Jalan-Jalan Sehari di Paris (Part 2)

Eclair ohh Eclair..

Usai menikmati makan siang dan menghangatkan badan dengan wine, kami pun kemudian berjalan kaki kembali ke apartemen Benjamin yang jaraknya hanya setengah jam jalan kaki dari Notredame. Menyusuri Rue San Martin, kami pun melewati banyak cafe, supermarket dan restoran yang menawarkan banyak makanan khas Prancis sampai Asia seperti Kebab, Pho dan juga Chinese food. Sebagai pecinta roti dan kue enak, saya pun terhenti di depan Boulangerie, toko roti ala Perancis.

Dari luar saja berbagai kue dengan topping coklat dan buah-buahan sudah membuat saya heavy breathing. Si Nyonya yang tahu dengan kecintaan saya pada kue-kue ala Perancis langsung menawarkan untuk mampir. Jadi begini pemirsa, tahun lalu kami pergi ke Naples, disanalah cintaku pada kue2 ala Prancis bersemi. Lah Naples kan di Italia? Memang. Tapi dinasti Bourbon yang asalnya dari Prancis pernah menguasai Italia Selatan  yang juga mencakup Naples.Dinasti inilah yang memperkenalkan kue-kue enak ke bangsa Italia seperti canoli, baba, eclair dan buanyak kue-kue lainnya. Waktu di Naples dulu, saya pernah menyantap 5 buah Baba dalam sehari. Ini bikin si Nyonya khawatir mengingat Baba itu manis banget dan mengandung rum. Oh iya balik lagi, so masuklah saya ke Boulangerie dan memesan satu buah Eclair yang ukurannya dua kali lebih gede dari cafe kenamaan sejuta umat di Jakarta.  Rasanya? jangan dibandingkan. Yang ini lebih enak dan filling coklatnya ga pake hemat. Melimpah ruah sampai mulut dan bibir penuh dengan coklat meleleh yang nikmat.

 

Ngopi santai di cafe

Sambil menikmati eclair, kami berjalan sampai dekat gerbang Porte San Martin dan berhenti untuk ngopi sejenak di sebuah cafe. Cuaca yang dingin berangin membuat ngopi terasa nikmat. Duduk sambil mengamati orang lewat dan mendengar percakapan orang dalam bahasa yang tidak kita mengerti merupakan pengalaman yang cukup asik. Tidak perlu nguping pembicaraan cewe-cewe jomblo yang ngomongin pacar temennya seperti di cafe di Jakarta atau omongan ABG tanggung yang sok ngopi sambil ngoceh ” Wuehh.. dengerin gue wehhh..wuehhh..” Tidak ada ocehan macam begini yang biasa mengganggu me time saya di coffee shop Jakarta. Yang ada hanya percakapan dengan suara seksi ala Sophie Marceau yang menggelitik kuping dan bikin malas beranjak.

 

IMG20180612123307
mesin penjual tiket Metro yang menerima uang tunai dan kartu kredit

Pengalaman dengan Metro Paris

Jam menunjukkan pukul 12 siang dan kami masih punya banyak waktu untuk mengunjungi satu tempat lagi di Paris. Kami pun kemudian memilih mengunjungi gereja Sacre Cour. Mengunjungi Basilica Sacre Cour tidaklah sulit, namun kami harus naik metro yang kebanyakan menjadi momok bagi turis asing. Kenapa? Karena metro di Paris terkenal rawan copet dan banyak gelandangan yang ngemper di sini. Sambil menenangkan si Nyonya yang masih parno jalan di stasiun Gare du Nord semalam, saya mengatakan kalau kita tak perlu takut. Lah kita pengalaman di Roma dan Naples loh yang copet n petty crimenya selevel sama Paris dan survive masa cuma gini aja takut haha. Akhirnya kami pun berjalan menuju stasiun metro Cheateau de Eau untuk menumpang metro line 4. Untuk menaiki metro kita perlu membeli tiket di mesin yang selalu tersedia di tiap stasiun metro. Kami membeli 4 tiket satuan untuk kita berdua karena hanya akan menggunakan tiket untuk ke Sacre Cour dan kembali ke Gare de l’Est. Suasana stasiun metro ternyata biasa saja. Memang ada beberapa gelandangan yang tidur di lorong menuju peron namun mereka tidak mengganggu. Metro pun tidak seramai metro di Roma yang sesak dengan penumpang. Walaupun demikian kami tetap waspada dan selalu memegang tas anti copet kami.

