Vatican City : A Day at the Basilica St Peter and A Night at Vatican Museum

Setelah mengunjungi Bath of Caracalla, saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pantheon. Kunjungan kali ini cuma buat ngeliat Pantheon di siang hari dan nyobain es krim St Crispino yang terkenal paling enak di Roma. Siang yang terik ini memang cocok untuk makan es krim sambil rehat sejenak. Es krim di Italia disebut Gelato. