Menikmati Sore di Kazbegi, Georgia

Sampai di Kazbegi, kami baru menyadari betapa kecilnya kota ini. Sebagian besar perumahan di desa ini merupakan penginapan atau hotel dengan pusat kota yang ditandai dengan patung Alexander Kazbegi, seorang penulis terkenal dari Georgia yang lahir disini. Kazbegi atau nama barunya Stepantsminda benar-benar berbeda dengan Tbilisi yang ramai dan kaya dengan bangunan unik. Kazbegi ya Kazbegi, sebuah kota sederhana dengan pemandangan pegunungan yang tidak ada tandingannya di Georgia.

 

Sesampainya di Kazbegi, kami memutuskan untuk jalan-jalan di kota ini karena hari sudah sore. Langkah kaki kami kemudian menyusuri jalan di kota yang tidak rata dan berdebu karena adanya pembangunan penginapan baru di sekitar hotel kami menginap. Jalan yang sepi dan lengang membuat kami merasakan suatu atmosfir yang berbeda dengan tempat-tempat yang pernah kami kunjungi sebelumnya. No tourists at sight! Kami merasa kami adalah turis satu-satunya di desa ini. Sebagian besar adalah penduduk lokal yang berjalan cuek sambil membawa barang belanjaan atau Babushka yang sesekali menengok ke arah kami sambil tersenyum ketika melewati rumah mereka. Iseng mencari aktivitas yang bisa kami lakukan di desa ini, kami kemudian pergi ke rental sepeda di pusat kota. Setelah mendapatkan sepeda dengan harga 5 lari untuk dua jam, kami pun kemudian berkeliling kota sambil menikmati pemandangan Kazbegi yang indah. Kemanapun mata kami berpaling selalu kami melihat pegunungan hijau yang menjulang dengan puncak es dan langit yang biru. Kami merasa seperti berada di dalam lukisan realisme dimana segala keindahan alam ditampilkan apa adanya dihadapan kami.

Puas bermain sepeda, kami pun kemudian mampir ke cafe di pusat kota. Sekedar duduk dan menikmati Bir Kazbegi, kami duduk ngobrol dan membicarakan rencana kami esok pagi. Sebagai penggemar trekking, saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk berjalan menuju Gergeti Church yang merupakan tempat tujuan kami di Kazbegi dan jika fisik memungkinkan kami akan melanjutkan perjalanan ke Glacier yang jaraknya sekitar 6 jam jalan kaki dari Kazbegi. Begitu excitednya saya dengan plan ini, saya sampai meminta si Nyonya untuk membeli sepatu baru di Athens sebagai ganti sepatunya yang kekecilan. Rencana yang matang dengan persiapan yang mantap.

Usai menikmati bir, kami kemudian membeli sebuah kebab berukuran besar di sebuah kios kebab tak jauh dari tempat kami menginap. Kebab berukuran jumbo ini hanya seharga 5 lari. Gila murah bener dan ukurannya cukup untuk makan kenyang perut Asia kami yang memang ga muat banyak. Traveling ke Georgia bikin kita tak perlu was-was soal harga, karena memang harganya relatif lebih murah dibanding tempat yang pernah kami kunjungi di Eropa. Usai menikmati kebab, kami pun pulang ke hotel dan beristirahat untuk mengumpulkan energi buat trekking besok ke Gergeti Church.

Further info :

  1. Kazbegi adalah kota yang kecil, bahkan lebih mirip desa dibanding kota. Kota ini memiliki beberapa restoran dan supermarket untuk berbelanja barang kebutuhan sehari-hari. Jangan berharap kota ini selengkap Tbilisi karena memang bedanya jauh seperti Jakarta dengan Jawai (Kalimantan Barat, kampung papa saya).
  2. Jika anda ingin trekking dan butuh perlengkapan seperti tenda, lampu, kompor atau perlengkapan lainnya, anda bisa menyewa di toko Mountainfreaks yang terdapat di pusat kota Kazbegi.
  3. Tidak butuh waktu lama untuk tinggal di Kazbegi, karena kebanyakan turis mengunjungi tempat ini hanya untuk Gergeti Church atau trekking ke pegunungan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s