Riding around Selcuk : Dari Efesus sampai Mesjid Isa Bey

Pagi menjelang di Selcuk. Aku terbangun dari tidur nyenyakku di kamar basement yang sepi. Setengah botol anggur yang kuhabiskan kemarin membuat tidur di kamar yang sepi menjadi tidak terasa dingin. Anggur Sirince memang mantap dan sesuai menemani malam yang sepi di dorm. Rencanaku hari ini adalah datang sepagi mungkin ke Efesus dan menikmati reruntuhan kota ini sendirian sebelum rombongan turis datang. Setelah itu aku akan berkeliling Selcuk dari Rumah Bunda Maria sampai Mesjid Isa Bey.

Usai mandi dan makan beberapa buah ara sisa belanja kemarin, aku pun berangkat menuju Efesus. Menyewa sepeda motor di Selcuk adalah pilihan paling tepat untuk menikmati tempat-tempat wisata di kota ini. Efesus hanya 10 menit saja dari ANZ hostel dengan sepeda motor dan berkendara di pagi hari sangatlah menyenangkan. Udara yang segar dan sinar matahari yang masih malu-malu menunjukkan sinarnya membuatku menikmati perjalanan singkat menuju Lower Gate Efesus. Ketika tiba di Efesus, toko-toko souvenir dan pintu masuk masih ditutup sehingga aku harus menunggu selama 15 menit sebelum pintu masuk dibuka.

Efesus adalah salah satu kota terbesar di Asia Kecil dan setara dengan kemegahan New York sekarang pada zamannya. Kota ini identik dengan sejarah Romawi dan kekristenan dimana menurut Alkitab Perjanjian Baru, Rasul Paulus , Lukas dan Timotius tercatat pernah mengunjungi bahkan tinggal di tempat ini. Rasul Yohanes juga menurut tradisi tinggal di dekat Efesus bersama Bunda Maria. Kota yang sangat erat dengan sejarah kekristenan ini membuatku terasa tidak asing dan serasa berjalan dalam salah satu kisah di Kisah Para Rasul. Ketika mengunjungi Efesus dua tahun lalu (lengkapnya di sini), aku mendapati Efesus yang ramai dan panas. Rombongan turis manca negara yang berkunjung seolah tak berhenti datang walaupun jam sudah menjelang sore. Kali ini, aku berjalan sendirian di kota tua ini. Aku menikmati kesejukan dan kesunyian Arcadian Way (Jalan Pelabuhan), berpose semau saya di Library of Celsus, dan sempat berfoto sambil tiduran di Curetes Street (like a boss, y’all). Sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan di siang hari dua tahun lalu. Selama 45 menit pertama, aku berjalan sendirian kesana kemari menikmati detail dari tiap bangunan. Aku bahkan iseng berfoto di toilet Romawi yang terkenal itu. Setelah menikmati kesendirian, rombongan turis pun mulai datang pada pukul 9. Aku pun kemudian menyendiri mengujungi reruntuhan lain yang masih sepi yaitu reruntuhan Church of Mary. Gereja yang dibangun pada abad ke 5 ini merupakan gereja pertama yang didedikasikan untuk Bunda Maria.Kehadiran gereja ini merupakan salah satu klaim yang mnguatkan bahwa Bunda Maria pernah tinggal di sekitar Efesus.

Setelah mengunjungi Church of Mary, saya pun teringat bahwa ada misa di Meryemana Evi (House of Virgin Mary) pada pukul 10:30 pagi. Ah sudah lama rasanya tidak ikut misa, aku pun kemudian meninggalkan Efesus dan menuju rumah Bunda Maria di Gunung Bul-Bul.Motor pun kupacu menuju arah bukit tak jauh dari Efesus. Jalan yang menanjak dan berkelok-kelok tampak tidak menjadi masalah untuk motor matic ini. Aku pun berpapasan dengan patung Bunda Maria berwarna emas yang terletak di pinggir jalan menuju rumahnya. Ah back to her house again. Ingatanku kembali ke dua tahun silam ketika aku mengunjungi Rumah Bunda Maria pertama kalinya.Aku juga menyewa motor dan melalui jalan ini. Sungguh pemandangan lembah yang indah dan hijau ini membuat mata yang memandang betah. And you still wonder why I fell in love with this country?

