Hikayat Penang Ala Guru Kelana : Do you want some Dim Sum?

Seorang teman pernah bertanya,” Dro, u kan da sering traveling, klo menurut u tempat mana yang ideal buat pensiun?’. Spontan saya menjawab, “Penang.” Teman saya agak bingung dengan jawaban saya dan saya kemudian menambahkan,” Penang makanannya enak dan rumah sakitnya bagus. Jadi kalo gue da puas makan trus kena sakit bisa langsung dirawat di sana.” Alasan yang nyeleneh tapi bener juga. Penang memang pusat kuliner dan pusat pengobatan di Malaysia yang ideal juga sebagai tempat pensiun (setidaknya bagi saya).

Dalam setiap kunjungan saya ke Penang, ada ritual pagi yang selalu saya lakukan. Bangun pagi saat penghuni dorm masih tidur atau jika pergi dengan teman2, saya akan melewatkan sarapan di hostel/hotel dan berjalan ke restoran dim sum langganan saya di Georgetown. Ada dua restoran dim sum yang biasanya saya kunjungi. Yang satu adalah De Tai Tong Restaurant di Lebuh Cintra dan satu lagi adalah Leong Kee Tim Sum Restaurant di Lebuh Kimberley. Dua restoran ini sama-sama menjual dim sum tapi memiliki penyajian yang berbeda. Leong Kee memiliki sistem order self-service dimana pengunjung bisa berjalan menuju etalase dimsum dan mengambil sendiri dimsum yang diinginkan lalu pelayan akan mencatat jumlah dimsum yang dipesan. De Tai Tong menawarkan sensasi makan dim sum ala Hong Kong dimana pelayan dengan moving cart ( kereta dorong) berisi dimsum berlalu lalang di antara meja pengunjung dan siap berhenti menawarkan dimsum. Dua-duanya kudu dicoba kalau mengunjungi Penang.

Pagi itu jam 6 pagi saya sudah bangun dan segera membangunkan teman-teman yang masih terlelap. Energi saya memang selalu berlebih di pagi hari dan jarang saya membuang waktu tidur-tiduran di kamar ketika liburan. Setelah menunggu selama setengah jam, rombongan kami pun berangkat menuju Leong Kee Tim sum Restaurant. Berjalan pagi di sekitaran kota tua Georgetown memang menyenangkan. Bangunan-bangunan khas etnis tionghoa yang masih terjaga terlihat anggun dalam kesunyian pagi. Jalanan pun sepi dan hanya tampak beberapa orang yang berjalan menuju Pasar Chowrasta, pasar utama di Georgetown. Hanya sekitar 10 menit berjalan dari Komtar, kami pun sampai di restoran Leong Kee yang kala itu masih sepi ( ya iyalah..lah wong baru buka).

Kami pun segera mengambil tempat duduk dengan meja yang bundar namun jumlah kami ternyata terlalu besar untuk meja dengan kapasitas 5 orang. Tidak masalah, pelayan kemudian mengambil tatakan meja dari kayu yang besar dan kemudian ditambahkan ke meja yang sudah kami pilih. Voila…meja pun menjadi semakin besar dan cukup menampung 9 orang kelaparan pagi itu. Nah, setelah memesan teh Oolong yang bisa direfill sendiri, kami kemudian bergegas menuju etalase dimsum yang sungguh menggoda. Dimsum beraneka jenis dari gorengan, kukus, sampai kue-kue yang jarang saya liat ada di Jakarta terhampar di hadapan saya. Teman-teman pun kalap mengambil dimsum sesuai seleranya. Ada yang mengambil siomay, hakao, tim ceker ayam, chiceong fan, sampai bakpao berukuran jumbo yang berisi daging babi cincang. Saya pun mengambil dim sum favorit saya yaitu bakpao telur asin. Setelah dicatat oleh pelayan, kami kemudian kembali ke meja dan siap menyantap hidangan.

Berbagai dimsum tersaji di depan kami dan nafsu barbar pun terumbar. Sumpit beradu dengan sumpit, siomay jatuh dari piring akibat buru-buru diambil, teh tumpah karena kesenggol, bakpao telur asin yang isinya muncrat ke baju.Berbagai kejadian lucu yang menemani saat makan kami dan membuat suasana kekeluargaan menjadi semakin hangat. Rasa dimsum yg nikmat membuat kami semakin garang memesan porsi demi porsi. Inilah enaknya makan dimsum rame-rame. Kami bisa makan sambil ngobrol dan becanda kemudian kenyang dengan perut dan hati yang senang. Usai menghabiskan dimsum yang entah berapa porsi banyaknya, kami pun duduk tak bisa berjalan. Kenyang dan males gerak rasanya sampai kami teringat harus kembali ke hotel untuk mengikuti tour ke Penang Hill dan Khe Lok Si Temple. Kami pun kemudian memanggil pelayan untuk membawakan tagihan kami. Sesuai kesepakatan, tagihan kami bagi rata dan ternyata tiap orang hanya membayar 15 ringgit ( sekitar 45 ribu rupiah) untuk makan dimsum yang nujubileh banyaknya. “Gila murah amat!” sahut teman saya yang baru pertama kali makan dimsum di Penang. Semua keluar dari restoran dengan muka tersenyum bahagia siap untuk menghadapi hari penuh petualangan di Georgetown.

 

P.S : Keesokan harinya kami berencana mengunjungi De Tai Tong Restaurant namun karena hari tersebut adalah hari senin, restoran tersebut tutup dan kami batal makan disana. Jangan khawatir saya akan menyertakan foto2 dari kunjungan saya yang lampau di De Tai Tong Restaurant.

 

Note:

  1. Restoran Leung Kee beralamat di 45, Lebuh Kimberley, George Town, 10100 George Town, Pulau Pinang, Malaysia. Letaknya tak jauh dari Kimberley House (hostel yang cukup bagus di Georgetown).
  2. Restoran De Tai Tong terletak di 45, Lebuh Cintra, George Town, 10100 George Town, Pulau Pinang, Malaysia.
  3. Kedua restoran dimsum ini menyajikan makanan non halal, jadi untuk teman-teman muslim bisa menanyakan makanan mana yang halal sebelum makan.
  4. Sebagian dari foto2 diatas merupakan kontribusi teman-teman saya, Mr Belmeier Raymond ( bisa dilihat karya2 nya di sini) dan Ms Cecilia Shirley.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s