Good Bye Bali and Hello Phuket

Perjalanan kami di Bali telah berakhir. Saatnya untuk berpisah dengan rombongan teman-teman kantor yang masih akan menghabiskan satu hari di seputaran Kuta untuk berbelanja. Pagi-pagi buta kami berangkat menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan mode transportasi favorit kami yaitu, Grab. Perjalanan kami selanjutnya adalah menuju Phuket, Thailand dan dari Phuket kami akan menempuh jalan darat menurun menuju Krabi, Hatyai, Penang, Ipoh, Kuala Lumpur dan berakhir di Singapura sebelum kembali ke tanah air tercinta. Rute ini sebenarnya mirip dengan jalur backpacking saya pertama kali pada tahun 2011 yang silam. Sekarang saya kembali melalui jalan kenangan bersama sang Nyonya tercinta.

Pesawat Air Asia membawa kami terbang dari Pulau Dewata menuju Ibukota Malaysia dalam waktu 3 jam. Kami yang masih ngantuk karena bangun terlalu pagi sampai di KLIA 2 dengan wajah kuyu dan lapar. Mengingat pesawat kami menuju Phuket masih 5 jam lagi, kami pun iseng jalan-jalan ke Mitsui Outlet KLIA. Mitsui adalah mall yang menampung banyak toko yang menjual barang bermerk dan konon harganya lebih murah dibandingkan dengan harga di tanah air. Mal yang biasanya dikunjungi oleh turis yang menunggu penerbangan mereka ini sangat mudah dicapai. Cukup berjalan keluar KLIA 2 di Level 1 dan menumpang shuttle menuju Mitsui. Shuttle datang tiap 20 menit melalui KLIA sebelum sampai di Mitsui. Sesampainya di Mitsui, anda bisa menitipkan tas dan bawaan anda tanpa membayar sepeser (atau seringgit pun). Jika anda terbang dengan beberapa maskapai tertentu seperti Malaysia Airline, Air Asia, Cathay Airlines dan lain-lain, anda bisa juga menggunakan fasilitas self  check-in dan tidak perlu khawatir tentang penerbangan anda selama berbelanja di Mitsui.Jadwal shuttle menuju Mitsui bisa di lihat di sini.

Setelah berkeliling di mal mewah dan keluar masuk outlet barang-barang bermerek tanpa membeli apapun, kami pun kemudian menumpang shuttle menuju KLIA. Penerbangan kami menuju Phuket akan berangkat dalam waktu 3 jam. Walaupun kami sudah self check in di Mitsui, kami tampaknya masih trauma ketinggalan pesawat seperti di Istanbul setengah tahun yang silam.Daripada berlari-lari dan ketinggalan pesawat, lebih baik kami main aman dan makan siang santai di McDonald’s KLIA. Setelah menunggu selama tiga jam, pesawat pun membawa kami menuju Phuket. Penerbangan ke Phuket hanya menempuh waktu satu setengah jam dan selama penerbangan saya menghabiskan waktu dengan menonton film seri Vikings yang sudah saya download sejak semalam.

Setelah sampai di Phuket International Airport, kami langsung mencari booth yang menjual tiket shuttle menuju Patong. Ada beberapa cara untuk menuju Patong. Kita bisa naik taksi, shuttle atau bis menuju Phuket Old Town dan kemudian lanjut dengan Song Theaw warna biru. Dari berbagai opsi tersebut, saya memilih untuk naik shuttle langsung ke Patong karena lebih cepat dan efisien. Tiket Shuttle hanya 180 baht seorang dan penumpang diantar langsung ke hotel tujuan.

” Soyo tikit osaiiii.” jawab sang penjual tiket kepada saya yang bertanya dimana letak shuttle. Karena kurang jelas dengan jawaban si penjual, saya pun mengulangi pertanyaan saya dan kembali dijawab dengan jawaban ” Soyo tikit osaiii” dengan suara yang lebih keras. Akhirnya saya baru ngeh kalo yang dimaksud adalah ” Show your ticket outside.”

Show your ticket outside? Maksudnya? Jadi kita tinggal keluar bandara n lambai-lambai tiket gitu? Ah beriman saja dan ikutin instruksinya. Kami pun keluar dari bandara sambil memegang tiket shuttle. Baru saja keluar dari pintu exit, kami langsung dicegat oleh seorang pria berseragam yang langsung melihat tiket dan meminta kami menunggu di dekat van. Oh begini toh sistemnya. Sistem jemput bola antara penumpang dan pengemudi ini baru pertama kali saya rasakan selain di Indonesia. Setelah jumlah penumpang memenuhi kuota tempat duduk, sang supir pun kemudian meminta penumpang untuk naik ke mobil.

Perjalanan menuju Patong menempuh waktu 1.5 jam melalui jalan yang berkelok-kelok dan naik turun bukit. Sesekali terjadi kemacetan ketika memasuki Phuket Town karena adanya pengaspalan jalan. Phuket sepintas memang mirip dengan Bali. Kami merasa dejavu ketika menikmati perjalanan ke Patong. Pertokoan sampai restoran dan cafe ramai dengan turis namun yang membedakan adalah disini tulisannya semua dalam aksara Thai yang tidak kami pahami. Setelah melalui perjalanan selama sejam, shuttle kemudian berhenti di sebuah kantor tour agent. Seorang karyawan meminta para penumpang untuk turun dan menanyakan hotel tempat kami tinggal. Setelah mencatat tempat kami tinggal, karyawan ini kemudian menawarkan paket tour Phi Phi Island,  James Bond Island dan paket tour lainnya. Sayangnya, harga yang ditawarkan sangat mahal (paket one day tour ke Phi-Phi Island dengan speedboat untuk satu orang seharga 3000 baht!). Untung saya sudah research sebelumnya dan menolak dengan halus tawaran karyawan tour agent tersebut.  Setelah sopir menerima daftar alamat hotel para penumpang, shuttle pun kembali melaju ke Patong.

Langit pun semakin gelap ketika shuttle kami makin mendekati Patong. Suasana semakin ramai dengan hotel, restoran dan cafe yang bertebaran di kanan dan kiri jalan yang ramai. Suasana yang lively ini membuat suasana Legian di bulan Desember terlihat tidak ada apa-apanya. Patong rame banget euy! Satu persatu penumpang diantarkan dan kami pun sampai di penginapan Airbnb kami di Patong yaitu RK Fashion. Penginapan ini terletak di atas toko pakaian yang juga berfungsi sebagai meja check in. Heran ga tuh haha. Kamar kami cukup luas dan harganya hanya 1000baht semalam. Cukup lah buat istirahat dan santai jauh dari keramaian Bangla Road yang bising namun cukup dekat untuk berjalan ke sana. Usai berberes kami pun kemudian mencari makan. Awalnya kami ingin makan malam di Banzaan Night Market, namun langkah kami kemudian terhenti di Patong Night Market yang ramai. Alhasil sepiring Padthai (buat saya) dan sepiring daging babi panggang (buat nyonya) pun hinggap di tangan kami. Lumayan juga untuk makanan penyambut kami di Thailand. Setelah makan kami pun mampir ke Jungceylon untuk ngemal ala Thailand. Mal yang ramai dengan turis dan penduduk lokal ini serasa begitu hidup dengan berbagai ornamen Natal yang menghiasi berbagai bagian mal. Sayangnya karena kami sudah lelah, kami hanya mampir sebentar dan kembali ke penginapan kami untuk beristirahat. Hi Phuket, We’ll see you again tomorrow.

Advertisements

3 thoughts on “Good Bye Bali and Hello Phuket

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s