Athens (part 4) : Menikmati Kehangatan Akropolis dan Keagungan Budaya Yunani

Pagi ini rencana saya hanya satu. Mengunjungi Kuil Partenon dan area sekitar Akropolis. Rencana saya mengunjungi Kuil Athena ini gagal kemarin karena kelelahan dan panas yang menyengat. Sekarang setelah tidur semalaman saya siap menebus kegagalan saya kemarin. Saya berjalan keluar dari Athenstyle di pagi hari ketika jalan masih sepi. Maklum saat itu jam masih menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Saya bahkan melewatkan sarapan di rooftop Athenstyle karena saya ingin sarapan di toko roti dan sampai di Akropolis lebih awal. Akropolis dan Kuil Parthenon dibuka pada jam 8 pagi. Saya pun kemudian berjalan menuju Akropolis sambil mampir di toko roti untuk sarapan.
Sambil ngopi, saya berpikir dan mengingat-ingat tempat yang akan saya kunjungi di sekitar Akropolis. Temple of Olympian Zeus, Arch of Hadrian, Roman Agora, Ancient Agora dan apa lagi ya? Ah pokoknya kemana ada reruntuhan kuno, disanalah saya akan berkunjung. Saya berjalan menuju Akropolis di pagi yang sepi tersebut. Jalanan masih sepi,banyak toko yang belum buka, bahkan pengemis di pinggir jalan pun masih tertidur. Melewati Monastiraki, Psiri dan Plaka, Arch of Hadrian akhirnya saya sampai di pintu masuk Akropolis. Saya datang terlalu pagi, jam masih menunjukkan pukul 7:30. Petugas loket pun kemudian meminta saya dan turis lainnya datang setengah jam lagi. Saya pun kemudian menggunakan waktu yang ada untuk berjalan di sekitar pintu masuk Akropolis dan saya baru tahu ternyata stasiun Metro Akropolis terletak dekat dengan pintu masuk Akropolis. Karena sibuk berjalan kaki dari kemarin, saya sama sekali tidak mencoba naik Metro walaupun saat itu saya tidak perlu membayar sepeserpun untuk naik bis dan metro. Ah nanti setelah puas berjalan-jalan di Akropolis, saya akan mencoba naik Metro.Tujuan? biar nanti saja kaki melangkah.

Tiket masuk Akropolis
Tiket masuk Akropolis
Odeon of Herodes Atticus
Odeon of Herodes Atticus
Prosesi pengibaran bendera oleh para tentara Yunani
Prosesi pengibaran bendera oleh para tentara Yunani

Setelah membayar 12 euro untuk sebuah tiket terusan, saya pun melangkah dengan semangat menuju Akropolis. Berjalan menanjak menuju Akropolis, saya melewati banyak reruntuhan bersejarah yang sayangnya tidak bernama. Pengunjung pun semakin banyak yang berjalan melewati saya yang masih terkesima melihat reruntuhan ini. Saya pun bergegas ke atas dan melihat satu regu pasukan Yunani sedang berbaris dan berjalan menuju tiang bendera di puncak Akropolis. Para pengunjung berhenti berjalan dan mengabadikan upacara kenaikan bendera ini. Para prajurit dengan berbaris dan pemimpin pasukan yang berjalan paling depan membawa bendera dengan khidmat. Upacara bendera berlangsung singkat namun khidmat. Saya pun kemudian berjalan menuju bangunan pertama di Akropolis yaitu Propylaea.

mejeng depan Poryplea, gerbang menuju Akropolis
mejeng depan Poryplea, gerbang menuju Akropolis

Propylaea adalah bangunan gerbang yang didirikan sebagai pintu masuk pertama menuju Akropolis. Para pemuja dewa Athena harus melalui gerbang ini terlebih dahulu sebelum dapat mengunjungi Kuil Parthenon. Gerbang yang tak lagi utuh ini tetap megah berdiri menyambut para pengunjung yang setia menunggu untuk melewatinya. Berjalan melalui tangga marmer yang sudah retak dimakan zaman, saya membayangkan nuansa khidmat para pemuja Dewi Athena ribuan tahun yang lalu berjalan di tangga yang sama. Setelah melewati Propylaea, saya sampai di puncak acropolis.