Guru Kelana dan Nyonya VS Scammers

Basilica Sacre Cour terletak di bukit yang bernama Montmartre. Bukit yang merupakan tempat penguburan korban perang Prancis vs Prussia ini dinamakan Montmartre karena alasan tersebut. Basilica Sacre Sour terletak di puncak dari bukit ini dan terletak bagaikan mahkota putih di bukit tertinggi  di kota Paris ini. Untuk sampai ke Basilica Sacre Cour, kami harus naik tangga yang lumayan banyak. Buat kaki kami yang sudah biasa jalan jauh, tangga seperti ini bukanlah masalah. Yang jadi masalah adalah gerombolan scammer yang menghantui tangga-tangga ini. Sejak kedatangan kami di Paris, kami sudah berhadapan dengan gerombolan pria keturunan Afrika yang banyak nongkrong di stasiun. Sekarang kami mengamati dari kejauhan bagaimana gerombolan ini mencegat turis dan memaksa memasangkan gelang di tangan mereka. Si Nyonya mulai gentar namun saya berusaha menenangkan dan memintanya untuk bersembunyi dibelakang saya. Ketika melewati mereka, salah satu dari pria tersebut mencengkram tangan saya dan berkata dalam bahasa Prancis yang tidak saya pahami.”NO!!!” seru saya sambil menepis cengkramannya tersebut. Si Nyonya yang keburu parno langsung meminta saya berjalan cepat ke atas dan kami pun meninggalkan gerombolan scammers yang ngedumel ga karuan di belakang. Untuk yang belum tahu scam macam apa ini, ini adalah scam friendship bracelet yang sering terjadi di berbagai kota tujuan turis. Saya pernah bertemu dengan scam modal gini di Athens,Rome dan kali ini Paris. Modusnya adalah memasangkan gelang dengan cara apapun lalu meminta bayaran untuk gelang yang dianggap sudah dibeli tersebut. Licik ya? Untuk menghindarinya mudah, langsung saja acuhkan dan jangan sampe tangan anda dipasang gelang tersebut.

Basilica Sacre Cour

Selain insiden tersebut kunjungan kami ke Basilica Sacre Cour cukup menyenangkan. Di barisan tangga terakhir menuju gereja, seorang musisi memainkan melodi romantis dengan biolanya. Kami pun kemudian berhenti sebentar untuk mendengarkan lagu tersebut sambil menikmati pemandangan kota paris dari atas bukit Montmartre. Usai mendengarkan senandung romantis tersebut, kami pun memasuki Basilica Sacre Cour. Gereja yang selesai dibangun tahun 1914 ini memiliki aura yang berbeda dengan Notredame. Pencahayaannya lebih memadai dan penggunaan mosaik ala Byzantium mengingatkan saya pada gereja-gereja peninggalan Kekaisaran Byzantium di Ravenna, Italia. Kaya dengan emas dan warna cerah serta penggambaran tokoh Injil yang manusiawi namun agung membuat saya terpana dan menyempatkan diri untuk duduk menikmati keteduhan gereja ini.

To Praha

Usai mengunjungi Basilica Sacre Cour, kami kemudian menumpang metro menuju Apartemen Benjamin. Hujan sudah berhenti dan petualangan kami hampir berakhir. Bagian selanjutnya dari petualangan kami adalah mengunjungi Ibukota Republik Ceko yaitu Praha. Setelah mengambil tas kami dari Benjamin dan mengucapkan selamat tinggal kepada pria yang baik hati ini, kami berjalan menuju halte disamping Gare De l’Est tempat bis Regiojet, tumpangan kami mangkal. Bye-bye Paris and see you in the morning,Praha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s