Santorini (Part 4) : Menguak Misteri Atlantis di Akrotiri dan Berburu Sunset di Oia

Usai menyelesaikan “masalah” dengan motor sewaan, akhirnya saya pergi makan siang di Lucky Souvlaki. Lucky’s Souvlaki adalah kios yang letaknya tak jauh dari terminal bis Fira. Kios Souvlaki ini ramai dikunjungi turis yang lapar dan pengen ngemil Souvlaki. Bagi saya Souvlaki adalah makanan utama. Selain murah, porsinya yang lumayan besar juga mengenyangkan. Souvlaki ini enak dimakan dengan ditemani sekaleng bir Alpha atau Yellow Donkey yang merupakan bir khas Santorini. Kenyang dengan Souvlaki, saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju Akrotiri.

Salah satu bangunan bertingkat di Akrotiri
Salah satu bangunan bertingkat di Akrotiri

IMG_5434

Kita bisa berjalan-jalan di antara reruntuhan Akrotiri
Kita bisa berjalan-jalan di antara reruntuhan Akrotiri

Akrotiri adalah salah satu kota kuno tertua di Yunani. Kota yang dibangun oleh peradaban Minoan ini terletak di antara jalur perdagangan yang strategis yaitu antara pulau Siprus dan Kreta. Kota yang makmur ini akhirnya menemui akhirnya pada akhir abad 17 SM karena letusan gunung Thera di Santorini. Letusan gunung ini menutupi seluruh kota dengan abu dan akhirnya kota ini terlupakan sampai di abad ke 20 M dimana ekskavasi dilakukan untuk menguak tabir misteri kota ini.Seperti Pompeii, Akrotiri menemui akhirnya akbiat letusan gunung, namun penduduk Akrotiri lebih beruntung dibandingkan dengan Pompeii karena mereka berhasil melarikan diri sebelum gunung meletus. Hal ini dibuktikan dengan tiadanya jasad manusia yang ditemukan di kota ini. Kota ini benar-benar ditinggalkan oleh penduduknya. Ada teori yang menyatakan kalau kemungkinan latar belakang cerita Atlantis yang ditulis oleh Plato terinspirasi dari kejadian kehancuran kota Akrotiri dan letusan gunung Thera. Mengingat adanya beberapa faktor kemiripan kebudayaan Minoa dan Atlantis yang digambarkan oleh Plato, besar kemungkinan Akrotiri merupakan Atlantis yang dimaksudkan Plato. Kejadian letusan gunung Thera terjadi jauh sebelum Plato lahir dan mungkin Plato pernah mendengar akan legenda lost of civilization ini dan kemudian menuangkannya dalam karya ciptaannya yaitu Timaeus dan Critias. Nyatanya tidak ada seorang pun yang tahu dimana Atlantis yang dimaksudkan oleh Plato. Apakah Akrotiri? Apakah benar-benar ada tempat bernama Atlantis atau apakah tempat itu ternyata Indonesia seperti yang beberapa tahun lalu heboh diberitakan?

the ruins of Akrotiri
the ruins of Akrotiri
Situs Akrotiri dilindungi oleh atap modern dan sistem pengaturan suhu untuk menjaga kelestarian situs yang rapuh ini
Situs Akrotiri dilindungi oleh atap modern dan sistem pengaturan suhu untuk menjaga kelestarian situs yang rapuh ini

IMG_5429
Situs Akrotiri terletak tak jauh dari Red Beach yang saya kunjungi sehari sebelumnya. Saya pun segera memacu motor saya menuju Akrotiri dan sampai sekitar 20 menitan sesudahnya. Situs Akrotiri diurus dengan hati-hati oleh Pemerintah Yunani. Bangunan modern berupa atap dan sistem suhu udara yang diatur untuk menjaga kondisi situs merupakan wujud komitmen pemerintah akan kekayaan sejarah negeri para dewa ini. Untuk memasuki Akrotiri, saya membayar 5 euro untuk tiket masuk. Memasuki situs ini kita akan berhadapan dengan reruntuhan bangunan yang berwarna putih dan abu-abu. Warna abu-abu ciri khas abu vulkanik menjadi warna dominan reruntuhan Akrotiri. Bangunan-bangunan di Akrotiri ini tidak memiliki nama atau informasi yang jelas sehingga untuk benar-benar mengetahui sejarah bangunan di sini, kita perlu menyewa jasa tour guide. Saya sempet nyolong-nyolong dengar sedikit dari tour guide yang kebetulan berbicara cukup keras hehe. Kebudayaan bangsa Minoan yang tinggal di Akrotri cukup modern, hal ini dibuktikan dengan sistem pengairan dan pembuangan yang teratur dan adanya pembagian tempat berternak yang terletak di luar pemukiman penduduk. Penduduk Akrotiri juga menghiasi rumahnya dengan fresco dan mosaic. Bangunan mereka juga ada yang sampai berlantai 3. Hal yang paling saya sukai dari mengunjungi tempat ini adalah, saya bisa berjalan-jalan di antara reruntuhan yang usianya ribuan tahun ini. Jalan dari beton dan platform didirikan untuk kemudahan turis menikmati reruntuhan bangunan kota ini. Saya menghabiskan waktu sekitar sejam sebelum akhirnya saya melanjutkan perjalanan menuju Oia untuk menikmati sunset yang terkenal di Santorini.

