Santorini (Part 3) : Petualangan Menantang Maut di Reruntuhan Kota Thira

Segelas kopi dan apapun dari etalase di toko roti itu. Itulah yang saya pikirkan ketika masuk ke dalam toko roti langganan di Fira. Saya lalu memesan segelas cappuccino dan sebuah donat coklat berukuran besar untuk sarapan.Srruuppp…. there is nothing better than a dose of caffeine and sugar in the morning. Fira di pagi itu terasa sejuk menjurus ke dingin. Saya bahkan menikmati kopi sambil berjemur matahari pagi untuk menghangatkan badan. Karena belum merencanakan apa-apa,sambil ngopi saya kemudian memikirkan hendak kemana hari ini. Minat saya ketika mengunjungi suatu tempat adalah mengunjungi tempat bersejarah dan Santorini memiliki dua kota kuno yang wajib dikunjungi yaitu Thira dan Akrotiri.Pilihan saya jatuh pada Thira yang berada di atas bukit dekat pantai Kamari.

anything from that counter please..
anything from that counter please..
Nongkrong depan Toko Roti
Nongkrong depan Toko Roti

Segera saya menyalakan scooter saya dan kemudian tancap gas menuju Thira. Motor saya melaju menuju arah Kamari melewati jalan yang melalui rumah-rumah putih dan kebun anggur. Walaupun Santorini terkesan gersang, masih ada banyak perkebunan anggur yang menghiasi permukaan pulau yang berwarna abu-abu ini.Saya juga sempat melewati Open Air Cinema di Kamari yang menawarkan sensasi nonton ala layar tancap di Santorini. Film-film yang ditawarkan juga tergolong baru. Pada saat saya di sana film The Rock yang terbaru yaitu San Andreas sedang ditayangkan. Open Air Cinema hanya buka pada malam hari dan jadwalnya bisa di lihat di website mereka atau di iklan tempel yang ada di Terminal Bis Fira. Setelah mengendarai selama setengah jam dari Fira, saya pun sampai di kaki gunung Mesa Vouna tempat kota tua Thira berada.

The winding road to Thira
The winding road to Thira

IMG_5389
Thira adalah kota yang didirikan oleh Theras,pemimpin orang Doria (salah satu suku Yunani kuno) dari Sparta.Kota ini didirikan pada abad 9 SM dan setelah kejayaan Doria berakhir, kota ini ditinggali oleh orang-orang Yunani, Romawi dan Byzantium. Sebagian besar reruntuhan bangunan yang ada di kota ini berasal dari abad ke 4 yaitu pada periode Yunani (Hellenistic Era). Kota ini berkembang menjadi kota yang makmur di zaman Kekaisaran Romawi dan Byzantium namun kemudian ditinggalkan oleh penduduknya terutama setelah letusan gunung pada tahun 726 Masehi.
Berada di kaki gunung Mesa Vouna, saya berhenti sejenak mengamati jalan menuju Thira yang rada “menantang”. Jalur sempit dan zig-zag tanpa pembatas jalan menuju ke puncak gunung sempat membuat saya berpikir dua kali untuk ke atas. Namun, seperti biasa ketika ada suatu hal menantang seperti ini, akal sehat saya cenderung mengalah pada adrenalin saya yang haus akan petualangan. Saya pun lalu menyalakan mesin dan langsung menyusuri jalan sempit tersebut. Awalnya perjalanan menaiki gunung ini tidak menjadi masalah buat saya. Jalan yang beraspal rapih dan sepi membuat saya merasa biasa saja terlebih dengan pemandangan kota Kamari dengan pantainya yang indah membuat saya semakin terlena dalam zona aman. Namun setelah jalan semakin ke atas, saya mulai menghadapi masalah. Angin bertiup semakin kencang dan motor saya mulai goyang ditiup oleh angin. Kendali motor menjadi tidak stabil dan saya harus mengurangi kecepatan serta menjaga supaya motor saya tidak tergelincir ke sisi jalan yang berupa tebing. Situasi makin berbahaya ketika jalan aspal berubah menjadi jalan bebatuan dan motor menjadi semakin tidak stabil karena permukaan tidak stabil. Saya sempat merasa akan tewas di tempat ini. Angin yang bertiup kencang dan tingginya posisi saya saat itu membuat saya semakin paranoid. Doa-doa pun saya panjatkan dan saya tidak malu untuk mengakui kalau saya sempat takut mati di tempat ini. Namun karena kondisi saya yang sudah berada di tengah perjalanan, saya nekad terus naik sampai puncak. Perjalanan menanjak dan menantang maut ini akhirnya berakhir. Saya tiba di puncak gunung tak jauh dari loket situs purbakala Thira. Angin bertiup kencang dan tidak ada bangunan di tempat parkir ini selain sebuah kios yang sudah tutup lama. Saya merasa berada dalam badai karena untuk berjalan saja sulit. Angin terus bertiup seperti berusaha meniup saya agar jatuh dari tebing. Setelah bersusah payah memarkir motor, saya berjalan menuju belakang kios tua itu untuk berlindung sebentar dari angin. Gile, belum pernah seumur hidup saya, saya berhadapan dengan angin sekuat di sini. Saya mengeluarkan kamera dan tongsis untuk berfoto di tempat yang indah namun berbahaya ini. Setelah berfoto, saya kemudian berjalan menuju loket untuk membeli tiket masuk situs purbakala Thira.Saya merupakan pengunjung pertama di kota tua ini. Selesai mendapatkan tiket saya kemudian berjalan naik ke kota Thira.

