Amalfi Coast Honeymoon (Part 4) : Antara Kami, Lemon dan Amalfi

Panas sinar matahari sore mulai mereda intensitasnya ketika motor kami melaju dari Positano menuju Amalfi. Jalanan berkelok dan kadang melalui terowongan kami lalui sambil sekali-kali melihat ke birunya laut Mediterania di sebelah kanan kami. Seumur hidup saya, saya belum pernah mengendarai motor dengan rute seindah Amalfi Coast. Rute KasPatara di Turki yang dulu pernah saya jajal memang indah, namun tidak menantang seperti rute Amalfi Coast. Sesekali mobil dari belakang membunyikan klakson tanda ingin mendahului. Dengan kondisi jalan yang banyak belokannya, ga heran kalau disini sering terjadi kecelakaan.

Setelah kurang lebih sejam kami pun sampai di Amalfi. Kota di pesisir Amalfi yang terakhir kami kunjungi ini terletak diantara Positano dan Ravello. Dikenal sebagai kota wisata kaum ningrat Inggris, Amalfi dulunya merupakan salah satu negara maritim terkuat di Italia. Bersama dengan Pisa,Venezia, dan Genoa, Amalfi merajai lautan Mediterania dengan armada dagang dan tempurnya. Bahkan sebelum Venezia menguasai perdagangan di Mediterania, Amalfi sudah duluan menjadi penguasa lautan. Namun kejayaan Amalfi meredup setelah dikuasai oleh bangsa Normandia dan kemudian terkena tsunami pada tahun 1343. Sejak saat itu Amalfi kehilangan pamornya dan hanya berstatus sebagai kota pelabuhan biasa. Namun geliat turisme Italia Selatan kemudian membuat Amalfi menjadi salah satu destinasi wisata yang menjanjikan terutama untuk para pecinta laut dan sinar mentari.

Setelah memarkir motor di dekat dermaga Amalfi, kami kemudian berjalan menuju pusat kota yaitu Piazza Del Duomo. Kesan saya terhadap kota ini adalah panas dan seru. Lorong-lorong dengan warna warni bangunan yang menjulang langsing ke atas dengan pertokoan di bawahnya membuat kami merasa berada di Venezia. Toko-toko menjual lemon dengan ukuran raksasa dan si nyonya pun tergoda untuk membeli es lemon. Panas-panas gini minum yang seger-seger memang mantap jiwa. Tanpa nunggu lama, dua gelas es lemon pun berada dalam genggaman. Selain es lemon, banyak toko menjual pernik-pernik dengan tema lemon, sama seperti di Positano. Bedanya, harga disini lebih bersahabat dibanding dengan Positano. Saya menyempatkan membeli limoncello dan bumbu masak untuk oleh-oleh adik dan teman di tanah air.

