Byzantium, Kukejar Kau Sampai Ravenna

Jika anda pernah mengunjungi Istanbul, anda pasti pernah  melihat mosaik- mosaik indah khas Byzantium seperti Bunda Maria dan Kanak-Kanak Yesus di Hagia Sophia, atau jika anda sempat mampir ke Chora Church, mosaik-mosaik indah berwarna keemasan masih menghiasi gereja Byzantium yang kini telah berubah fungsi menjadi museum. Sebagai ibukota Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium), Constantinople (nama lama Istanbul), dulunya memiliki banyak gereja-gereja dengan mosaik indah namun sejak Penaklukan Constantinople oleh Kesultanan Ottoman, banyak gereja yang dialihfungsikan menjadi mesjid atau diruntuhkan dan kemudian dibangun bangunan lain. Gereja yang dialihfungsikan menjadi mesjid,mosaiknya kemudian “dihilangkan” dari dinding gereja dengan diplaster atau dilepas sama sekali. Alhasil sangat sedikit mosaik yang tersisa di bangunan-bangunan peninggalan Byzantium  seperti mosaik Deisis di Hagia Sophia, . Nah masihkah adakah mosaik peninggalan Kekaisaran Byzantium yang masih utuh?

Jawabnya adalah ada. Namun kita perlu terbang ke bagian lain dari Kekaisaran Romawi kuno yaitu Italia, tepatnya di Ravenna. Ravenna adalah kota kecil di provinsi Emilia Romagna sekitar sejam dari Rimini. Kota yang terkesan kecil dan tidak menarik ini sebenarnya dulu merupakan kota besar dan kaya di zaman Romawi kuno. Oleh karenanya, banyak turis yang mengunjungi Ravenna karena peninggalan bersejarahnya dalam wujud mosaik-mosaik dan gereja kuno.

 

Kekaisaran Romawi kuno pernah berkuasa di seluruh daerah Mediterania dan Italia adalah bagian integral dari kekaisaran ini. Kekaisaran Romawi kuno yang didirikan oleh Remus dan Romulus berawal dari sebuah desa kecil dekat sungai Tiber dan berkembang menjadi Imperium yang luasnya terbentang dari Britania (Inggris sekarang) sampai Mesir pada puncaknya. Kekaisaran Romawi kemudian terbagi menjadi dua yaitu Kekaisaran Romawi Barat dengan pusatnya di Roma dan Kekaisaran Romawi Timur yaitu Byzantium. Ketika terjadi ekspansi besar-besaran suku barbar dari Asia, Kekaisaran Romawi Barat mengalami penurunan. Kaisar Honorius memutuskan untuk pindah ke Ravenna yang waktu itu memiliki posisi strategis  karena dekat dengan markas besar angkatan laut Kekaisaran yaitu Classe sehingga kaisar dapat melarikan diri ke Byzantium jika suku barbar menyerang. Namun akhirnya kepindahan ini pun sia-sia karena kekaisaran Romawi Barat memang sudah melemah dan tidak bisa menahan serbuan kaum barbar. Ravenna dan seluruh wilayah Kekaisaran Romawi barat ditaklukkan oleh suku Goth dan suku lainnya. Ravenna dikuasai oleh Kerajaan Ostrogoth yang merupakan salah satu suku barbar yang menyerang kekaisaran Romawi Barat. Uniknya, suku-suku barbar ini merupakan pemeluk agama Arianism, salah satu bidat kristen yang menyatakan bahwa Yesus merupakan manusia biasa yang mendapatkan karunia ilahiNya pasca peristiwa pembaptisan di Sungai Yordan. Tentu saja Arianisme sangat berlawanan dengan agama kristen umumnya. Walaupun demikian, Theodoric sang raja Ostrogoth mengizinkan pemeluk agama kristen lainnya untuk tetap memeluk agamanya tanpa gangguan. Pengaruh Arianisme juga bisa dilihat dari bangunan dan mosaik  peninggalan Ostrogoth di Ravenna yang mengutamakan kemanusiaan Yesus. Setelah Ostrogoth ditaklukkan oleh Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium), Kaisar Justinian berambisi untuk menjadikan Ravenna pusat kebudayaan Byzantium di semenanjung Italia. Sang Kaisar memberikan banyak kontribusi dana untuk membangun gereja-gereja dan bangunan indah yang masih bisa kita nikmati sekarang seperti Basilica di San Vitale yang megah. Setelah kekuasaan Byzantium melemah, Suku Lombards menguasai Ravenna dan kota ini kemudian kehilangan pamornya dan tidak lagi masuk hitungan di Eropa.

