Pompeii : Perjalanan Menyusuri Masa Lalu Bangsa Romawi

Perhatian : Tulisan ini mengandung tema “dewasa” dan gambar “eksplisit”. Bagi yang belum cukup umur dan berpikiran sempit diharapkan jangan membaca.

Waktu menunjukkan pukul 10:00 pagi, saya berjalan bersama tas American Tourister saya menuju kabin no 9 di kereta Freciarossa yang akan membawa saya ke Napoli Centrale. Napoli Centrale adalah stasiun utama di kota Napoli. Dari stasiun ini saya akan naik kereta Circumvesuviana menuju Pompeii, reruntuhan kota Romawi di bawah kaki gunung Vesuvius.

Kereta Freciarossa
Kereta Freciarossa
Selfie di Freciarossa
Selfie di Freciarossa

Kereta Freciarossa memang layak menjadi kebanggaan penduduk Italia. Kereta yang kecepatan maksimalnya mencapai 300km per jam ini membawa saya menuju Napoli Centrale dalam waktu satu jam 10 menit saja. Interior kereta yang modern dan dilengkapi dengan wifi membuat perjalanan menjadi menyenangkan. Terkadang saya melihat keluar jendela sambil menikmati pemandangan khas Italia Selatan dengan pepohonan dan kebun anggur yang terhampar hijau. Sesampainya di Napoli Centrale, saya menyempatkan diri untuk mencari makan siang khas Napoli. Nah, Napoli adalah tempat lahirnya pizza,saya tidak mau melewatkan kesempatan untuk mencicipi pizza asli seasli-aslinya di sini. Berkat info yang saya dapatkan dari travel blog tentang Napoli, saya berhasil menemukan restoran pizza yang enak bernama Da Pellone hanya 10 menit dari Napoli Centrale. Restoran kecil ini memiliki banyak pilihan pizza khas Napoli. Namun karena saya hanya tahu Pizza Margharita,pizza inilah yang saya pilih. Pizza yang saya pesan berukuran sangat besar. Mungkin 1 seperempat kali ukuran besar pizza di tanah air. Seloyang Pizza Margharita hanya 6 euro saja dan bisa dimakan oleh 2 orang dewasa. Setelah puas kenyang dengan pizza yang guedee banget, saya kemudian berjalan kembali ke Stasiun Napoli Centrale untuk naik Kereta Circumvesuviana.

Stasiun Kereta Pompeii Scavi
Stasiun Kereta Pompeii Scavi
Pompeii Scavi
Pompeii Scavi
Ukuran Pizza Margherita di Napoli, saking gedenya, saya harus paroan dengan turis lain.
Ukuran Pizza Margherita di Napoli, saking gedenya, saya harus paroan dengan turis lain.

Kereta Circumvesuviana adalah kereta yang menghubungkan kota Napoli dengan beberapa kota sekitarnya. Bagi turis yang ingin mengunjungi Pompeii, Herculaneum dan Sorrento, kereta ini adalah pilihan paling murah dan nyaman.Walaupun keretanya tidak sekeren kereta intercity apalagi Freciarossa, harga 3.20euro cukup murah untuk membawa saya ke Pompeii Scavi/Villa Dei Misteri, stasiun yang terdekat dengan situs Pompeii. Hanya dalam waktu sekitar 45 menit, saya sampai di Stasiun Pompeii Scavi.
Stasiun Pompeii Scavi terletak dekat sekali dengan pintu utama situs Pompeii. Saya hanya perlu berjalan semenit untuk kesana. Namun, karena hari sudah siang dan cuaca lumayan terik, saya terlebih dahulu pergi ke Zeus Camping, tempat saya menginap. Zeus Camping sebenarnya adalah tempat berkemah namun juga menyediakan bungalow untuk menginap. Setelah menaruh tas dan beristirahat sejenak, saya kemudian berjalan ke Pompeii.
Hanya dalam waktu hitungan menit,saya sudah sampai di pintu masuk Pompeii. Harga tiket Pompeii adalah 13 euro untuk sekali masuk dan jika anda mau sekalian mengunjungi Herculaneum, anda dapat membeli tiket combo seharga 20 euro.Tersedia juga tempat penitipan tas di dekat pintu masuk jika anda hanya berkunjung ke Pompeii tanpa menginap.
Pompeii adalah kota Romawi yang cukup makmur dan hidup dari perdagangan. Kota ini memiliki pelabuhan yang menjadi akses ekonomi dari kota yang berada di kaki gunung Vesuvius. Namun segalanya berubah ketika pada tahun 79 M, gunung Vesuvius meletus dan mengubur Pompeii dengan abu panas sedalam 30 kaki. Hal yang menjadi musibah bagi penduduk Pompeii namun menjadi berkah bagi penduduk dunia di masa sekarang karena sebagian besar bangunan di kota ini menjadi awet dan kita bisa mempelajari kehidupan bangsa Romawi sehari-hari dari tempat ini.