Salah satu gereja yang saya jumpai secara tak sengaja otw ke ujung selatan Santorini.
Salah satu gereja yang saya jumpai secara tak sengaja otw ke ujung selatan Santorini.
The edge of Santorini
The edge of Santorini
Oia di kejauhan
Oia di kejauhan
Foto dulu ah
Foto dulu ah
Mercusuar Santorini
Mercusuar Santorini
ah the blue ocean and sky
ah the blue ocean and sky

Sebelum mencapai Oia, saya mengadakan sedikit detour menuju ujung paling selatan dari pulau Santorini yang ditandai dengan sebuah mercu suar. Tempat yang saya temui secara tidak sengaja ini memang jauh dari kunjungan para turis yang biasanya terpusat pada Fira,Oia atau pantai-pantai di sekitar Santorini. Ujung pulau ini sepi dan sangat nyaman untuk hanya duduk di bawah naungan mercu suar yang bersinar tiap malam memberikan arah pada ferry dan kapal yang lewat. Jika anda sedang galau dan butuh tempat untuk menyendiri, mercu suar ini adalah tempat yang ideal. Duduk di atas karang yang menghadap langsung ke kaldera, anda bisa lupa akan masalah anda dan membiarkan angan terbang jauh sejauh Oia yang ada di nun jauh di sana, di utara dari Santorini. Bangunan-bangunan di kota Oia terlihat bagaikan krim putih di atas kue berwana kelabu di kejauhan. Selesai melamun memikirkan hidup, saya pun lanjut ke Oia.
Siapa yang belum pernah melihat foto sunset dengan latar kota putih di lereng gunung dan laut yang temaram disinari sinar mentari senja di Santorini? Saya yakin hampir semua orang pernah paling tidak sekali melihat foto indah yang kemudian menjadi salah satu alasan saya mengunjungi Santorini. Sebelum mengunjungi Santorini, saya browsing untuk mencari info spot sunset terbaik di Santorini. Saya menemukan bahwa the best spot for sunset in Santorini is in Oia.