Kami sampai di Ravenna pukul 5 sore setelah salah membaca jadwal kereta dari Rimini dan terdampar di stasiun Rimini selama 2 jam. Untungnya Ravenna bukan kota yang besar dan tempat-tempat kunjungan turis bisa dicapai dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Tapiii…masalahnya sekarang semua tempat kunjungan turis tersebut tutup jam 7 malam dan kami cuma punya waktu 2 jam untuk mengunjungi lima tempat bersejarah di Ravenna. Lima tempat bersejarah ini mencakup Basilica di San Vitale, Mausoleum of Galla Placidia, Basilica Sant’Apollinare, Archiepiscopal Museum, dan Neonian Baptistery. Kelima tempat tersebut bisa dikunjungi dengan membeli tiket terusan seharga 10 euro dan berlaku 3 hari.Ketika membeli tiket di Basilica di San Vitale, saya sudah pesimis bisa mengunjungi semua tempat dalam waktu dua jam, mengingat kami hanya berjalan kaki dan hanya mengandalkan google map yang kadang suka error ketika berada di lorong-lorong kecil ala Italia. Namun si nyonyah terus mendorong semangat saya walau dia sendiri sudah keliatan kecapean karena udah seharian jalan-jalan di San Marino dan Rimini. Akhirnya kami pun memulai misi jalan-jalan Ravenna dalam dua jam saja.

Basilica di San Vitale mungkin merupakan gereja ala Byzantium paling wow yang pernah saya lihat. Dari luar bentuknya memang tidak sebesar Hagia Sophia, namun ketika masuk mata saya langsung terbelalak, mulut menganga dan tangan sibuk menyetel kamera untuk memotret. Tidak pernah saya lihat mosaik seindah ini dan seluruhnya menghiasi kubah dan dinding gereja. Warna warni mosaik dari emas,merah, biru dan warna terang gelap lainnya semua berpadu membentuk tokoh-tokoh kristen dan tentu saja sang sponsor,Kaisar Justinian dan permaisurinya Theodora. Gereja yang sudah berumur 1400an tahun ini dibangun oleh Kaisar Justinian seolah untuk memberikan pesan “Kaisar menjalankan mandat Tuhan untuk melindungi kalian”. Di tengah kekacauan abad pertengahan, dan tiba-tiba ada bangunan yang megah seperti ini tentu menimbulkan efek yang menenangkan bagi penduduk saat itu. Saya tidak bisa berhenti takjub dan bahkan si nyonya yang biasanya cuek dengan bangunan bersejarah pun terpukau dengan keindahan mosaik di gereja San Vitale ini.

 

 

Usai mengunjungi Basilica di San Vitale, kami pun mampir ke tujuan kami selanjutnya yaitu  Mausoleum Galla Placidia yang jaraknya tak jauh dari Basilica di San Vitale. Mausoleum Galla Placidia adalah makam yang dibangun untuk menyimpan jenazah Galla Placidia, ibu dari kaisar Theodosius I. Bangunan makam yang dari luar tampak sederhana ini memiliki mosaik paling tua di Ravenna dan sebagian besar dari mosaiknya masih asli. Mosaik Yesus sebagai gembala yang baik, merupakan mosaik yang terutama disini. Yesus digambarkan tanpa janggut dan tampak muda dengan domba-domba yang berada disekitarnya.

 

 

Perjalanan pun kami lanjutkan ke Makam Dante. Buat teman-teman yang tidak mengenal Dante, Dante adalah pujangga kenamaan Italia yang menulis Inferno, sajak yang melukiskan tentang neraka menurut pandangan jaman tersebut. Pujangga ini sebenarnya berasal dari Florence, namun karena memiliki pandangan politik yang berbeda dengan kaum elite Florence, beliau diasingkan dari Florence dan akhirnya meninggal karena malaria di Ravenna. Menyesal karena telah mengasingkan putra kebanggaannya, penduduk Florence kemudian mengampuni Dante pasca kematiannya dan meminta jenazahnya dikebumikan di Florence.Namun penduduk Ravenna menolak dan sempat menyembunyikan jenazahnya di dinding Biara San Francesco sampai akhirnya 300 tahun kemudian, jenazahnya dikebumikan secara layak di Ravenna. Pemerintah kota Florence membayar lampu minyak di makam Dante sampai sekarang sebagai rasa penyesalan dan penghargaan terhadap pujangga kebanggaan Italia ini.