Porta Marina
Porta Marina
fresco di pemandian dekat Porta Marina
fresco di pemandian dekat Porta Marina

IMG_4966
Dari pintu masuk utama,kita akan melewati Porta Marina (gerbang utama) menuju Pompeii. Sambil menyusuri jalan yang berusia ribuan tahun ini, kita akan melihat bekas pelabuhan yang merupakan urat nadi ekonomi Pompeii. Dahulu, Pompeii memiliki akses ke laut dan banyak kapal yang berlabuh di sini. Sekarang Pompeii terpisah 6 km dari laut akibat meletusnya gunung Vesuvius. Banyak kota Romawi yang menjadi kota hantu karena akses pelabuhan yang terputus seperti Miletus dan Ephesus yang terputus karena mengendapnya sungai yang menghubungkannya ke laut. Di dekat pelabuhan Pompeii terdapat juga pemandian Romawi yang terhubung dengan rumah bordil. Setelah melewati gerbang utama, saya berjalan menuju pusat dari kota Pompeii yaitu Forum. Forum merupakan tempat penduduk berkumpul untuk beribadah kepada dewa-dewi dan berbicara politik. Beberapa bangunan di Forum ini adalah Temple of Jupiter (kuil yang dibangun untuk menyembah dewa Jupiter, raja para dewa Romawi), curia ( kantor pemerintahan), dan basilica (gedung pengadilan). Dari Forum ini kita bisa melihat pemandangan Gunung Vesuvius yang dulu mendatangkan bencana bagi kota ini.
Dari sisi kanan Temple of Jupiter, kita bisa melewati jalan kuno yang memiliki tiga undakan batu yang fungsinya sebagai suatu jembatan untuk menyebrangi jalan. Penduduk Pompeii sering membanjiri jalan dengan air untuk membersihkannya. Undakan ini digunakan agar sandal yang mereka pakai tidak menjadi basah. Kereta barang atau kuda juga dapat melewati jalan walaupun ada undakan batu tersebut karena ukuran lebar kereta telah distandarkan di seluruh Roma. Jalan-jalan di kota ini juga dibangun dengan menambahkan kerikil marmer yang dapat memantulkan cahaya bulan atau lampu minyak sebagai penerangan tambahan Sungguh merupakan suatu pemikiran yang maju untuk ukuran jaman itu. Setelah melewati restoran satu-satunya di Pompeii, saya kemudian berjalan menuju Bath of the Forum. Bath the Forum sejauh ini merupakan bangunan pemandian yang paling utuh. Orang Romawi sangat mencintai tubuh mereka, mereka rajin mandi dan olahraga. Di setiap kota Romawi pasti ada paling tidak dua pemandian umum. Pemandian umum juga berfungsi sebagai tempat berolahraga dan sosialisasi. Bath of the Forum memiliki Gymnasium, tempat pengunjung berolahraga sebelum mandi. Ruangan dalam pemandian ini pun masih terbilang utuh dan memberikan gambaran jelas bagaimana penduduk Pompeii menikmati pemandian ini. Setelah mengunjungi Bath of Forum, saya melihat reruntuhan bangunan dengan lubang-lubang yang ternyata adalah bekas kompor jaman dahulu. Bangunan ini ternyata adalah restoran siap saji zaman Romawi yang dulunya menyediakan makanan untuk penduduk Pompeii. Penduduk Pompeii jarang memasak makanannya sendiri di rumah. Mereka biasanya membeli di restoran seperti ini dan makan di tempat atau membawa pulang. Mirip sama kita juga ya?