Kuil Parthenon dilihat dari Poryplea
Kuil Parthenon dilihat dari Poryplea
 Bagian depan Erectheion
Bagian depan Erectheion
Pemandangan indah kota Athena dari Akropolis
Pemandangan indah kota Athena dari Akropolis
Kuil Olympian Zeus dilihat dari Akropolis
Kuil Olympian Zeus dilihat dari Akropolis
Kuil Erectheion dan porch of Caryatids-nya yang terkenal.
Kuil Erectheion dan porch of Caryatids-nya yang terkenal.
Keran air yang jadi pemuas dahaga di Akropolis yang panas menyengat
Keran air yang jadi pemuas dahaga di Akropolis yang panas menyengat

Dataran Akropolis terhampar di depan dengan reruntuhan kuil dan juga tentunya tiga kuil yang masih berdiri yaitu Kuil Partenon,Erectheion, dan Kuil Athena Nike. Ketika saya sampai di sana,Akropolis masih sepi dengan suhu udara yang tidak begitu panas. Saya langsung berjalan menuju kuil Erechthion dan berfoto dengan kuil yang masih sepi pengunjung ini. Sendirian saya menyetel kamera dan mengambil foto kuil Erecthion yang dibangun sebagai tempat pemujaan dewi Athena Polias dan juga Poseidon. Bangunan ini terkenal dengan bagian belakangnya yang disangga oleh patung wanita (caryatids) sebagai tiangnya. Patung Caryatids ini sampai sekarang masih menjadi topik kontroversial di Yunani. Lord Elgin, seorang bangsawan dari Inggris, memanfaatkan situasi politik yang tidak stabil di Yunani memboyong salah satu dari patung Caryatids ke Museum London. Pemerintah Yunani sampai sekarang terus berusaha mendapatkan kembali patung Caryatid tersebut. Sekarang 5 dari 6 patung Caryatids yang asli dipamerkan di Museum Akropolis. Patung Caryatids yang ada di Erecthion sekarang adalah replika dari aslinya.

Kuil Parthenon
Kuil Parthenon
I am a brown man baked by Athenian Sun
I am a brown man baked by Athenian Sun
Pohon Zaitun yang ditanam sebagai simbol kemenangan Dewi Athena dalam persaingan dengan Dewa Poseidon
Pohon Zaitun yang ditanam sebagai simbol kemenangan Dewi Athena dalam persaingan dengan Dewa Poseidon

Setelah mengunjungi Erechtion, saya berjalan menuju Kuil Parthenon melewati puing-puing reruntuhan yang tersebar di sekitar Akropolis. Seandainya saja puing-puing ini masih utuh, kita bisa melihat bangunan-bangunan megah di sini. Sayangnya, hanya 3 kuil yang tersisa. Salah satunya adalah Kuil Parthenon yang merupakan bangunan kuil paling megah di Akropolis. Kuil ini merupakan simbol dari Athena, bagaikan mahkota yang menghiasi Akropolis. Tidak perlu lama bagi para turis untuk memenuhi area Akropolis ini. Semuanya seolah tertarik oleh pesona magis kuil yang sudah berdiri ribuan tahun ini. Para turis segera berpose mengabadikan foto mereka dengan latar belakang Kuil Parthenon. Saya pun tidak ketinggalan dan segera mengambil foto.Tidak cuma sekali tapi berkali-kali dengan sudut yang berbeda. Kuil ini sangat indah dengan latar langit biru yang kontras dengan warna putih kuil. Saya beruntung mengunjungi Yunani di musim panas, walau suhu udaranya panas, saya diberkati dengan langit biru tanpa awan yang menjadi latar foto saya.
Suhu udara yang tinggi walau jam masih menunjukkan pukul 9 pagi membuat saya kemudian berlindung di balik kuil. Banyak pekerja bangunan yang sibuk hilir mudik di sekitar kuil. Mesin Crane dan steger penyangga bangunan banyak menyangga bagian kuil ini. Bangunan kuil yang usianya sudah ribuan tahun ini memang sangat rapuh dan harus terus dirawat untuk tetap berdiri. Bagian paling menarik dari kuil ini adalah ukiran di frieze (penyangga atap kuil) yang aslinya ada di Museum Akropolis. Ukiran dewa-dewi dan pertempurannya dengan para Titans serta persaingan antara Dewa Poseidon dan Dewi Athena juga menghiasi frieze tersebut. Ah..keindahan Kuil Athena memang tiada duanya. Saya menyempatkan diri untuk berfoto di depan kuil ini sambil menyadari kalau suhu semakin panas dan suasana mulai ramai. Kulit saya yang sawo matang sekarang sudah berubah menjadi sawo hangus terbakar oleh teriknya matahari Mediterannia yang terik.
Menghindari panas, saya kemudian beranjak dari Akropolis untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di sekitar Akropolis.