Sesampainya di Rumah Bunda Maria, aku segera mengambil tempat duduk di belakang. Banyaknya turis dan pengunjung yang ingin mengikuti misa siang itu membuat aku merasa beruntung masih bisa mendapat tempat duduk. Misa siang itu dipimpin oleh seorang pastor dari Ordo Dominikan yang berasal dari Polandia. Misa yang khusyuk bertempat di sebelah Rumah Bunda Maria ini dihadiri oleh umat Katolik dari berbagai negara. Kebanyakan dari mereka adalah turis yang kebetulan berkunjung ke Selcuk.Sang pastor menyampaikan homili singkat mengenai apa tujuan hidup kita di dunia ini.Pesan singkat yang cukup menyentuh hatiku. Pertanyaan yang sudah sedemikian lama juga menjadi suatu kegalauan dalam nurani. Why am I here? Mengingat begitu banyak pemeliharaan-Nya dalam kehidupanku, aku mulai berpikir bahwa Sang Khalik menginginkan sesuatu dalam hidupku. Suatu misi dan perintah yang sampai sekarang masih berusaha kupahami. Kekhusyukan misa terkadang terusik oleh suara para pengunjung namun tidak ada yang terlihat terganggu. Umat telah hanyut meresapi makna misa dalam tempat yang begitu teduh ini. Ketika misa berakhir, aku pun mampir sejenak ke dalam rumah yang dipercaya merupakan tempat Bunda Maria tinggal di masa tuanya. Tempat yang terpencil dan jauh dari hiruk pikuk kota besar Efesus yang kala itu sangat ramai. Aku pun mengambil waktu duduk di taman sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Benar tidaknya Bunda Maria pernah tinggal di sini, aku tidak tahu. Satu yang kutahu, ada suatu kedamaian di tempat ini. Suatu kedamaian yang membuatku merasa “hidup”.

Aku mengisi sebotol besar air dari mata air di Rumah Bunda Maria. Botol air yang menjadi ransumku di hari yang panas di Selcuk. Aku pun berjalan meninggalkan Rumah Bunda Maria dan tak lagi menengok ke belakang. Perjalananku selanjutnya membawaku ke Cave of Seven Sleepers atau Gua aṣḥāb al kahf . Cave of Seven Sleepers terletak tak jauh dari Efesus dan Rumah Bunda Maria. Menurut tradisi setempat (ada beberapa versi cerita), gua ini merupakan tempat 7 orang pemuda yang dihukum oleh Kaisar Decius yang anti terhadap orang kristen. Ketujuh pemuda ini tertidur dalam gua tersebut dan gua tersebut disegel. Beberapa abad kemudian, ketujuh pemuda tersebut terbangun dari tidurnya dan mengutus salah satu dari mereka untuk pergi ke kota Efesus untuk membeli makanan. Alangkah terkejutnya pemuda ini ketika menemukan Efesus telah berubah dan banyak gereja dengan salib di kota tersebut. Ketika pemuda ini berbelanja, para pedagang terkejut karena pemuda ini mencoba membeli dagangan mereka dengan uang kuno yang berlambang Kaisar Decius. Pemuda ini kemudian menjelaskan kalau dia dan teman-temannya tertidur di gua dan ketika terbangun semuanya sudah berubah. Setelah dihadapkan dengan Uskup setempat, ke tujuh pemuda ini memuliakan Tuhan dan meninggal dengan damai. Ketujuh pemuda tersebut kemudian dimakamkan di gua tempat mereka tidur dan penduduk sekitarnya yang menganggap tempat ini suci kemudian mulai juga mengubur jasad keluarga mereka di sini.