Batu undakan untuk menyebrang jalan
Batu undakan untuk menyebrang jalan
Jalan kuno di kota Pompeii. Perhatikan kerikil2 marmer yang berfungsi sebagai pemantul sinar bulan atau lampu minyak untuk penerangan tambahan.
Jalan kuno di kota Pompeii. Perhatikan kerikil2 marmer yang berfungsi sebagai pemantul sinar bulan atau lampu minyak untuk penerangan tambahan.
The Forum dengan latar belakang Gunung Vesuvius yang menjulang
The Forum dengan latar belakang Gunung Vesuvius yang menjulang
Bath of the Forum
Bath of the Forum

IMG_4985

Air Mancur Bath of Forum
Air Mancur Bath of Forum
Kolam tempat berendam
Kolam tempat berendam
Ruang hangat (Tepidarium)
Ruang hangat (Tepidarium)
Awas Anjing Galak!
Awas Anjing Galak!
restoran fast food zaman romawi. Lubang-lubang tersebut merupakan kompor.
restoran fast food zaman romawi. Lubang-lubang tersebut merupakan kompor.

Tak jauh dari restoran, saya berjalan menuju House of Tragic Poet, saya pun lupa kenapa disebut demikian. Nah, di halaman depan rumah ini, ada mosaik anjing dan bertuliskan huruf latin yang berarti “ Awas Anjing Galak”. Saya sempat tak percaya, namun begitulah penjelasan Rick Steves (tour guide virtual saya). Berjalan ke arah sebelah kiri dari Temple of Jupiter, terdapat bekas pasar yang sekarang menjadi tempat penyimpanan amphorae (kendi tanah liat) dan juga beberapa jasad korban letusan gunung Vesuvius dua ribu tahun yang lalu. Jasad ini sebenarnya adalah cetakan plester dari rongga yang tersisa ketika tubuh tersebut membusuk dibawah abu gunung. Ketika para arkeolog menemukan rongga dan kerangka manusia di situs ini, mereka mengisi rongga tersebut dengan plester yang kemudian membentuk menjadi jasad membatu yang menggambarkan posisi sang korban ketika meninggal. Sungguh miris melihatnya, ada jasad anak kecil yang sedang dipeluk oleh ibunya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan para penduduk ketika malapetaka tersebut terjadi.

jasad anak kecil
jasad anak kecil
kumpulan amphorae dan "jasad" korban letusan Gunung Vesuvius
kumpulan amphorae dan “jasad” korban letusan Gunung Vesuvius

Usai berkeliling di sekitar forum saya kemudian melanjutkan berjalan menuju House of Faun. House of Faun dinamakan demikian karena adanya patung Faun (sejenis makhluk dalam mitologi Yunani) ketika bangunan ini ditemukan. Bangunan rumah ini merupakan rumah terbesar yang ada di Pompei. Rumah ini aslinya memiliki 40 kamar dan dihiasi dengan patung dan mosaik indah seperti mosaik pertempuran Alexander Agung dengan Raja Darius dari Persia. Rumah yang megah ini merupakan rumah yang berbeda dari rumah-rumah lain di Pompeii karena pemiliknya memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari halaman belakang House of Faun, saya berjalan menuju sebuah gang kecil tempat House of Vetii berada. Rumah milik dua saudagar yang bersaudara kandung ini terkenal akan lukisan fresco dewa Priapus dengan alat kelaminnya yang terlihat eksplisit. Bangsa Romawi memang memiliki standar moral yang berbeda dengan masyarakat dunia sekarang. Bagi mereka ini bukan pornografi, tapi suatu seni dan kadang mengandung nilai filosofi.Lukisan dewa Priapus ini yang sedang berdiri dan “kemaluannya” ditimbang seimbang dengan sekantung uang dan di bawahnya terdapat sekeranjang buah-buahan ini memiliki makna tertentu. Kesuburan (dilambangkan dengan kemaluan) dan Kekayaan (sekantung uang) jika seimbang akan menghasilkan Kemakmuran (keranjang buah). Hebat bukan?hahaha

