Quo Vadis, Guru Kelana? : Kisah Sepiring Cacio e Pepe dan Kehujanan di Roma

Metro Line Merah membawa kami pergi dari stasiun Giulio Agricola menuju stasiun San Giovanni. Tujuan kami adalah mengunjungi Catacombe San Callisto yang terletak di Appian Way, salah satu jalan tertua di dunia. Dua tahun lalu saya pernah mengunjungi Catacombe San Sebastiano dan sangat terkesan dengan sejarah kompleks kuburan kuno Romawi tersebut. Alih-alih pengen membuat si nyonya terkesan dengan bangunan kuburan yang unik di bawah tanah tersebut, saya pun mencari cara untuk mengunjungi Catacombe San Callisto yang menyimpan jenazah beberapa Paus. Rutenya mudah sebenarnya. Kita hanya perlu naik metro line merah sampai stasiun San Giovanni dan kemudian menumpang bis no 218 menuju Appia Antica dan berjalan sedikit menuju Catacombe San Callisto.

Langit mendung dan sedikit gerimis mengiringi langkah kami menuju Appia Antica. Kami pun berjalan cepat dan kebetulan menemukan Church of Domine Quo Vadis yang luput dari perhatian saya dulu. Gereja ini dibangun ditempat Rasul Petrus yang melarikan diri dari Roma bertemu dengan penampakan Tuhan Yesus. Menurut legenda, pada masa pemerintahan Kaisar Nero, para pemeluk agama Kristen mengalami penindasan yang luar biasa. Rasul Petrus pada suatu saat melarikan diri dari Roma melalui Via Appia dan bertemu dengan Tuhan Yesus yang berjalan menuju Roma. “Quo Vadis, Domine?” atau “Hendak kemana, Tuhan?” tanya Rasul Petrus kepada Tuhan Yesus. ” Aku hendak kembali ke Roma untuk disalibkan lagi demi kamu”. Lalu Rasul Petrus yang merasa sedih memperoleh kembali nyalinya dan kembali ke Roma untuk menghadapi kematiannya.

Kami berdua masuk dan beristirahat sebentar di gereja sederhana yang pada saat itu hanya ada kami berdua. Sebuah potongan marmer berukir kedua telapak kaki manusia menarik perhatian kami. Ternyata potongan marmer berukir ini dipercaya merupakan jejak kaki Tuhan Yesus yang tercetak saat penampakannya di Via Appia. Saya pun segera mengabadikan marmer bertuliskan huruf latin ini,

Usai mengunjungi Church of Domine Quo Vadis, kami pun berjalan menyusuri Via Appia untuk mencapai Catacombe San Callisto. Baru berjalan selama 10 menitan, awan hitam di atas kami pun mulai menumpahkan air hujan membasahi kami. Malangnya bagi kami, Via Appia tidak memiliki tempat berteduh sehingga opsi terbaik kami cuma berjalan cepat sampai ke Catacombe. Sialnya, sudah basah-basahan di jalan, kami mendapati Catacombe San Callisto tutup. Kami pun terpaksa berteduh di halte bus terdekat dan menunggu bis manapun untuk membawa kami keluar dari Via Appia.

Singkat kata, sebuah bis lewat dan membawa kami ke halte di depan Circo Massimo. Stadium balap kuda yang dulu merupakan kebanggan penduduk Roma ini masih mengagumkan walau hanya sedikit yang masih bisa dilihat. Stadium ini merupakan bagian dari kota tua Roma yang mencakup Forum, Colosseum, Market of Trajan dan lainya. Perut kami yang lapar menghalangi  kami untuk mengeksplorasi tempat-tempat tersebut dan kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Pilihan makan siang kami jatuh pada makanan kesukaan penduduk Roma yaitu cacio e pepe. Cacio e pepe adalah sejenis pasta dengan bumbu keju pekat dan taburan lada hitam. Menurut penerawangan mbah Google, tempat terbaik untuk menikmati cacio e pepe adalah sebuah restoran di daerah Testaccio yang dikenal dengan nama Felice a Testaccio. Tanpa tunggu lama kami pun langsung menuju restoran terkenal tersebut.

Setelah menumpang Tram no 8 dan sedikit berjalan di kawasan Testaccio, kami pun sampai di Felice. Restoran yang tampak berkelas ini sungguh sesuai dengan reputasinya. Dekorasi yang sederhana namun elegan serta mutu layanan yang ramah membuat kami tak ragu melangkahkan kaki ke dalam restoran ini. Untungnya kami sampai sebelum makan siang dan masih mendapat meja walaupun kami tidak membuat reservasi sebelumnya. Segera kami memesan sepiring cacio e pepe yang kemudian kami bagi berdua (solusi hemat nan romantis). Setelah menunggu 10 menitan, sang pelayan datang membawa pesanan kami yang diracik langsung di depan kami. Pasta hangat dicampur dengan keju dan diaduk dihadapan kami yang nyaris ngeces mencium harumnya keju bercampur pasta tersebut. Setelah hidangan siap, kami pun kemudian menikmati cacio pepe yang tampak menggoda kami dengan warna dan keharumannya. Rasanya sungguh mantap. Pasta dengan tekstur lembut dan kenyal berbalur keju yang harum terasa menari di dalam mulut kami. Porsi besar yang telah biasanya sulit kami habiskan sekarang malah terasa sedikit. Kami berdua merasa porsinya kurang saking enaknya.

Setelah menikmati Cacio e Pepe, kami kemudian kembali ke kawasan kota tua Roma dengan Tram no 8. Tujuan kami selanjutnya adalah berfoto di Colosseum dan Roman Forum. Berhubung harganya yang mahal dan saya sudah pernah mengunjungi kedua tempat ini sebelumnya, kami pun memutuskan untuk berfoto saja dan kemudian berjalan menuju Basilica San Clemente. Basilica San Clemente adalah gereja paling unik yang pernah saya kunjungi. Gereja yang bangunannya dibangun di abad ke 11 ini dibangun untuk menghormati Paus Clement I. Uniknya, gereja ini dibangun diatas kompleks rumah romawi kuno dari abad ke 4 yang berfungsi sebagai tempat ibadah orang kristen mula-mula. Bukan hanya itu, dibawah kompleks rumah romawi kuno tersebut terdapat Mithraeum (kuil dewa Mithras) yang berasal dari abad ke dua. Basilica San Clemente dari bangunan atas sampai ke dua tingkat di bawahnya tampak seperti kue lapis dari zaman yang berbeda. Sayangnya, saya dilarang untuk berfoto di kompleks Basilica San Clemente. Saya berjalan di sekitaran koridor kompleks kuno dan mengagumi lukisan bertema kristen dan bangunannya yang masih utuh. Ruang paling dasar yang berasal dari abad kedua terlihat sangat misterius dengan adanya patung dewa Mitras membantai seekor banteng dan struktur bangunan yang lebih kuno dan sederhana. Aliran air juga terdengar dari bawah struktur bangunan dan dari penjelasan papan petunjuk, aliran air tersebut adalah sungai bawah tanah yang banyak terdapat di bawah kota Roma.

Usai mengunjungi Basilica San Clemente, kami pun menumpang tram kembali ke Trastevere untuk menikmati makan malam dan beristirahat. Hari yang panjang bagi kami dan esok adalah hari terakhir kami di Italia sebelum kami bertolak ke Athens. Another day, another adventure.

Advertisements