Gereja Byzantine yang ada di Ancient Agora
Gereja Byzantine yang ada di Ancient Agora
Patung Kaisar Hadrian, sang pecinta budaya Yunani.
Patung Kaisar Hadrian, sang pecinta budaya Yunani.
Temple of Haphaetus
Temple of Haphaetus
Temple of Hephaestus adalah kuil yang paling utuh di seluruh Yunani. Kuil yang dibangun untuk memuja dewa pandai besi ini terjaga karena diubah menjadi gereja.
Temple of Hephaestus adalah kuil yang paling utuh di seluruh Yunani. Kuil yang dibangun untuk memuja dewa pandai besi ini terjaga karena diubah menjadi gereja.

Tempat yang saya kunjungi selanjutnya adalah Ancient Agora. Ancient agora adalah pusat dari kegiatan sosial politik dari penduduk Athens. Sayangnya tidak banyak bangunan yang masih utuh di agora ini kecuali Temple of Hephaestus yang berdiri kokoh ditemani pepohonan zaitun di sekitarnya. Kuil sang dewa pandai besi ini bertahan di tengah serangan waktu dan cuaca karena kuil ini pernah berubah fungsi menjadi gereja. Layaknya Pantheon di Roma, kuil ini tetap utuh dan dipertahankan walau berubah fungsi menjadi tempat ibadah umat Kristen. Sekarang Kuil ini menjadi monumen sejarah, simbol kemegahan bangsa Yunani. Setelah mengunjungi Kuil Haephastus, saya kemudian berjalan melewati reruntuhan bangunan yang tidak saya kenal. Begitu banyak bangunan bersejarah di sekitar Akropolis ini. Saya pun sampai di bangunan Hadrian’s Library yang sekarang hanya tersisa temboknya saja. Kaisar Hadrian yang sangat mencintai budaya Yunani memberikan banyak donasi terhadap penduduk Athena. Salah satu wujud donasinya adalah bangunan-bangunan megah di Athena seperti Arch of Hadrian dan Hadrian’s Library. Perpustakaan merupakan pusat pembelajaran di Athens pada zamannya.Selain tempat menyimpan koleksi buku, perpustakaan ini juga memiliki ruang untuk belajar dan mengajar. Hadrian’s Library menderita banyak kerusakan karena diserang oleh pihak musuh dan kemudian dialihfungsikan menjadi gereja. Sampai sekarang kita masih bisa melihat mosaik yang mulai memudar ditelan waktu di tembok perpustakaan kuno ini.

Library of Hadrian
Library of Hadrian
Mosaik byzantine yang mulai pudar
Mosaik byzantine yang mulai pudar

Selanjutnya saya berjalan menuju Temple of Olympian Zeus yang terletak tak jauh dari pintu masuk Akropolis. Kuil yang dibangun untuk menyembah Dewa Zeus ini merupakan kuil terbesar di Yunani pada zamannya. Kuil yang dimulai pada abad ke 6 SM ini sempat terbengkalai sampai Kaisar Hadrian menyelesaikan pembangunannya pada abad ke 2 M. Kuil dengan ukuran yang sangat mengagumkan ini memiliki 104 pilar marmer yang diambil dari Gunung Pentelus. Hadrian meletakkan sebuah patung Zeus yang terbuat dari gading dan emas di dalam kuil ini dan menjadikannya pusat penyembahan sang raja para dewa. Sayangnya kuil ini tidak tahan terpaan zaman. Kuil ini runtuh diterjang gempa bumi dan hanya 15 pilar yang masih berdiri di tempatnya. Sisanya sudah hilang atau terbaring begitu saja di tempatnya. Ketika saya berjalan menuju Kuil ini, saya melewati Arch of Hadrian, gerbang yang didirikan oleh penduduk Athena untuk menghormati Kaisar Hadrian yang begitu murah hati terhadap Athena. Berjalan dari gerbang ini, saya tiba di kuil Olympian Zeus dan kagum dengan luasnya area kuil dan besarnya pilar yang masih berdiri. Kuil ini mungkin kuil terbesar yang pernah saya lihat di negara-negara Mediterania yang pernah saya kunjungi. Pilar-pilar dengan motif Corinthian berdiri di atas lahan kosong yang luas dan beberapa bagian pilar yang runtuh masih terbaring seolah menunggu untuk didirikan kembali. Perasaan takjub sekaligus miris saya rasakan waktu itu. Bangunan yang begitu megah ini sekarang hanya tertinggal pilar-pilarnya saja. Alangkah indahnya jika kuil ini masih utuh. Bangunan Kuil dengan 104 pilar dan patung Dewa Zeus di dalamnya pasti sangat luar biasa dipandang. Sayangnya sekarang saya hanya bisa membayangkan saja atau melihat gambar rekonstruksi para ahli.

