Rimini dan Kenyamanan Dua Insan

Setelah perut penuh dengan spaghetti ragu dan gnocchi, kami pun menumpang kereta menuju Rimini, tempat kami tinggal selama dua hari kedepan. Rimini berjarak kurang lebih dua jam dari Bologna dengan kereta. Kereta Intercity yang kami tumpangi saat itu ramai, banyak penumpang memenuhi semua gerbong kereta. Dari bapak-bapak Italia dengan topi ala Pak Tino Sidin sampai remaja tanggung dengan sepedanya semua santai menunggu sampai ke tujuan. Pemandangan ladang gandum yang menguning dan kebun anggur yang hijau menemani perjalanan kami menuju Rimini. Kami berdua menikmati perjalanan dengan ngobrol ringan sambil melihat pemandangan di jendela yang indah. Rasanya lega setelah sibuk bekerja dan menyiapkan pernikahan berbulan-bulan dengan pemandangan sumpek kemacetan Jakarta dan sekarang, kami berada di kereta di negara yang beribu-ribu mil jauhnya dari tanah air.

 

Setelah dua jam, kami pun sampai di stasiun Rimini Centrale. Berjalan keluar dari stasiun, kami menyadari bahwa Rimini jauh dari apa yang pernah saya baca di blog atau laman web tentangnya. Banyak yang bilang kalau Rimini adalah tempat pesta dan liburannya orang Italia, dan di musim panas biasanya sangat ramai. Ternyata ketika kami sampai, kota ini terkesan sepi dan nyaman. Jalan dengan pepohonan yang rindang melindungi para pejalan kaki dari sengatan sinar mentari musim panas Italia yang terkenal ganas terutama di daerah pesisir. Walau terletak tak jauh dari pantai, Rimini terkesan adem, ya itu dia, karena banyak pepohonan yang rindang.

Kami pun berjalan menuju jalan Viale Nazario Sauro tempat host AirBnB kami,Rossela, tinggal.  Ini adalah pengalaman AirBnB kami dan sungguh berkesan. Dulunya karena selalu solotravelling, saya selalu mengabaikan opsi menginap ala AirBnB. Bagi saya yang namanya nginep ya cukuplah asal bisa tidur dan mandi saja, jadinya pilihan saya selalu mendarat di hostel. Namun kali ini karena lagi honeymoon, jadi pilihan saya jatuh ke AirBnB dan hotel. And I instantly fell in love with AirBnB. Kami sampai di rumah Rosella yang terletak di kawasan perumahan yang sepi dan sangat ideal untuk pensiun. Rumahnya besar dan kamar yang disediakan untuk kami memiliki dua ranjang yang cukup untuk tiga orang. Rosella dan suaminya Arno, sangat ramah serta siap membantu kami. Rosella bahkan mencuci pakaian kami gratis. Lokasinya pun sangat ideal. Kami hanya perlu berjalan sekitar 10 menit untuk sampai ke pantai dan stasiun kereta.

Rimini terkenal di kalangan penduduk Italia sebagai kota pantai tempat penduduk lokal berlibur ketika musim panas tiba, semacam pantai Carita buat penduduk Jakarta dan sekitarnya. Di sepanjang pantai Rimini terdapat banyak cafe dan restoran yang mewah dan sangat instagramable, alias bagus buat difoto. Rimini memang berkelas dan menyenangkan, jauh dari terkesan kumuh. Berdua kami berjalan menyusuri pantai dan kemudian mendapati sesuatu yang tidak lazim. Sebuah bianglala alias Ferris wheel dengan cahaya neon berputar di tepi pantai. Mungkin keren kali ya, naik ferris wheel sambil menikmati pemandangan Rimini.Namun kami mengurungkan niat karena harganya yang wow..seorang 10 euro.Mending buat makan deh hehehe.

Selain pantai, Rimini juga memiliki peninggalan bersejarah dari zaman Romawi kuno. Kota yang aslinya bernama Ariminium ini terletak di persinggungan jalan perdagangan kuno sehingga kota ini cukup berkembang sampai sekarang. Beberapa bangunan peninggalan Romawi di kota ini masih berdiri dan berfungsi layaknya di masa lalu seperti Arch of Augustus dan Tiberius Bridge. Selain dua bangunan tersebut masih terdapat reruntuhan Romawi yang tersebar di penjuru kota.

Awalnya kami tidak berharap banyak dengan Rimini. Pikir saya Rimini hanya menjadi base saja biar gampang pergi ke San Marino dan Ravena, ternyata banyak hal menarik yang kami temukan disini. Selain itu, ambiancenya itu nyaman banget. Rimini tenang dan rindang, banyak taman untuk sekadar santai. Harga penginapan pun lebih murah dibanding Bologna dan San Marino. Si nyonyah pun jatuh cinta dengan Rimini. Ditanya kenapa suka Rimini? jawabnya cuma ,” Rimini itu ga rame kayak Bologna tapi nyenengin.”

 

Advertisements