berselfie di tempat parkir motor(sebelum motornya terkapar)
berselfie di tempat parkir motor(sebelum motornya terkapar)
Sanctuary of Aphrodite
Sanctuary of Aphrodite
Tampang culun ketiup angin :D
Tampang culun ketiup angin 😀

IMG_5395

Tangga di Thira
Tangga di Thira

Reruntuhan kota ini mungkin reruntuhan kota dengan lokasi paling unik yang pernah saya kunjungi.Letaknya yang di atas gunung membuat angin terus bertiup dengan kencang dan saya hanya sempat menikmatinya selama 10 menit.Ya hanya 10 menit, kenapa? Karena dari tempat saya berdiri saya melihat scooter sewaan saya sudah tersungkur jatuh ditiup angin kencang. Saya pun kaget dan akhirnya turun buru-buru untuk mengecek kondisi scooter saya. Jantung saya berdebar kencang dan keringat dingin mulai bercucuran. Saya langsung mengangkat scooter yang tersungkur tersebut dan memeriksa kondisi motornya (sayangnya saya kurang teliti dalam memeriksa..bersambung ke edisi selanjutnya). Saya menemukan adanya keretakan pada lampu motor sebelah kiri dan tidak ada kebocoran bensin. Sedikit lega rasanya,namun saya tetap galau karena kerusakan kecil ini. Saya pun kemudian mengurungkan niat mengunjungi Thira lebih lanjut dan memilih kembali ke hostel untuk memikirkan langkah selanjutnya.Ya Tuhan Yesus, jagalah saya dalam perjalanan turun ini. Perjalanan saya menuruni gunung lebih mudah dibandingkan dengan naik ke atas.Angin tidak lagi bertiup sedahsyat sebelumnya.Saya malah sempat menepi untuk memotret garis pantai Kamari yang terlihat indah dari jalan ini. Usai berfoto, saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke hostel dengan perasaan was-was. Saya terus berpikir, apakah saya akan kena peras karena kerusakan kecil di lampu motor ini?Berapa yang saya harus bayar? Apa uang saya cukup untuk membayar? Semua pertanyaan yang membuat pikiran kalut terus terulang. Sesampainya di hostel, saya kemudian memeriksa bagian retak tersebut dan keadaan menjadi lebih buruk. Kaca lampu yang retak tersebut sekarang telah lepas.Walau lepasnya sedikit terlihat sedikit bolong. Oh man..I am going to pay a lot for this. Saya pun kemudian memeriksa kwitansi penyewaan dan disana tertulis bahwa biaya penyewaan juga mencakup asuransi. Sayangnya, asuransi tersebut adalah asuransi pihak ke tiga yang hanya mengcover kecelakaan yang disebabkan oleh pihak ke tiga alias jika saya ketabrak. Lantas kalo motor ditiup angin sampe rubuh diitung ketabrak ga?hahaha no chance, Hendro.

At the edge of the cliff
At the edge of the cliff

Karena saya tidak mau pikiran negatif ini mengganggu saya sepanjang hari, saya memutuskan untuk pergi ke Loukas Motor dan menjelaskan kondisi motornya. Apapun resikonya akan saya tanggung karena memang kecelakaan ini murni karena faktor alam dan saya juga. Sesampainya di Loukas Motor saya menjelaskan kalau kaca lampu motornya pecah karena ditiup angin kencang. Muka saya yang memelas dan sedih sepertinya mendapat reaksi yang tak terduga. Loukas dan anaknya malah tertawa dan berusaha menenangkan saya. “It’s okay brother. You don’t have to pay anything for that small damage.” Saya sontak merasa senang dan bersyukur. Ah beban berat ini pun terlepas dan saya siap melanjutkan perjalanan saya lagi dengan hati yang lapang.Thank God..

Tips:
1. Jika anda ingin mengunjungi Thira, ada baiknya anda berjalan kaki dari kaki gunung Mesa Vouna, tak jauh dari tempat parkir pantai Kamari. Perjalanan dengan jalan kaki akan menempuh waktu sekitar 30 menit namun sepadan dengan pemandangan indah pantai Kamari di bawah sana. Jika anda ingin mencoba sedikit nekad, naiklah motor seperti saya tapi selalu berhati-hati, jalannya sempit dan dua arah. Ada saatnya ketika saya harus berada di tepi kanan yang tidak ada pembatasnya.

2. Jangan lupa membawa jaket ke Thira. Angin yang kencang bisa membuat kita masuk angin..(jangan lupa bawa Tolak Angin juga hahaha)

3. Jika anda penasaran seperti apa jalan menuju Thira dengan naik motor silahkan klik link berikut ini : Ancient Thera courtesy of : Pandamoth

Next : Santorini (Part 4) : Menguak Misteri Atlantis di Akrotiri dan Berburu Sunset di Oia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s