Athens (part I) : Nongkrong di Monastiraki,Crisis? What Crisis?

Jujur saja, berbeda dengan tempat-tempat wisata dari perjalanan saya kali ini, Athens mungkin adalah kota yang paling sedikit saya research. Awalnya saya tidak berharap banyak akan kota ini, apalagi kondisi krisis Yunani yang makin menghebat pra dan pasca referendum. Niat saya mengunjungi Athens hanya satu yaitu mengunjungi Kuil Parthenon dan Akropolis. Setelah itu saya anggap misi saya di Athens selesai. Saya bahkan sempat mempertimbangkan untuk melewatkan Athens dan menyebrang ke Fethiye karena situasi krisis yang tidak menentu. Namun karena pertimbangan biaya dan saran orang-orang yang saya temui di Yunani, saya akhirnya tetap melanjutkan perjalanan menuju Athens.Pilihan saya tepat,Athens ternyata menyimpan banyak pesona yang tak terlupakan.

Arriving at Athens with RyanAir
Arriving at Athens with RyanAir

Sampai di Athens International Airport pada pukul 7 malam, saya langsung berjalan menuju metro yang menghubungkan airport dengan kota Athens. Hal pertama yang saya rasakan ketika sampai di tempat ini adalah hangat. Kota ini lebih hangat menjurus ke panas dibandingkan dengan Rhodes dan Santorini. Kerumunan turis terus berjalan mengikuti papan petunjuk ke arah metro. Ketika sampai di loket metro, saya mendapati bahwa saya tidak perlu membayar ongkos naik metro menuju Athens. “ No ticket today, it’s free.”jawab si penjaga loket ketika saya mau membeli tiket. Saya sempat terheran-heran kenapa tidak ada tiket. Saya pun berjalan ke peron metro dan menunggu kereta datang. Tidak lama kereta datang dan para turis langsung naik ke kereta yang modern ini. Kereta ini luas dan bersih dengan fasilitas rak penyimpanan tas. Menurut saya kereta ini lebih bagus dari kereta MRT Singapura sekalipun. Kok bisa negara yang katanya bangkrut ini memiliki sistem transportasi yang bagus?Perjalanan menuju stasiun Monastiraki mencapai kurang lebih satu jam. Sepanjang perjalanan saya terus melihat pemandangan luar jendela kereta yang bergerak sampai saya merasa ngantuk dan nyaris tertidur. Kereta yang nyaman ini akhirnya kemudian sampai di stasiun Monastiraki. Membawa ransel saya, saya berjalan ke luar stasiun dan langsung terkejut dengan keramaian yang ada. Athens sangat ramai setidaknya di Monastiraki. Banyak kerumunan orang dan orang yang hilir mudik di alun-alun depan stasiun ini. Beberapa orang keturunan Afrika nongkrong dan sesekali seorang dari mereka menghampiri turis yang berjalan lewat. Saya sendiri sempat dihampiri dan karena saya sudah sering mendengar tentang scam-scam di tempat wisata, saya tidak mengindahkan mereka. Saya berjalan pergi begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun. Rude?Yes.But knowing a scam and walking right to it is pretty dumb to me.

IMG_20150708_083055
Jalan dekat Athenstyle,banyak bangunan di Athens yang “dihiasi” dengan grafitti.
Monastiraki Square di malam hari. Courtesy of http://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/06/eb/d3/9d/monastiraki.jpg
Monastiraki Square di malam hari. Courtesy of http://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/06/eb/d3/9d/monastiraki.jpg

