Good Bye Antalya and Hello Istanbul

Orang bilang hal paling menyedihkan dari suatu pertemuan adalah perpisahan. Sejenak kita mengenal seseorang, menikmati kehangatan persahabatan dan baru saja mulai akrab dengannya, sang waktu pun datang menjemput untuk memisahkan. Inilah perasaanku di pagi terakhir aku berada di Antalya, kota di pantai selatan Turki yang telah menjadi tempatku tinggal selama 3 hari. Seolah tidak mau berpisah dengan Antalya, aku bangun pagi dan berjalan di jalan-jalan kecil Kaleici yang kala itu masih sepi. Aku berjalan ke arah Marina dan duduk di taman dekat Hidirlik Tower. Menikmati pemandangan marina dan kapal-kapal layar yang masih berlabuh aku berusaha merekam semua gambar pemandangan di hadapanku ini dengan mata. Kenangan akan Phaselis dan Side yang sempat kukunjungi dan Termessos, Aspendos, Perge, Silyon yang gagal kukunjungi kali ini akan selalu berada di anganku. Aku berharap jika aku tak akan kembali lagi ke sini, semua kesan hangat akan Antalya  akan selalu membekas di ingatanku.

Pagi itu, Hasan datang dengan mobil sedannya dan siap mengantarkanku menuju bandara Antalya. Pesawatku berangkat pukul 8 pagi, sebenarnya aku bisa menumpang tram dan bis menuju airport namun karena aku tidak ingin ketinggalan pesawat, aku pun meminta Hasan mengantarkan aku ke airport dengan bayaran tentunya. Mobil sedannya melaju meninggalkan kawasan Antalya dengan cepat. Jalanan pagi itu masih sepi dan aku meminta Hasan berhenti di sebuah toko roti untuk membeli roti. Aku belum sarapan karena aku meninggalkan Marina Hostel terlalu pagi untuk mengejar pesawat. Setelah membeli dua buah roti manis, aku pun kembali ke sedan. Sekitar setengah jam, aku pun sampai di Bandara Antalya yang dijaga cukup ketat. Insiden peledakan bom di Istanbul beberapa hari sebelumnya membuat penjagaan menjadi lebih ketat. Tentara menjaga pintu masuk dengan senapan serbu yang siap sedia memuntahkan peluru jika terjadi ancaman keamanan. Aku dan turis2 lainnya tidak mengalami kesulitan ketika check in dan tanpa menunggu terlalu lama, Pesawat Pegasus Air pun lepas landas membawaku ke Istanbul.

Aku sibuk membaca Lonely Planet Turkey selama perjalanan menuju Istanbul. 1 jam 15 menit pun tidak terasa lama, pilot mengumumkan bahwa pesawat segera mendarat di Bandara Sabiha Gokcen Istanbul. Sesampainya di bandara ini, aku pun segera berjalan keluar dan menumpang bus havas menuju Kadikoy. Bus Havas berjalan di lalu lintas Istanbul yang pada siang itu lumayan lancar. Sesekali bis berhenti menurunkan penumpang di samping jalan dan kemudian berjalan lagi sampai tujuan terakhir yaitu Kadikoy.

Sesampainya di Kadikoy, aku pun akhirnya melihat wujud Kadikoy di siang hari. Toko-toko dan restoran yang ramai dengan jalan yang dipenuhi oleh lalu lalang kendaraan yang sesekali diselak oleh pejalan kaki yang menyebrang jalan merupakan wujud asli wilayah yang dulunya disebut Chalcedon ini. Aku pun sempat menikmati kebab ayam yang lezat sebelum melanjutkan perjalananku menuju Sultanahmet. Harga makanan di Kadikoy lebih murah dibandingkan dengan kawasan Sultanahmet yang memang merupakan kawasan turis.Dengan 3 lira saja, aku sudah mendapat sebuah kebab ayam yang lezat dan besar.