Tulisan Have (selamat datang) yang ada di halaman House of the Faun.
Tulisan Have (selamat datang) yang ada di halaman House of the Faun.
Patung Faun
Patung Faun
Mosaic Alexander Agung vs Raja Darius dari Persia
Mosaic Alexander Agung vs Raja Darius dari Persia
Salah satu Villa yang berhasil direstorasi
Salah satu Villa yang berhasil direstorasi
Fresco dewa Priapus di House of Vetii
Fresco dewa Priapus di House of Vetii
Bakery zaman Romawi
Bakery zaman Romawi

Berjalan menjauh dari House of Vetii, saya melihat reruntuhan toko roti dengan tungku dan tempat penyimpanan roti. Konon ketika reruntuhan kota ini ditemukan, ditemukan juga roti yang telah mengeras. Melewati toko roti saya sempat menemukan pipa saluran air bersih yang terbuat dari timbale. Penduduk Pompeii dan Romawi pada umumnya belum menyadari efek buruk dari timbal bagi kesehatan manusia.Setelah ini saya benar-benar tersesat. Saya berputar kesana kemari melewati bekas rumah penduduk Pompeii dan bingung mencari tujuan saya selanjutnya yaitu Lupanare (rumah bordil). Alih-alih menemukan Lupanare, saya malah nyasar sampai ke Grand Theatre yang pada saat itu sedang memamerkan jasad korban bencana Pompeii. Ada banyak jasad yang dipamerkan dengan beragam posisi ketika mereka menjelang ajal. Dua jasad di pasar terdahulu saja sudah membuat saya merasa terenyuh apalagi dalam jumlah besar seperti ini. Setelah lama mengamati, saya pun kemudian berjalan meninggalkan teater dan menemukan banyak kuburan Romawi seperti yang saya temui di Via Appia. Bangunan makam yang indah dan dipenuhi dengan ornament dan patung ini berbaris di jalan dekat tembok kota.

Pipa saluran air minum yang terbuat dari timbal
Pipa saluran air minum yang terbuat dari timbal
Bakery zaman Romawi
Bakery zaman Romawi
Grand Theater of Pompeii
Grand Theater of Pompeii
Salah satu makam di Pompeii
Salah satu makam di Pompeii

IMG_5040

Jalan-jalan nyasar di kuburan Pompeii
Jalan-jalan nyasar di kuburan Pompeii

Menyusuri kota ini tanpa peta merupakan hal yang sangat melelahkan. Bayangkan, jalan berbatu dengan tidak ada petunjuk jelas tentang arah. Kebetulan ketika saya nyasar, saya sendirian dan berjalan cukup lama sampai bertemu turis yang lain. Enaknya sih, saya bisa bebas menjelajah dan berfoto tanpa banyak orang namun kalo tidak ada peta ya nyasar. Akhirnya saya pun bertemu dengan turis yang memegang peta dan menanyakan arah menuju Forum. Forum yang menjadi patokan saya untuk mencari arah tempat yang lain. Akhirnya saya sampai lagi di Forum dan rasa penasaran saya akan lokasi Lupanare terjawab. Ternyata untuk mengunjungi tempat ini saya hanya perlu menyusuri jalan utama Pompeii, yaitu Via Abbonanza dan belok kiri dekat air mancur yang airnya bisa kita minum.

IMG_5061 IMG_5062 IMG_5056

Fresco Erotis di Lupanare
Fresco Erotis di Lupanare
Bilik di Lupanare
Bilik di Lupanare

Lupanare adalah rumah bordil zaman Romawi yang memiliki dua tingkat. Lupanare berasal dari kata “Lupanar” yang artinya sarang serigala. Kata “Lupe” berarti serigala atau pelacur. Diperkirakan ada 35 rumah bordil di Pompeii untuk memenuhi kebutuhan “jajan” penduduknya yang diperkirakan sekitar 10 ribu penduduk pada abad pertama sesudah masehi. Lupanare yang ada di dekat Via Abonanza ini memiliki dua tingkat dengan 10 kamar.Tiap kamar memiliki freco erotis yang berfungsi sebagai “iklan”. Kamar yang sempit dengan ranjang batu ini dulunya memiliki matras tempat “layanan” diberikan. Lupanare merupakan tempat bagi orang kelas menengah kebawah karena pada saat itu jasa prostitusi hanya seharga dua ketul roti atau setengah liter anggur. Bahkan budak atau pekerja kasar pun sanggup mendapatkan pelayanan ditempat seperti ini. Orang-orang kaya biasanya memiliki budak atau selir di rumah mereka untuk memuaskan nafsu. Beda dengan masyarakat di zaman sekarang, pada zaman Romawi kuno, prostitusi bukanlah suatu pekerjaan yang hina. Prostitusi adalah pekerjaan biasa yang dilakukan oleh bekas budak atau budak dari bangsa lain yang tidak memiliki keahlian khusus, sehingga untuk melanjutkan hidup, mereka bekerja sebagai pelacur.

