Nongkrong Malas 24 jam di Athens

Pesawat Ryanair yang akan membawa kami dari Ciampino, Roma datang terlambat 6 jam. Dengan mata ngantuk dan kecapean gara-gara berlari mengejar kereta di Termini, kami bertahan dengan modal voucher makanan dan wifi gratisan. Bandara Ciampino terlalu kecil untuk menghabiskan waktu selama 6 jam. Untungnya kami masih bisa browsing dan melihat-lihat foto perjalanan kami. Setelah menunggu selama 6 jam, pesawat Ryanair pun datang dan mengantarkan kami menuju Athens.

Penerbangan menuju Athens hanya menempuh waktu 2 jam saja. Kami sampai jam setengah 4 pagi dan dijemput oleh Kostas, supir dari Apartment Efi, tempat kami menginap semalam di Athens. Rencana kami sebelumnya di Athens adalah menginap semalam di Apartment Efi dan kemudian mengunjungi Napflio paginya lalu makan malam di Athens sebelum kembali ke airport untuk penerbangan ke Tbilisi. Namun akibat penerbangan Roma-Athens mengalami delay, kami akhirnya memilih membatalkan niat ke Napflio 😦 . Mobil KIA putih membawa kami ke Artemida, tempat Apartment Efi berada. Kota kecil di tepi laut ini letaknya hanya 20 menit dari airport. Alasan kenapa kami memilih tinggal disini dan bukan di pusat kota Athens adalah karena sesuai jadwal, kami mestinya sampai di Athens tengah malam dan kami memilih penginapan yang dekat dengan airport. Apartment Efi menyediakan layanan antar jemput bandara yang sudah termasuk dalam biaya penginapan. Pilihan praktis di tengah malam saat badan sudah kecapean dan butuh tidur cepat. Setelah sampai di apartemen, kami langsung merebahkan badan kami di ranjang tanpa banyak bicara lagi.

Sinar mentari pagi menerangi apartemen pagi dengan terangnya. Saya pun terbangun walaupun hanya tertidur selama 2 jam saja. Setelah membuka jendela, saya menyadari kami berada di lingkungan perumahan yang sepi dan tidak ada seorang pun di luar. Naluri penjelajah saya pun tergoda dan saya kemudian berjalan keluar untuk mencari segelas kopi dan roti untuk sarapan.

Artemida terlihat sangat sepi pagi itu. Toko-toko dengan alfabet Yunani yang unik masih belum menunjukkan geliatnya. Pantai berbatu dengan air yang tenang mengundang seorang wanita gemuk berenang sendirian. Matahari pagi bersinar dengan sangat terik walau jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Udara yang lembab khas wilayah pantai membuat badan terasa lengket dan saya pun mati gaya entah mau kemana. Akhirnya saya mampir ke sebuah toko roti dan membeli beberapa roti untuk sarapan saya dan si nyonya.

Setelah menikmati sarapan dan berberes-beres, kami pun diantar kembali ke bandara.Dalam perjalanan kami melalui daerah pinggir kota Athena yang gersang dan panas. Suhu udara saat itu sekitar 38 derajat kata si sopir dan angka ini tergolong normal karena sekarang adalah musim panas. Luar biasa panasnya menurut saya. AC mobil pun tidak terasa dinginnya. Setelah sampai di bandara International Athens, kami membeli 3 day tourist transport card untuk menuju pusat kota. Kartu ini merupakan kartu untuk menumpang semua transportasi umum di Athens dan harganya 22 euro. Kartu yang ditujukan untuk turis ini sudah mencakup biaya metro dari dan ke bandara yang harganya 20 euro pp.  Kartu ini lumayan menguntungkan mengingat kami akan menggunakan metro untuk pulang pergi bandara.

Petualangan kami di Athens dimulai dengan menumpang Metro menuju stasiun Metro Akropolis. Metro yang modern dengan ac yang sejuk membuat perjalanan menyenangkan. Kami menghabiskan waktu ngobrol dan melihat pemandangan di luar kereta yang didominasi oleh pegunungan terjal dan perumahan. Seorang rahib Orthodox berjenggot panjang dengan baju serba hitam tampak sibuk ngobrol dengan seorang turis Amerika yang kelihatannya baru pertama kali mengunjungi Athens. Kunjungan kali ini adalah kunjungan saya yang kedua kali ke Athens.Dulu terdorong oleh kisah Mitologi Yunani dan film kartun Saint Seiya, saya pergi mengunjungi Athens. Akropolis yang menjulang tinggi dengan Kuil Parthenon di atasnya, souvlaki yang lezat nan murah, bir Mythos yang segar, dan kawasan Plaka yang ramai dan hidup masih membekas di ingatan saya. Kali ini saya akan membawa si nyonya untuk menikmati pesona Athens dalam waktu 10 jam.

Sesampainya di metro station Akropolis, kami langsung berjalan mencari Athens Studio Hostel untuk menitipkan tas kami. Athens Studios merupakan salah satu hostel ternama di Athens dan hostel ini juga menyediakan layanan penitipan tas. Setelah “beban” kami ditinggalkan di Athens Studio, kami pun berangkat mencari makan siang. Tentu saja, pilihan kami jatuh pada Souvlaki. Potongan ayam panggang dengan bumbu tsaziki,potongan bawang segar,tomat dan taburan bubuk cabe diapit dengan roti pita yang gurih merupakan makanan yang ideal di siang yang panas ini. Sekaleng bir Alfa pun menjadi teman yang tepat untuk menikmati Souvlaki.

