Prelude to Second Trip to Turkey : Arrival in Sabiha Gokcen and Kadikoy

“Ke Turki lagi? Apa ga bosen?Kan uda pernah?” kalimat yang biasa muncul ketika ditanya hendak kemana liburan sekolah tahun ini. Ya, saya memutuskan untuk pergi ke Turki lagi. Negeri kaya sejarah ini memang selalu memanggil saya sejak kunjungan pertama. Berbagai situs sejarah, makanannya yang lezat, penduduknya yang ramah selalu menggoda saya untuk kembali. Setelah bergumul antara Jepang dan Turki, akhirnya Turki menjadi pilihan saya untuk berlibur liburan sekolah tahun ini.

Bermodal pengalaman 2 tahun lalu dan itinerary yang baru, saya kemudian pergi ke Turki dengan pesawat Emirates. Maskapai Emirates terbukti menjadi maskapai terbaik yang pernah saya gunakan selama perjalanan saya. Layanan yang baik, makanan yang enak dan tentu saja wifi onboard yang membuat saya betah berada di pesawat. Saya bahkan tidak merasa perlu untuk tidur karena begitu banyak film yang saya bisa nikmati selama penerbangan saya. Sebotol red wine sebagai teman saya makan juga membuat saya merasa rileks menikmati film The Hobbits yang sebenarnya sudah pernah saya tonton. Saat transit di Dubai pun menyenangkan. Dubai adalah kota metropolitan di Timur Tengah dengan fasilitas yang sangat modern. Waktu transit 4 jam di airport kelas dunia ini saya manfaatkan dengan menggunakan fasilitas wifi gratis (walau hanya satu jam) dan berjalan-jalan cuci mata di Duty Free Shop dan menyempurnakan itinerary saya.

IMG_20160620_115623
Menu makan siang di Emirates ditemani sebotol kecil red wine

Itinerary saya kali ini bisa dirumuskan dengan satu phrase saja :Sejarah dan Alam. Kali ini selain napak tilas tempat2 yang pernah saya kunjungi, saya juga mengunjungi tempat2 lain yang menyimpan daya tarik sejarah dan alam.

Day 1 : Menginap di Kadikoy (Istanbul bagian Asia)

Day 2 : Kars dan Ani

Day 3: Kars dan Izmir (Agora, The Kordon)

Day  4 : Izmir ( Sardis, Pergamum)

Day 5: Izmir ( Selcuk, Priene, Miletus)

Day 6 : Selcuk (Claros, Kusadasi, Sirince)

Day 7: Selcuk ( Ephesus, Rumah Bunda Maria, Cave of 7 Sleepers, Gereja St John)

Day 8: Denizli (Laodicea) – Fethiye

Day 9 : Fethiye (Oludeniz) – Kas (Kaputas Beach)

Day 10 : Kas (Patara)- Antalya ( Kaleici)

Day 11: Antalya ( Phaselis)

Day 12: Antalya (Side)

Day 13: Istanbul ( Hagia Sophia, Moonlight Cruise)

Day 14 : Istanbul ( Topkapi Palace, Valide Han, Pierre Loti Cafe, Chora Museum, Uskudar, 1453 Panorama Museum, Ortakoy, Taksim Square)

Day 15: Istanbul ( Grand Bazaar, Istiklal Street, Spice Market), leaving to Kuala Lumpur

Perjalanan 15 hari ini dimulai saat saya mendarat di airport Sabiha Gokcen, Istanbul. Kenapa Sabiha Gokcen bukan Ataturk International Airport? Well, ini semua karena Emirates yang lain sendiri mendaratnya dibanding dengan maskapai international lainnya seperti Qatar dan Turkish Airline yang mendarat di Ataturk. Banyak turis dan bloggers yang kurang suka mendarat di Sabiha Gokcen yang bertempat di bagian Asia Istanbul karena bandara ini tidak memiliki akses tram atau metro menuju Sultanahmet atau Taksim, tempat yang biasa ditempati oleh para turis. Walaupun demikian, Sabiha Gokcen memiliki fasilitas bis Havas (airport) yang memadai dan handal untuk mengantarkan penumpang ke berbagai spot di Istanbul bagian Eropa (Taksim) dan Asia (Kadikoy dll). Karena saya akan berangkat menuju Kars keesokan harinya, saya pun memilih untuk tinggal di sekitar Kadikoy yang terpisahkan oleh Selat Bophorus dengan Eminonu.Perjalanan dengan bus Havas hanya sekitar 45 menit pada jam non sibuk (saya berangkat dari Sabiha Gokcen jam 10 malam dan sampai di pelabuhan Kadikoy jam 11 kurang).