Bermodal Istanbulkart yang masih ada sisa beberapa lira dari perjalananku ke Turki dua tahun lalu, aku pun menumpang kapal ferry untuk menyebrang ke Eminonu dari Kadikoy.Wilayah Asia dan Eropa Istanbul dipisahkan oleh Selat Bophorus dan akses antara dua benua ini adalah kapal ferry atau Jembatan Bophorus. Keunikan Istanbul yang terletak di dua benua ini membuat penduduk dan turis harus terbiasa dengan berbagai moda transportasi, salah satunya dengan menggunakan kapal ferry. Bagiku, naik kapal ferry adalah salah satu hal yang menyenangkan. Bagaimana tidak, aku bisa duduk santai sambil menikmati segelas cay dan pemandangan Istanbul bagian Eropa ditemani suara burung camar dan pelikan yang terbang ke sana kemari mencari mangsa di bawah permukaan air. Mataku terus memandangi Istanbul kawasan Eropa dan berusaha mengenali bangunan-bangunan yang dulu pernah kukunjungi. Aku melihat Hagia Sophia, Blue Mosque, Istana Topkapi dan reruntuhan tembok peninggalan Kekaisaran Byzantium yang dulunya berdiri kokoh di tepi laut. Sungguh perasaan mengharu biru mewarnai diriku saat itu. Mengunjungi Istanbul adalah seperti mengunjungi sebuah tempat penuh kenangan , tempat dimana kecintaanku pada Turki bermula dan terus berkobar tiada padam.

Sesampainya di Eminonu, aku pun menumpang tram menuju Sultanahmet. Sebenarnya aku bisa berjalan namun backpack yang berat dan sinar matahari yang sedang lucu-lucunya membuatku malas untuk berjalan kaki ke sana. Ngadem di dalam tram yang sejuk sambil menunggu sampai di Sultanahmet lebih nyaman daripada berpanas ria di luar. Setelah sampai di Sultanahmet, aku pun berjalan menuju Antique Hostel yang terletak tak jauh dari Blue Mosque dan Hagia Sophia. Rencanaku hari ini adalah menikmati Moonlight Cruise yang berangkat dari Eminonu pada pukul 6 sore sampai jam 11 malam menyusuri Selat Bophorus. Namun sebelum itu, aku ingin sowan sebentar dengan teman lamaku di Istanbul yaitu Hagia Sophia.

Kawasan Sultanahmet sangat sepi siang itu. Hanya ada puluhan turis yang berjalan-jalan di sekitar taman dan antrian menuju Hagia Sophia yang biasanya ramai pun tidak terlihat. Bermodal Turkey Museum Pass, aku langsung melenggang masuk setelah pemeriksaan tas. Hagia Sophia adalah destinasiku yang pertama dua tahun yang lalu. Bangunan bersejarah yang dibangun oleh Kaisar Justinian dari Kekaisaran Byzantium ini menarik jutaan pengunjung tiap tahunnya. Ketika pertama kali memasuki Hagia Sophia melalui Pintu Kekaisaran, aku sudah terpukau oleh keindahan mosaic dan kokohnya bangunan ini. Perasaan yang sama masih kurasakan ketika memasuki gerbang ini untuk kedua kalinya. Interior Hagia Sophia yang agung dengan sinar matahari yang menyeruak melalui celah-celah di sekitar kubahnya membuat nuansa mistis yang sulit dijelaskan selain dirasakan sendiri. Mosaik Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus seolah diapit oleh lafal Allah dan Nabi Muhammad merupakan pemandangan khas yang membuat jutaan turis tidak bisa berhenti untuk mengambil gambarnya.

Hagia Sophia yang sekarang sedang dalam proses pemeliharaan yang akut. Banyak bagian dari bangunan ini yang ditutup oleh umum.Untungnya bagian yang ingin aku kunjungi yaitu “wishing column” atau pilar permohonan. Konon seorang santo bernama St Gregory The Miracle Worker pernah menampakkan diri di pilar ini dan menurut legenda, apabila seseorang memasukan jarinya, memutarnya searah jarum jam,dan jarinya keluar dengan kondisi lembab maka penyakitnya akan sembuh. Percaya atau tidak percaya, banyak turis yang mencoba memasukkan jarinya ke lubang di pilar ini dan berfoto.

Usai mengunjungi Hagia Sophia, aku pun langsung berjalan menuju terminal ferry Eminonu untuk melanjutkan petualanganku selanjutnya di Istanbul yaitu Moonlight Cruise.

Things to know :

  1. Anda bisa mencapai airport Antalya dari pusat kota dengan menumpang tram ke arah Expo dan turun di Havalimani (airport).
  2.  Untuk transportasi dari bandara Sabiha Gokcen Istanbul menuju Taksim Square dan Sultanahmet klik disini
  3. Untuk mengetahui bagaimana berpergian dengan transportasi umum di Istanbul klik disini
Advertisements

One thought on “Good Bye Antalya and Hello Istanbul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s