Arch of Hadrian
Arch of Hadrian
Temple of Olympian Zeus
Temple of Olympian Zeus

Usai mengunjungi Temple of Olympian Zeus, matahari sudah berada di puncak dan suhu udara menjadi panas dan lembab. Panasnya Athens membuat saya menghindari berada di bawah teriknya matahari. Saya pun kemudian memutuskan untuk mencoba sistem transportasi umum Athens yaitu metro. Ah mumpung gratis, saya pun berjalan ke stasiun metro Akropolis dan melanjutkan perjalanan saya menuju sisi modern kota Athena. Karena saya tidak mempunyai rencana apapun setelah Akropolis, saya pun iseng naik metro menuju Piraeus. Iseng mencoba metro Athens yang menjadi andalan para turis dan warga untuk berpergian. Kereta yang saya tumpangi ini lebih kuno dibandingkan dengan kereta metro yang saya naiki dari airport, namun tetap nyaman dan aman. Sesampainya di Piraeus, saya hanya pergi menikmati secangkir kopi dan spinach pie di sebuah café di pinggir pelabuhan. Saya beristirahat sambil mencari tahu mau kemana lagi setelah ini. Panasnya cuaca Athens membuat saya malas berada di luar ruangan. Saya menghabiskan waktu hanya santai di sofa sambil asik membaca update-an forum BB teman-teman saya dan menikmati enaknya spinach pie.

Cappuccino dan Spinach pie
Cappuccino dan Spinach pie

Ketika saya rasa cukup untuk bersantai, saya pun kembali naik kereta dan tujuan saya selanjutnya adalah Metro Mall. Mall? Ya, anda tidak salah baca. Sebagai seorang penduduk Jakarta sejati, saya selalu menganggap mall adalah tempat pengungsian ketika lapar,haus,bosan,panas, mati lampu atau kombinasi dari semua itu. Alasan saya mengunjungi mal di Athens ini selain karena panas, saya ingin tahu bagaimana mall di Athena. Kereta pun lalu melaju dari Piraeus melewati beberapa stasiun dan saya pun berhenti di Stasiun Agio Dimitrios yang letaknya tak jauh dari Metro Mall.
Metro Mall adalah salah satu mall kebanggaan penduduk Athens. Tidak banyak mall di Athens dan ketika saya berada disana mall tidak seramai di Jakarta. Kebanyakan anak-anak muda yang nongkrong di sana dan tentu saja keluarga yang sedang jalan-jalan. Saya berjalan-jalan sambil window shopping menikmati udara sejuk dari AC mall. Mall ini ukurannya tidak sebesar mal di Jakarta pada umumnya. Saya hanya menghabiskan waktu kurang dari sejam untuk nongkrong di sini. Ditemani sebotol bir Paulaner dari supermarket, saya duduk sambil menikmati pemandangan orang-orang yang lalu lalang. Hal yang paling umum saya lihat saat itu adalah antrian di mesin ATM. Penduduk Yunani yang sedang dalam masa krisis memang hanya bisa menarik 60 euro sehari. Miris memang, tapi saya tidak melihat penduduk Yunani yang marah atau bertindak anarkis. Bahkan ketika saya sengaja berkunjung ke Syntagma Square untuk sekedar melihat demonstrasi di sana, saya tidak melihat adanya tindak anarkis atau demonstrasi yang berlebihan. Semua teratur dan para demonstran menyerukan tuntutan mereka kepada pemerintah dengan tertib. Mereka melambaikan bendera Yunani dan menyanyi lagu-lagu yang bernada heroik. Saya bahkan melihat banyak pedagang kaki lima berjualan makanan. Suasana demonstrasi lebih mirip konser atau pasar malam he3.