Panasnya suhu Athens yang mencapai 40 derajat celcius  hari ini membuat kami terpaksa membatalkan niat kami mengunjungi Kuil Parthenon. Sempat bingung mau kemana, akhirnya saya memutuskan untuk nongkrong di Athens Metro Mall sampai suhu udara menurun dan wajar bagi kami untuk jalan-jalan. Memang dasar orang Indonesia, jauh-jauh ke Yunani buntut-buntutnya ke mall juga. Athens Metro Mall terletak dekat dengan stasiun Metro Agios Dimitrios dan pernah saya kunjungi juga dua tahun yang lalu. Kami kemudian menikmati saat santai minum kopi dan ngemal ala orang Athena yang tak jauh beda dengan kebiasaan orang Indonesia. Si nyonya kemudian membeli sepasang sepatu Sketcher untuk menggantikan sepatunya yang kekecilan. Harganya ternyata lebih mahal daripada harga di Jakarta namun apa boleh buat daripada ga bisa trekking di Kazbegi, Georgia nantinya.

Setelah ngadem di Athens Metro Mal, kami pun kembali ke daerah Plaka untuk sekedar jalan-jalan sore. Melewati toko-toko souvenir yang menggoda dengan dagangannya seperti sabun,buah-buahan kering, kaos dan raki membuat mata si nyonya berbinar-binar. Sebentar saja lepas dari pandangan mata, si nyonya sudah hilang di antara toko-toko tersebut. Kawasan Plaka memang menyenangkan untuk menghabiskan waktu.Berjalan di lorong dengan toko-tokonya dan sesekali berpapasan dengan peninggalan Yunani kuno seperti Roman Agora, Hadrian Gate and Tower of Wind membuat kami lupa akan suhu panas yang perlahan menurun. Tak terasa kami sudah berjalan 3 jam dan perut pun mulai lapar. Berdasarkan ingatan saya akan restoran enak yang kami kunjungi 2 tahun lalu, kami berjalan menuju Monastiraki.

O’ Thanasis, restoran yang terletak tak jauh dari stasiun Metro Monastiraki merupakan restoran favorit saya di Athens. Bermula dari iseng beli souvlaki sampai dine in di dalam restoran sederhana ini, saya jatuh cinta dengan ambience dan rasa gurih gyros di restoran ini. Porsinya yang besar pun cukup untuk mengisi perut kami berdua. Kami pun mengunjungi O’ Thanasis dan memesan shish kebab dan setengah liter red wine. Rasa daging yang gurih ditemani dengan roti pita dan tomat bakar sungguh menggugah selera. Saya pun tidak puas hanya dengan shish kebab, seporsi Greek salad dengan keju feta pun menemani makan malam kami. Alhasil, kami keluar dengan perut kenyang dan hati yang puas.

IMG20170630203846

Setelah makan malam, kami melanjutkan tujuan terakhir kami di Athens yaitu Syntagma Square untuk menyaksikan upacara pergantian prajurit jaga. Syntagma Square yang dulu saat saya kunjungi penuh dengan orang yang berdemo karena krisis moneter, sekarang juga ramai dengan nuansa yang berbeda. Banyak turis dan juga penduduk lokal yang duduk-duduk di tangga menikmati aktivitas sore sambil bersantai. Saya dan si nyonya lebih tertarik menyaksikan peristiwa pergantian prajurit jaga yang unik tersebut. Seorang prajurit jaga dengan kostum khas Yunani melangkah perlahan menuju pos jaga dan dibarengi dengan petugas jaga lain yang meninggalkan posnya. Gerakan yang lamban namun elegan ini menarik banyak perhatian turis yang kemudian mengabadikan moment ini dengan telepon selularnya termasuk kami.

Setelah menyaksikan pergantian petugas jaga, kami kembali ke Athens Studios untuk mengambil tas kami. Matahari yang mulai tenggelam membuat perjalanan lebih nyaman dan tanpa terasa kami sudah sampai di Athens Studios. Suasana malam di Akropolis sangat seru dengan adanya pameran budaya dan keramaian restoran yang menggoda kami untuk makan lagi. Namun waktu kami terbatas. Athens dan segala daya tariknya harus menunggu lain kali. Penerbangan kami menuju Georgia akan berangkat 3 jam lagi. Kami pun membawa “beban” kami kembali ke Metro menuju airport. See you again Athens…and see you soon Tbilisi.

Further info :

  1. Pemerintah kota Athena menjual kartu transportasi selama tiga hari termasuk ongkos naik metro menuju airport pulang pergi seharga 22 euro. Jika anda akan menghabiskan waktu di Athens selama tiga hari dan menggunakan metro untuk pulang pergi ke airport, kartu ini sangat berguna bagi anda. Jika anda tidak ingin menggunakan metro, anda bisa naik bis dari depan airport Athens yang berangkat tiap jam.
Advertisements

2 thoughts on “Nongkrong Malas 24 jam di Athens

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s