Belanja Oleh-Oleh di Pasar Desertir, Tbilisi

Tinggal di sekitaran Rustaveli Avenue memberikan kesan yang sangat berbeda dengan kawasan Old Town. Bangunan-bangunan besar yang masih memiliki kesan bangunan Soviet berdiri berdampingan dengan bangunan modern yang mewakili semangat penduduk Georgia untuk mengejar ketinggalan mereka. Jalan yang lebar dengan kendaraan yang lalu lalang dengan cepat diapit oleh jalur pedesterian yang nyaman dengan kursi dan pepohonan yang rindang. Hari ini adalah hari terakhir kami di Georgia karena esok pagi, kami akan berangkat menuju Istanbul. Lalu apa yang biasanya dilakukan di hari terakhir? Shopping oleh-oleh tentunya.

Tempat paling ideal untuk berbelanja oleh-oleh di Tbilisi adalah Dezerter’s Bazaar ( Dezertirebi Bazroba dalam bahasa Georgia). Dezerter’s Bazaar adalah pasar yang konon dinamakan demikian karena dulunya pasar ini adalah tempat para desertir (tentara yang membelot) menjual senjata dan perlengkapan perang mereka. Pasar ini dapat dicapai dengan mudah dengan menumpang metro menuju stasiun Station Square dan berjalan sekitar 5 menit dari stasiun. Pasar ini ramai dikunjungi oleh penduduk lokal dan kebanyakan dari mereka datang kesini untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti buah-buahan, daging, sampai kelontong dan makanan siap saji.

 

Keluar dari Station Square, kami langsung disambut dengan teriknya matahari dan suasana ramai orang yang hilir mudik menuju ke arah Pasar. Walaupun tidak seheboh Grand Bazaar di Istanbul, pasar ini cukup menghibur dengan banyaknya barang jualan yang tersedia. Seorang ibu-ibu menjual keju berukuran besar dan manisan khas Georgia yang bernama Churchela. Nah Churchela yang wujudnya mirip dengan sosis ini sebenarnya adalah kacang-kacangan atau buah kering yang kemudian di ikat dengan tali lalu dicelupkan ke sirup anggur dan dikeringkan dengan cara digantung. Churchela bisa bertahan berbulan-bulan sehingga cocok buat dijadikan oleh-oleh. Selain Churcela, kami juga membeli magnet kulkas dengan gambar tempat-tempat wisata di Georgia dan gelas wine dari tanduk kambing sebagai oleh-oleh. Belanja di pasar ini pun asyik karena penjualnya ramah-ramah dan suka bercanda. Saya nyaris membawa pulang sebotol cha-cha (sejenis vodka ala Georgia) gara-gara diajak ngobrol sama penjualnya. Untung si Nyonya mengingatkan kalau kami masih akan pergi ke Turki dan ga punya ruang untuk sebotol besar cha-cha. Yahh…..

Setelah puas berbelanja, kami pun kembali ke apartemen Temo untuk menaruh barang belanjaan. Belanjaan oleh-oleh kami ringkes dan dengan mudah kami taruh di tas backpack kami. Inilah untungnya jalan-jalan dengan muatan ringan, ngepack pun ga pake ribet dan cepet. Setelah selesai packing, saya pun melanjutkan jalan-jalan saya di sekitaran Rustaveli. Bermodal google map dan koneksi internet Beeline yang mantap, saya pun berjalan menuju clock tower Tbilisi yang unik itu. Langkah demi langkah membawa saya melewati bangunan tua khas Tbilisi yang antik. Beberapa bangunan nampak tak berpenghuni namun ada juga yang telah berubah fungsi menjadi restoran dan cafe. Penduduk Tbilisi nampaknya sadar bagaimana memanfaatkan bangunan tua mereka. Daripada diruntuhkan dan didirikan bangunan baru, lebih baik diubah-fungsikan saja. Alhasil, banyak bangunan tua yang masih terpelihara dan menjadi daya tarik bagi turis yang berkunjung.

Sesampainya di Clock Tower, saya baru menyadari kalau ternyata saya berjalan kembali ke kawasan Old Town. Astaga, ternyata Rustaveli dan Old Town itu dekat sekali rupanya haha..maklum agak sedikit disorientasi setelah pindah-pindah kota. Clock Tower yang kelihatan agak miring ini merupakan karya seorang pembuat boneka bernama Rezo Gabriadze. Setiap jam sekali, boneka malaikat akan keluar dan memukul lonceng untuk menandai waktu. Unik juga ya konsepnya? Setelah mengunjungi Clock Tower, saya pun berjalan menuju sebuah cafe untuk menikmati segelas bir dingin untuk melegakan rasa haus di siang yang panas ini. Harga minuman alkohol di Georgia sangat murah bila dibanding dengan Indonesia atau Turki sekalipun. Sebotol bir dengan ukuran 500ml di cafe hanya sekitar 3-4 lari dan harga di supermarket bisa lebih murah lagi.

 

Advertisements

One thought on “Belanja Oleh-Oleh di Pasar Desertir, Tbilisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s