Piazza Del Duomo adalah alun-alun di depan Amalfi Cathedral yang didaulat sebagai pusat dari kota Amalfi. Keramaian turis dan penduduk lokal nampak berbaur disini menikmati sore yang ramai di depan gereja. Ada yang duduk-duduk dekat air mancur dan ada juga yang duduk santai di tangga menuju gereja. Kami pun ikut nimbrung sambil menikmati es lemon kami yang asem asem seger. Gereja besar di belakang kami adalah Amalfi Cathedral yang dibangun untuk menghormati Rasul Andreas atau Saint Andrew, salah satu dari ke 12 murid Kristus. Konon setelah wafat, relik Rasul Andreas dibawa ke Constantinople ( Istanbul sekarang) dan disemayamkan di Church of Holy Apostles. Namun ketika Perang Salib ke 4 yang ditujukan ke Constantinople berlangsung, relik Rasul Andreas dibawa ke Amalfi dan disemayamkan di Amalfi Cathedral. Bangunan gereja didominasi oleh berbagai budaya yang pernah singgah di Amalfi. Mosaik Byzantium, tiang dan lengkungan khas Arab, pilar ala romawi,hiasan dan ukiran khas Neo Baroque sampai beberapa lukisan khas Normandia tampak menghiasi bangunan gereja. Untuk mengunjungi crypt (ruang bawah tanah) tempat relik Rasul Andreas disemayamkan, pengunjung harus membayar 3 euro. Mengunjungi kubur para rasul merupakan suatu obsesi bagi saya sehingga 3 euro bukan harga yang besar. Saya pun segera masuk ke dalam gereja dan mendapati ruangan gereja dengan gaya Neo Baroque yang elegan. Gereja ini masih berfungsi sebagai tempat ibadah dan ketika saya berada disana, banyak turis dan penduduk lokal yang datang untuk berdoa. Saya pun kemudian segera berjalan ke crypt untuk melihat tempat Rasul Andreas disemayamkan. Sebuah patung lelaki tua dengan salib berbentuk X berdiri di atas altar yang menjadi tempat relik sang rasul disimpan. Ruangan bawah tanah ini begitu syahdu dan tenang. Pengunjung pun bersikap tenang menghormati tempat peristirahatan terakhir salah satu murid Kristus ini.

Usai mengunjungi Amalfi Cathedral, kami pun melanjutkan jalan-jalan kami di Amalfi. Kami berjalan mengikuti turis-turis lain yang tampak sibuk memenuhi jalan-jalan di Amalfi. Bangunan-bangunan khas Italia yang langsing dengan warna coklat dan toko-toko yang berjualan souvenir bertebaran disekitar pusat kota. Si nyonya yang suka dengan pernak-pernik dan souvenir menggandeng saya keluar masuk toko sekedar cuci mata. Gantungan kunci, limoncello, bumbu spaghetti sampai taplak dengan motif lemon menjadi jualan utama toko-toko disini. Harum lemon semerbak di toko manapun kami kunjungi.

Berjalan ke arah pelabuhan, kami melihat ceruk-ceruk yang sekarang menjadi toko atau restoran. Ceruk-ceruk ini adalah galangan kapal tempat kapal dibuat untuk memenuhi ambisi Amalfi sebagai negara maritim di abad pertengahan. Ceruk-ceruk ini menjadi saksi sejarah kejayaan Amalfi dan warisan bagi penduduknya sekarang yang juga berjaya di industri pariwisata. Di pelabuhan ini terdapat kapal ferry yang melayani rute Salerno-Amalfi-Positano-Sorrento. Awalnya saya berencana untuk naik ferry pulang dari Amalfi,bahkan tiket pun sudah dibeli online dari sebulan sebelumnya. Namun karena rencana berubah kami pun menghanguskan tiket tersebut.

 

Setelah puas berjalan-jalan di Amalfi, kami pun kembali ke Salerno. Dalam perjalanan meninggalkan Amalfi, kami melihat kano-kano berlomba di atas permukaan laut yang biru. Dari kaca spion,saya melihat si nyonya sibuk merekam perjalanan kami pulang ke Salerno. Sinar matahari senja bersinar cerah dan pemandangan indah sepanjang perjalanan pulang membuat saya enggan memacu motor dengan kecepatan tinggi. Nyantai saja, nikmati suasana. Kapan lagi bisa motoran dengan pemandangan seindah ini.Sekitar sejam lebih, kami pun sampai di Salerno. Om penjaga rental sudah menunggu kami mengembalikan motornya. Maklum, rental tutup jam 7 malam dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul jam 7 kurang. Usai memastikan motor kembali tanpa berkekurangan sedikitpun, kami pun berjalan kembali menuju B&B La Mela Salerno untuk beristirahat sambil membayangkan keindahan Amalfi Coast dalam peraduan kami.

 

Advertisements

2 thoughts on “Amalfi Coast Honeymoon (Part 4) : Antara Kami, Lemon dan Amalfi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s