IMG_5466

Oia
Oia
IMG_20150704_195753
cafe-cafe yang dipenuhi turis menunggu sunset

Ketika saya sampai di Oia, banyak turis sudah mengambil spot di sekitar Oia castle.Turis yang rada berduit menunggu sunset sambil makan dan minum di deretan café yang menghadap kaldera di Oia. Masing-masing sudah memegang kamera di tangannya masing-masing siap mengabadikan moment sunset. Lantas bagaimana dengan turis yang rada ga berduit macam saya? Saya berjalan buru-buru menuju Oia Castle yang saat itu sudah mulai ramai dikunjungi turis. Saya sendiri beruntung mendapatkan spot bagus di benteng tersebut. Berbagi duduk dengan turis dari RRT dan Portugal, saya nongkrong sambil menunggu matahari terbenam. Tempat favorit turis untuk mengabadikan sang surya tenggelam ini ramai tapi tetap indah. Saya tidak merasa terganggu dengan keramaian, mungkin karena pemandangan indah kaldera dan kota Oia membuat saya sibuk dalam lamunan saya sendiri. Alangkah beruntungnya penduduk Santorini bisa menikmati pemandangan indah seperti ini setiap hari. Krisis Yunani yang berkepanjangan seolah tidak berlaku di pulau yang ramai dikunjungi turis ini. Bagaimana kita bisa memikirkan krisis jika pemandangan seperti ini ada di hadapan kita. Pikiran saya yang sering mumet akibat pekerjaan kantor, rutinitas kerja yang terus berulang setiap hari tanpa ada sesuatu yang baru menjadi lega hanya dengan duduk di benteng dan menikmati waktu berlalu di tempat ini. Sang surya perlahan tenggelam dan sinarnya menerpa bangunan-bangunan putih di Oia dan mengubah warna putih cemerlangnya menjadi jingga. Lautan juga berubah menjadi keemasan tertumpah oleh sinar mentari senja itu. Sang surya yang kini berwarna merah jingga seolah menebarkan sinarnya ke langit biru membentuk suatu siluet putih kebiruan bagai bendera Yunani yang melambangkan sinar mentari dan laut itu. Sebelum mengambil foto, saya sempat tertegun sejenak menikmati pemandangan indah ini. Mata saya seolah tak bisa berkedip menikmati pesona warna dan keromantisan suasana senja itu. Sungguh bila saya bisa menghentikan waktu, saya ingin menikmati pemandangan ini lebih lama lagi. Mengabadikan suatu gambar nyata ciptaan Tuhan yang tak terbatas ke dalam pikiran saya yang fana dan terbatas ini. And I wonder how people deny the existence of God if the nature itself testifies of how great and profound God is.

Keramaian para pemuja sunset
Keramaian para pemuja sunset
Sunset in Santorini
Sunset in Santorini
smile..you are in OIa.
smile..you are in OIa.

Usai mengambil foto dan selfie di puncak Oia Castle, saya pun kemudian buru-buru kembali ke Fira. Perut saya yang lapar serta saya tidak mau mengambil resiko mengemudi di dalam kegelapan malam membuat saya segera meninggalkan Oia dan keindahannya untuk pulang ke Fira. Jalan dari Oia ke Fira melewati jalan yang tidak memiliki penerangan yang baik,sehingga saya memilih aman saja. Sesampainya di Fira, rasa kangen saya terhadap makanan Asia timbul. Saya pengen makan mie goreng. Untungnya ada sebuah restoran Chinese food di pusat kota Fira. Segera saya memesan sepiring mie goreng pada kasir yang masih keturunan Chinese asli. Kasir ini berbicara bahasa mandarin pada saya, dan saya menanggapi dengan bahasa Inggris. Dengan muka agak heran, dia pun kemudian berbicara bahasa Inggris. Hal ini sering terjadi pada saya jika bertemu dengan turis atau pedagang asal RRT. Maklum tampang saya yang Chinese banget tapi apa boleh buat bahasa Mandarin saya payah. Mesti belajar lagi neh biar ga dibilang Chinese KW hehe. Anyway, rasa mie gorengnya lumayan walau tidak seenak di Jakarta. Lumayanlah buat ngilangin rasa kangen makanan ala Chinese. Setelah makan malam, saya pergi ke tour agent tak jauh dari restoran Chinese food tersebut untuk membeli tiket ferry menuju Rhodes.Ternyata, hanya ada satu ferry menuju Rhodes pada esok harinya dan itu pun dini hari. Tidak ada pilihan lain, akhirnya saya pun membeli sebuah tiket reserved seat menuju Rhodes.

The wedding at sunset
The wedding at sunset
Expecting a wedding scene?
Expecting a wedding scene?
Restoran Chinese food di Fira
Restoran Chinese food di Fira
mie goreng ala resto chinese di Santorini
mie goreng ala resto chinese di Santorini

Tips:
1. Bawalah kamera yang rada bagusan untuk memotret sunset di Santorini. Datang sejam sebelum matahari terbenam (pada musim panas matahari terbenam pukul 9 malam) dan pilih tempat yang ideal untuk memotret dan dipotret karena seluruh Oia (bahkan café-café mahalnya) akan dipenuhi turis.
2. Jika anda suka sejarah, anda bisa menyewa tour guide di situs Akrotiri untuk menjelaskan bangunan-bangunan yang ada di sana.Bangunan-bangunan di Akrotiri tidak diberi informasi yang jelas sehingga bagi orang awam, bangunan ini hanya seperti tumpukan batu biasa dan tidak akan memberikan kesan yang menarik.

Next : Santorini (Part 5) : Jalan Pagi di Firostefani dan Mencicipi Anggur di Santo Winery

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s