IMG_5064

Senja Kala di Forum
Senja Kala di Forum
The Forum
The Forum

Usai mengunjungi Lupanare, saya kemudian berjalan kembali menuju Forum. Tempat ini menjadi sangat sepi ketika sore menjelang malam. Jam sudah menunjukkan hampir jam 7 dan saya terus memotret Forum dan menikmati kesunyiannya. Mengunjungi reruntuhan kota kuno di saat sepi membuat saya merasa sangat tenang. Saya teringat ketika mengunjungi Efesus setahun kemarin, dimana saya nyaris sendirian di Via Curete dan suasana sepi membuat kota ini terasa mistis dan agung. Tidak lama saya menikmati kesendirian saya, suara sirine berbunyi. Tanda pengunjung harus meninggalkan situs. Saya pun berjalan pulang menuju Zeus Camping ditemani sinar matahari sore yang semakin temaram. Ah seandainya saya punya waktu lebih lama, saya ingin mengunjungi reruntuhan kota Herculaneum, Oplontis dan Stabiae yang tak jauh dari sini. Sayangnya saya hanya punya waktu sehari di Pompeii. Esok hari saya akan berangkat menuju Florence,Tuscany. Some other time, I wish..
Tips :

1.Usahakan tiba di tempat ini pagi hari sebelum jam 10 (rombongan turis biasanya tiba pada jam 10) atau jam diatas jam 4 sore. Saya datang sekitar jam 3 dan sekitar jam 7 malam, saya nyaris sendirian di kota sunyi ini.

2. Kenakan sepatu yang nyaman dan hindari memakai sepatu boots atau hak, jalanan kota ini terbuat dari batu2 besar yang membuat berjalan dengan sepatu hak sulit dan berbahaya.

3. Bawa makanan ringan dan botol minum (bisa isi air di air mancur di beberapa tempat di Pompeii). Hanya ada satu restoran di reruntuhan kota Pompeii dan harganya mahal.

4. Jika menginap di Pompeii, anda bisa membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari dengan harga jauh lebih murah di Carrefour skitar 1km dari stasiun pompeii scavi. sberapa murah? saya membeli sebotol anggur italia seharga 1.77euro alias 25rb rupiah.

5. Harga tiket Pompeii sebesar 13 euro dan jika anda berniat mengunjungi Herculaneum dan kota2 kecil lainnya,anda bisa membeli tiket combo sebesar 20 euro.

Advertisements

4 thoughts on “Pompeii : Perjalanan Menyusuri Masa Lalu Bangsa Romawi

  1. Halo Pak Hendro, saya akan mengunjungi Italy di akhir bulan ini. Untuk perjalanan ke Pompeii kira-kira bisa dilakukan one-day trip dari Roma nggak ya? Kebetulan juga saya jalan-jalan bawa oma dan mama saya. Apakah memungkinkan untuk mereka? Terima kasih banyak.

    Like

    1. Hai Rena, mungkin saja day trip ke Pompeii dari roma. Berangkat pagi naik bis atau kereta cepat dari Roma ke Naples dan lanjut naik kereta Circumvesuviana. Namun akan sangat melelahkan apalagi bawa opa dan oma. Perjalanan pergi saja sekitar 3jam.jalan2 d pompeii kurang lebih 4jam klo mau puas. Di dekat roma ada jg reruntuhan kota kuno mirip pompeii namanya Ostia Antica. Jaraknya cuma skitar 40menit dri stasiun Ostiense Roma. Ini jg cukup menarik dibanding Pompeii untuk daytrip.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s