IMG_5931
Metro Mall
Metro Mall di Athens
Metro Mall di Athens
Syntagma Square
Syntagma Square
suasana demo di sekitar Syntagma Square
suasana demo di sekitar Syntagma Square
Plaka
Plaka

IMG_5940

my last supper in Greece, Yoghurt Kebab and a glass of red wine
my last supper in Greece, Yoghurt Kebab and a glass of red wine

Berjalan dari Syntagma Square, saya berjalan menyusuri Plaka dan menikmati keramaian tempat ini untuk terakhir kalinya, maklum hari ini adalah malam terakhir saya di Athens dan saya akan kembali ke tanah air keesokan harinya. Bangunan-bangunan neo-klasikal berdiri di sepanjang jalan Andrianou yang membentang dari Plaka menuju Monastiraki. Sepanjang perjalanan ini saya menyempatkan diri membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di rumah. Kaos sablon yang dapat dicetak dengan nama kita dalam bahasa Yunani, kalender dengan gambar ala kamasutra, beberapa botol mini Ouzo, dan Baklava ala Yunani menjadi belanjaan saya hari ini. Barang-barang ini lebih murah kalau dibeli di sekitar Monastiraki Flea Market dibanding dengan area lain di Athens. Malam pun semakin tiba dan saya mengakhiri hari saya dengan makan malam di restoran O Thanasis. Karena ini malam terakhir saya di Athens, saya ingin makanan yang lebih spesial. Saya memesan kebab yoghurt dan segelas red wine. Tidak butuh lama, pesanan saya datang dengan ukuran yang lebih cocok dimakan oleh 2 orang. Sepiring Kebab dengan yoghurt yang melimpah ruah di atasnya. Awalnya saya menikmati kebab yang lezat ini, tapi lama-lama rasanya eneg juga karena rasa asam yogurtnya yang dominan. Saya tetap berjuang untuk menghabiskan makan malam terakhir saya di Athens ini. Usai menghabiskan sepiring kebab dengan susah payah, saya meminum secangkir red wine sambil merenungkan perjalanan saya selama 19 hari ini. Semua pengalaman menyenangkan dari Italia dan Yunani berakhir hari ini. Suatu perjalanan unik yang mungkin tidak akan pernah lagi saya nikmati dalam kesendirian saya. Suatu perjalanan yang penuh dengan kemandirian dan merupakan suatu refleksi bagi hidup saya. Hidup itu singkat dan isilah dengan hal yang patut dikenang saat menjelang ajal nanti. Jangan menunggu sampai tua untuk mencapai apa yang hendak dicapai, tapi raihlah ketika raga sehat dan masih bisa menikmati segala yang disajikan dunia tanpa melupakan sang Khalik. Ya Tuhan, jika Engkau berkehendak, izinkan aku melihat Laut Mediterrania dan negara-negara koloni Yunani dan Romawi lagi.
Tips :
– Suhu Athens di musim panas cukup panas dan kadang membuat turis merasa kurang nyaman. Pakailah krim Sunblock dan topi untuk menghindari kontak langsung dari sinar matahari.
– Bawalah botol air minum dan usahakan minum yang banyak untuk menghindari dehidrasi.
– Waktu terbaik untuk mengunjungi Akropolis adalah di pagi hari saat suhu belum begitu panas dan waktu sore menjelang matahari terbenam untuk mendapatkan foto Kuil Parthenon yang terbaik.
– Harga tiket Akropolis adalah 12 euro sudah termasuk beberapa tempat kunjungan di sekitar Akropolis ( Ancient Agora, Temple of Olympian Zeus, Roman Agora, Hadrian’s Library dan beberapa museum seperti museum Ancient Agora dan Museum Kerameikos).

Advertisements

2 thoughts on “Athens (part 4) : Menikmati Kehangatan Akropolis dan Keagungan Budaya Yunani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s