Kadikoy terletak di bagian Asia dari Istanbul. Daerah ini selalu ramai baik siang maupun malam, ketika saya sampai sekitar jam 11, masih banyak penduduk Istanbul yang nongkrong di cafe atau sekadar berjalan-jalan di daerah yang sekilas mirip dengan kawasan Monastiraki di Athens. Dengan backpack seberat 8 kilo dan badan yang bau apek karena sudah seharian belom mandi, saya berjalan bermodal google map menuju hostel tempat saya menginap, Hush Hostel Lounge. Berjalan menyusuri pertokoan dan cafe2 serta kondisi fisik yang lelah akibat penerbangan membuat saya tidak memperhatikan dengan jelas nama hostel yang saya tuju. Alih-alih sampai di Hush Hostel Lounge, saya malah sampai di Hush Hostel Moda! Karena saya sudah sampai Hush Hostel Moda, sang resepsionis, Arslan menawarkan untuk menginap di Moda saja karena pemiliknya masih sama. Akhirnya saya memutuskan untuk menginap di Hush Hostel Moda.

Hostel yang konsep dormnya sederhana ini terletak di daerah Moda yang terkenal dengan cafe2 dan restoran tempat anak muda nongkrong. Jarang sekali terlihat turis Asia disini, saya berjalan keluar mencari makanan sederhana sebelum saya tidur. Pilihan saya jatuh ke restoran Dilim Pizza yang menawarkan satu slice pizza seharga 3 lira saja. Ketika saya memesan satu slice, sang pemilik restoran malah menambahkan satu slice lagi untuk saya dengan harga yang sama. Saya sempat bingung, namun sang pemilik dengan santai berkata ” one for you, free”. Wah, saya pun senang dan berterima kasih kepada sang pemilik dan berjanji untuk merekomendasikannya ke teman2 di Indonesia.

IMG_20160621_052516
view dari lantai 3 Hush Hostel Moda

Malam pun semakin larut dan saya memutuskan untuk beristirahat di hostel. Hostel ini sangat sederhana, lokasinya saja yang strategis. Kamar dorm terlihat suram dan tidak ada AC. Meskipun demikian, saya cuek saja dan tidur terlelap setelah menonton episode 9 dari Games of Thrones yang cetar membahana sebelum saya dihujani spoiler oleh teman-teman saya di social media. And tomorrow my real journey begins…

Useful Info :

  • Jika anda mendarat di Sabiha Gokcen, jangan kecewa karena sebenarnya akses menuju Sultanahmet dan Taksim pun mudah. Jika anda tinggal di Sultanahmet, anda bisa menumpang bis Havas yang selalu parkir di luar Airport dan menumpang bis tujuan Taksim atau Kadikoy. Jika anda memilih bis tujuan Taksim, anda akan sampai di Taksim Square dan kemudian anda bisa naik furnicular menuju Kabatas dan dari Kabatas anda bisa naik Tram 1 menuju Sultanahmet.Jika anda memilih bis tujuan Kadikoy, sesampainya di Kadikoy, anda bisa menumpang ferry Kadikoy-Eminonu selama 20menit dan kemudian sesampainya di Eminonu, anda bisa naik Tram1 menuju Sultanahmet. Saya lebih suka menumpang bis menuju Kadikoy karena jarak tempuh bis Havas yang lebih singkat menuju Kadikoy dibandingkan bis Havas menuju Taksim.Jadwal bis havas dapat anda liat di sini
  • Jika anda membutuhkan simcard turki selama perjalanan anda, anda bisa mendapatkannya di counter Turkcell atau Vodafone  setelah keluar bagian imigrasi airport. Saya memilih Turkcell yang menawarkan pake 7Gb internet seharga 80 Lira. Saya hanya perlu memberikan paspor untuk diregistrasi dan handphone saya pun sudah bisa digunakan.Praktis dan sangat berguna untuk traveller mandiri.

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Prelude to Second Trip to Turkey : Arrival in Sabiha Gokcen and Kadikoy

    1. Hallo mba Mike, kalo dari sabiha gokcek ke kadikoy cuma 45′ naik havas bus, apakah havas ada yang langsung ke atuturk? Karna penerbangan selanjutnya melalui atuturk pd hr yg sama..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s