Sekarang gua ini merupakan kompleks pekuburan dengan banyak sarkogus (peti batu) di sekitarnya. Sayangnya, ruang utama gua ditutup aksesnya untuk publik sehingga aku hanya bisa melihat dari luar saja. Aku hanya menghabiskan waktu sebentar disini karena tidak banyak yang bisa dilihat selain kompleks pekuburan dengan nilai historis dan religius yang diakui oleh dua agama besar di dunia ini. Langkahku pun mulai menjauhi Cave of Seven Sleepers menuju motorku. Motor scooter ini pun kemudian berulah. Tombol starter yang kutekan tidak menghasilkan reaksi apa pun. Oh my…kejadian kemarin berulang lagi dan kali ini lokasiku cukup jauh dari Demir Rental. Ga lucu kalo mesti dorong sampe ke sana, ada kali 5km. Setelah mengkick-start berulang-ulang, motorpun kemudian kembali menyala. Ah..lega, aku pun kemudian melanjutkan perjalanan ke Church of St John.

Church of St John terletak tepat di pusat kota Selcuk. Gereja yang ketika utuh merupakan salah satu bangunan gereja terbesar di dunia ini merupakan gereja tempat murid kesayangan Yesus Kristus yaitu Yohanes dimakamkan. Gereja yang dulu sempat kukunjungi  dua tahun lalu ini  terletak tepat di depan Demir Rental. Setelah parkir, aku pun berjalan menuju gereja ini. Reruntuhan gereja yang besar ini tetap menyimpan suatu tempat khusus bagi para pemeluk agama kristen. Menurut tradisi, gereja ini dibangun di bukit tempat Rasul Yohanes menuliskan Injil Yohanes ketika dia berumur 100 tahun. Pengalaman hidupnya sebagai murid Kristus termuda, penginjil dan soko guru gereja, lolos dari hukuman Kaisar Domitian dan dibuang ke Pulau Patmos semua berakhir di puncak bukit Ayasoluk yang sekarang dihiasi benteng dari zaman Byzantium.

DCIM100MEDIA
Di atas benteng Ayasoluk, this one is for you, Pap.

Dari semua benteng yang pernah kukunjungi, benteng Aya Soluk ini merupakan benteng yang paling indah. Bentuknya yang bagaikan mahkota menghiasi bukit menjadikan benteng ini sebagai suatu icon Selcuk. Aku menghabiskan waktu duduk di atas tembok benteng menatap tanah pertanian yang hijau di bawah sana. Mesjid Isa Bey dan Kuil Artemis berdiri berdampingan tak jauh dari benteng ini. Aku pun iseng berpose ala papaku yang pada masa mudanya suka berpetualang ke gunung. Aku ingat ada satu fotonya di tepi tebing yang keren. Mengandalkan action cam, aku pun berfoto serupa. Ah kesendirian di tempat ini memang membuat damai dan tentram. Mungkin inilah alasan mengapa Rasul Yohanes memilih tempat ini sebagai tempat peristirahatannya. Ketenangan dan kedamaian bagi sang rasul yang dikasihiNya.

Keluar dari reruntuhan gereja St John,aku pun berpikir untuk mengunjungi Tire, sebuah kota kecil di luar Selcuk yang terkenal dengan pasarnya. Namun, motor ini lagi- lagi ngambek dan kali ini tidak mau menyala. Aku pun kemudian meminta bantuan tetangga Demir yang kebetulan mengenalku. Alhasil, Demir memintaku untuk meninggalkan motornya disana dan dia sudah tidak mempunyai motor pengganti lain. Aku pun harus puas berjalan kaki di sekitaran Selcuk menikmati sisa hariku. Aku berjalan menuju Mesid Isa Bey yang merupakan salah satu mesjid tertua peninggalan bangsa Seljuk Turki. Mesji ini dibangun dengan memanfaatkan reruntuhan bangunan Church of Saint John dan Kuil Artemis. Ketika melihat-lihat tembok mesjid ini, aku menemukan batuan marmer dengan ukiran khas Byzantium.Beberapa tiang Corinthians juga nampak di pelataran luar mesjid. Sungguh Selcuk ini kaya dengan nuansa religi.Aku kemudian berjalan kembali ke hostel dan menemukan  kamar dormitory yang kali ini tidak ada orang lain selain diriku yang tinggal.Aku sendirian di kamar dengan 20 ranjang ini. Ah mungkin sudah kehendakNya aku menyendiri di malam terakhirku di sini.Biarlah, esok menjelang aku akan pergi dan entah kapan akan bersua dengan Selcuk lagi.

Things to know :

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s