Jalan di sekitar Monastiraki sangat ramai, kendaraan lalu lalang dan sesekali terhalang oleh pejalan kaki yang menyebrang jalan. Bersama penyeberang jalan yang lain, saya menyebrang jalan yang ramai dengan kendaraan. Saya kemudian menyadari bahwa Athens itu ternyata kumuh. Ya,kumuh. Bangunan pertokoan dan perumahan tampak lusuh dan banyak graffiti di tembok-tembok bangunan. Banyak anak muda yang nongkrong di pinggir jalan seolah sedang menunggu temannya. Saya tidak menyangka kalau ibukota Yunani begitu kumuh,mirip dengan daerah tinggal saya di Jakarta minus graffiti dan tentunya Kuil Parthenon. Saya kemudian berjalan mencari Athenstyle, hostel saya yang terletak hanya di seberang Stasiun Monastiraki. Saya sengaja memilih Athenstyle sebagai tempat saya menginap karena posisinya yang strategis. Terletak di seberang Stasiun Monastiraki, Athenstyle juga dekat dengan Plaka dan Akropolis dapat dicapai dengan hanya berjalan kaki. Selain itu, hostel ini juga menawarkan pemandangan Akropolis dengan Kuil Parthenonnya dari rooftop bar-nya. Harganya juga tidak mahal, saya membayar 18 euro semalam untuk dormitory bed. Harga tersebut sudah termasuk dengan sarapan.
Setelah check in, saya kemudian diantar ke kamar saya yang terletak di lantai 4 gedung sebelah. Saya agak merasa kurang nyaman karena bangunan yang kami tuju sepertinya,well..kumuh. Banyak kucing berkeliaran dan sampah. Untungnya, untuk memasuki bangunan ini kita harus menggunakan access card sehingga relatif aman. Ketika hendak menuju lantai 4, ternyata lift yang semestinya membawa saya ke sana rusak sehingga saya harus berjalan ke lantai 4 dengan tangga spiral yang disinari oleh lampu motion sensor. Suasana gelap dan lampu menyala dan mati ketika saya lewat. Saya merasa seperti lagi berada di game Resident Evil. Selesai menaruh tas saya di loker, saya kemudian pergi ke luar lagi untuk mencari makanan. Perut saya belum diisi apapun semenjak dari Rhodes. Lapar dan haus membuat saya memilih pergi nyari makan dulu sebelum mandi.
Jika kita membayangkan suasana yang disebut “krisis” mungkin yang ada di pikiran kita adalah peristiwa krismon tahun 1998 yang berujung pada kerusuhan Mei 98 yang berdarah itu. Konsepsi pikiran saya mengenai krismon kurang lebih seperti itu. Saya membayangkan situasi serba sulit dan banyak orang yang akan memanfaatkan suasana untuk mencari keuntungan masing-masing sampai ke tindak criminal. Namun pengertian “krisis” ketika di Athens benar-benar lain dengan apa yang ada di pikiran saya. Ketika saya bertanya mengenai krisis kepada pelayan restoran dan penjual oleh-oleh di Athens, mereka hanya tersenyum dan menjawab:

” Do you see any crisis here?”

“Ah..There is a crisis, but it’s only a matter of numbers. Don’t worry about it. Athens is fun and warm”

“Yeah, there is crisis but we will survive this. We have survived the Persians,the Romans,the Ottomans,World War I,World War II. This crisis is nothing.”

” Crisis? Sure, earning money is more difficult but there is always some room for Ouzo (sejenis minuman keras),have fun!”

Bahkan ketika saya menjelaskan tentang kerusuhan Mei 1998 di Indonesia, George seorang penjual oleh-oleh di Plaka menjelaskan kalau dulu hal serupa pernah terjadi tapi untuk sekarang, penduduk Yunani sudah lebih dewasa.Kerusuhan dan penjarahan hanya akan membuat keadaan lebih sulit dan turis takut untuk datang. Suatu pernyataan yang sangat dewasa dan makin membuat saya kagum dengan penduduk Yunani.

Walaupun kumuh, Athens relatif aman untuk turis. Ketika keluar dari hostel, jam sudah menunjukkan pukul 9:30 malam. Matahari baru tenggelam setengah jam yang lalu. Saya berjalan mencoba mencari tempat yang ideal untuk makan malam. Tanpa bermodal GPS atau peta, saya berjalan mengikuti keramaian orang yang tampaknya berpusat di sekitar Monastiraki Square.

Nongkrong sambil makan Souvlaki di emperan toko
Nongkrong sambil makan Souvlaki di emperan toko

