisan anak-anak yang masih polos dan tidak mengetahui bencana apa yang sedang mereka alami. Sungguh kunjungan ke Sinagoga ini membuat mata saya terbuka mengenai bagaimana kebencian begitu melampaui batas-batas nilai kemanusiaan.

Keluar dari Pinkas Synagogue, saya sampai di pemakaman Yahudi. Puluhan ribu nisan tersebar di tanah tak rata. Sebagian besar nisan terletak menumpuk dan membentuk seperti gundukan nisan. Dari abad 15 sampai 17, pemakaman ini merupakan satu-satunya tempat penduduk Yahudi boleh menguburkan jenazah mereka. Menurut kepercayaan bangsa Yahudi, jenazah yang sudah dikubur tidak boleh dipindah. Inilah mengapa nisan-nisan di pemakaman ini seperti bertumpuk. Berada di pemakaman ini, anda akan merasakan suatu kedamaian yang menenangkan. Saya tidak merasa takut atau ngeri berada di pemakaman ini. Pemakaman ini dan Ceremonial Hall yang berada dibelakangnya terlalu indah untuk ditakuti. Berjalan di jalan setapak menuju Ceremonial Hall, saya menemukan sebuah lilin dan tumpukan kerikil diatas salah satu batu nisan. Suatu simbol bagi mereka yang telah pergi namun tetap diingat oleh mereka yang masih hidup di dunia yang fana ini.

Ceremonial Hall adalah bangunan tempat penduduk Yahudi mengadakan upacara pemakaman. Bangunan yang bergaya Neo-Romanesque ini sekarang menyimpan barang-barang yang berhubungan dengan upacara penguburan. Tidak jauh dari Ceremonial Hall, terdapat Klausen Synagogue yang merupakan bangunan sinagoga terbesar di Praha. Klausen Synagogue menyimpan banyak perlengkapan religi umat Yahudi seperti gulungan kitab Taurat, tongkat alat bantu baca Taurat, mantel, rabi dan peralatan ibadah lainnya. Saya yang belum pernah mengunjungi Sinagoga sebelumnya merasa kagum dengan keindahan bangunan ini walaupun nampak sederhana. Namun kekaguman saya terhadap Klausen Synagogue segera berganti setelah saya mengunjungi Spanish Synagogue.

 

Spanish Synagogue terletak di sebelah patung Franz Kafka yang kami kunjungi sebelumnya. Bangunan ibadah umat Yahudi ini dibangun dengan gaya arsitektur Moorish (Afrika Utara) yang kaya dengan ornamen emas dan desain yang eksotis. Bagian dalam sinagoga dihias dengan motif tanaman dan bintang Daud yang mewah. Keindahan sinagoga ini mewakili kekayaan komunitas Yahudi di Praha sebelum masa pendudukan NAZI. Saya betah berlama-lama di sini mengamati keindahan kubah dan motif di dindingnya yang indah.

Peeing Statues

Usai mengunjungi kawasan Josefov, kami pun berjalan menuju kota tua sambil mampir sejenak ke depan Museum Franz Kafka. Tujuan saya mengunjungi museum ini bukanlah untuk mengunjungi museum tersebut, tetapi untuk melihat patung Proudy, atau yang lebih terkenal dengan nama Peeing Statues, karya David Cerny. Patung dua pria yang tampak mengencingi peta Ceko ini memiliki daya tarik yang luar biasa. Banyak turis yang datang ke sini hanya untuk berfoto dengan patung tembaga ini, termasuk saya. Mungkin lucu kali ya?

Usai mengunjungi Proudy, kami pun kembali ke Apartement Anicka dengan tram. Dalam perjalanan menuju Apartemen Anicka, kami menatap Charles Bridge dengan keramaiannya dari kejauhan. Ah kami simpan untuk esok hari saja. Praha dan segala keindahannya tidak cukup dinikmati hanya dalam waktu sehari.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s