 

 

 

 

Setelah “nyekar” ke Makam Dante, kami melanjutkan perjalanan dengan ngos-ngosan menuju Neonian Baptistery. Panasnya suhu Ravenna dan terbatasnya waktu kami membuat kami mesti berjalan buru-buru ke tiap tujuan. Belom lagi kami juga sempat nyasar karena terkadang GPS google map yang error. Untungnya penduduk lokal sangat ramah dan selalu siap membantu mengarahkan kami yang buta jalan ini. Kami pun sampai ke Neonian Baptistery dengan selamat sentosa. Baptistery Neonian dulunya berfungsi sebagai gedung tempat pembaptisan jemaat yang baru masuk agama Kristen. Pada bagian dalam bangunan terdapat kolam baptisan yang dinaungi kubah dengan mosaik Yesus dibaptis di Sungai Yordan. Peristiwa sakral ini digambarkan secara dramatis dengan ekspresi realistis dua tokoh besar dalam Kekristenan ini. Mosaik kedua belas rasul juga menambah keindahan mosaik utama di Neonian Baptistery.

Setelah mampir ke Neonian Baptistery, kami pun berjalan menuju tetangga dari Neonian Baptistery yaitu Archiepiscopal Museum. Museum ini menyimpan banyak peninggalan dari zaman Romawi sampai abad pertengahan. Uniknya, di dalam museum ini ada Kapela St Andrea yang dulunya merupakan tempat uskup agung Ravenna berdoa. Pengunjung dapat menyempatkan diri untuk berdoa di tempat yang tenang dan khusyuk ini. Kapela St Andrea memiliki mosaik Kristus dengan pakaian perang menginjak naga, suatu simbolisme Kristus menang terhadap iblis.  Usai mengunjungi Kapela St Andrea, kami pun bergegas menuju tujuan akhir kami yaitu Basilica San’t Apollinare Nuovo.

Alkisah Raja Theodoric Agung dari suku Ostrogoth ingin membangun gereja untuk istananya. Theodoric yang memeluk aliran Arian ini kemudian membangun gereja sesuai dengan pandangannya sebagai seorang Arian yang mengutamakan kemanusiaan Kristus. Basilica San’t Apollinare Nuovo pun dibangun dengan mosaik dan corak yang indah. Namun, ketika Kekaisaran Byzantium mengalahkan kerajaan Ostrogoth, Basilica ini dibersihkan dari unsur-unsur Arianisme dan diperindah dengan banyak mosaik indah berwarna emas. Saking indahnya, Paus Gregorius Agung pernah memerintahkan agar mosaik-mosaik tersebut ditutup agar tidak mengganggu orang yang ingin beribadah. Sekarang yang tersisa dari mosaik-mosaik indah ini hanya disebelah kiri dan kanan balairung gereja, dan karena sempat terkena bom ketika Perang Dunia Kedua, bangunan gereja ini pun tidak lagi sama seperti kala dibangun dulu. Bagi saya, diantara gereja-gereja yang saya kunjungi di Ravenna, mungkin gereja ini yang sedikit mengecewakan ketimbang yang lain. Mungkin akibat mengunjungi Basilica San Vitale duluan, jadi ekspektasi saya jadi teramat tinggi pada San’t Apollinare.

Usai mengunjungi Basilica San’t Apolinare, lengkaplah perjalanan kami hari ini.Dari berjalan-jalan di San Marino sampai berkeliling memburu mosaik di Ravenna. Kami pun kemudian naik kereta menuju Rimini untuk beristirahat. Malam ini adalah malam terakhir kami di Emilia Romagna. Esok hari Venezia menanti kami dengan kanal-kanalnya,istananya yang megah dan tentu saja nyanyian sang pendayung gondola.

More info :

  1. Ravenna terletak sekitar sejam naik kereta dari Rimini. Tempat-tempat bersejarah di Ravenna tersebar tak jauh dari Stasiun Kereta sehingga dapat dicapai dengan berjalan kaki atau naik sepeda.
  2. Disarankan untuk membeli tiket terusan seharga 10 euro yang mencakup 5 tempat bersejarah di Ravenna.
Advertisements

7 thoughts on “Byzantium, Kukejar Kau Sampai Ravenna

  1. Slalu takjub kalo ke tempat2 yg punya banyak mozaik bagus begini. Di Sophia hagia aku sampe betah banget lama2 di dalam. Pernah juga di serbia ke salah satu gereja terbesarnya, interior nya jg bikin kagum. Rilla monastery di bulgaria, walopun ga semegah mozaik di tulisan ini, tapi masuk ke dalamnya bener2 jd belajar sejarah 🙂

    Like

    1. Iya, saya suka sekali dengan peninggalan sejarah, tapi Byzantium itu uda kayak obsesi. Diawali dari Hagia Sophia lalu takjub sama Chora Church, trus jadi ngejer sampe ke Ravenna. Senang rasanya ada jg yg ngerti perasaan saya sama peninggalan sejarah. Thanks for the comment ya mbak Nila.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s