Rasa haus karena panasnya suhu di Athens walaupun sudah malam membuat saya mampir ke kios minuman yang ada di dekat gereja tua di Monastiraki Square. Sekaleng bir Kaiser seharga 1 euro pun di tangan dan saya terus berjalan mencari makanan favorit saya di Yunani yaitu Souvlaki. Tak jauh dari gereja tersebut, saya menemukan sebuah restoran yang ramai dikunjungi oleh penduduk lokal dan juga turis. O’Thannasis, sebuah restoran yang terlihat mewah dari depan ini membuat saya penasaran dan saya pun tertarik melihat menu yang di pajang di depan pintunya. Makanan yang disajikan di restoran ini asli Yunani. Harga makan di tempat dan take-away berbeda. Saya kemudian memesan sebuah Souvlaki ayam yang disajikan segera panas-panas dengan roti pita dan sayuran berbumbu tzaziki. Souvlaki enak ini hanya seharga 2.10 euro saja.Dengan Souvlaki di tangan kanan dan bir Kaiser di tangan kiri, saya pun kemudian siap makan malam. Saya pun iseng duduk di emperan toko yang sudah tutup. Nongkrong sambil mengunyah souvlaki, saya tidak merasa canggung atau takut diganggu orang di sini. Walau tampang saya berbeda sendiri, saya tetap santai makan dan minum bir sambil nongkrong di emperan. Para muda-mudi yang lewat dan melihat saya pun tidak memberikan pandangan aneh kepada saya. Saya merasa kerasan dan kesan pertama saya tentang Athens yang kumuh dan berbahaya mulai cair. Usai menyantap makan malam saya, saya kemudian berjalan ke Monastiraki Square dimana banyak muda mudi sedang berkumpul dan beberapa dari mereka membawa instrument musik dan mereka mulai mengamen. Suasana yang ramai dan hangat. Kapan lagi bisa menikmati musik Yunani dalam keramaian dan berlatarkan Akropolis yang bersinar terang dibawah lampu sorot. Crisis? What crisis? Everybody is having fun here.Sayang saya sudah terlalu lelah dan jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Saya pun kemudian berjalan kembali ke hostel melewati jalan sempit disambut oleh beberapa ekor kucing yang menatap saya dingin. Ah Athens, semoga esok aku bisa menikmati cerahnya langitmu dan hangatnya mentarimu.
Tips aman mengunjungi Athens :
1. Jangan pernah takut mengunjungi ibukota Yunani ini. Penduduk Yunani sangat sadar kalau perekonomian mereka amat bergantung pada sektor pariwisata sehingga turis sangat dihargai. Penduduk asli Athens tergolong hangat dan ramah. Saya sering ngobrol dengan mereka yang sangat bersahabat dan suka berkenalan dengan orang baru. Memang ada scam-scam terutama di daerah turis namun jika kita waspada dan tidak memberi reaksi maka kita akan baik-baik saja. Scam yang paling umum saya lihat di Athens adalah pria keturunan Afrika yang tiba-tiba menghampiri anda dan menghujani anda dengan pertanyaan-pertanyaan umum bagi turis layaknya seorang sahabat, dia akan kemudian menawarkan bantuan dan seterusnya?Pria tersebut akan meminta uang tanda jasa menunjukkan tempat wisata dll. Ada juga yang menjual gelang persahabatan,anak kecil penjual bunga mawar yang awalnya bilang gratis tapi kemudian ketika kita ambil, dia akan meminta bayaran dengan harga yang mahal. Hati-hati dengan scam macam ini karena walaupun anak kecil yang menawarkan, ada orang dewasa yang mengawasi untuk bertindak jika anda menolak membayar. Intinya, waspada dan jangan gampang percaya dengan yang namanya gratisan.
2. Dibandingkan dengan Roma yang terkenal copetnya, angkutan umum di Athens tergolong lebih aman. Ketika saya naik metro dan bis, saya tidak pernah merasakan adanya gelagat buruk orang yang berniat mencopet atau merampok. Rata-rata penumpang sibuk dengan urusan masing-masing dan saya pun sibuk menikmati pemandangan di luar. Namun tetap hati-hati, di tempat seaman apapun,peluang kejahatan tetap ada. Jika naik bis atau metro, jagalah barang bawaan anda masing-masing dan jangan menaruh dompet di saku belakang celana.Pakailah money belt atau alat pengaman uang lain untuk menjaga anda dari kecopetan.
3. Ketika membaca artikel-artikel mengenai tempat berbahaya di Athens, sebagian besar website travel menyarankan menghindari untuk tinggal di sekitar Omonia Square karena rentan dengan kejahatan dan prostitusi tapi saya sendiri belum pernah ke sana. Rata-rata tempat di Athens cukup aman, bahkan untuk solo traveler.

Advertisements

3 thoughts on “Athens (part I) : Nongkrong di Monastiraki,Crisis? What Crisis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s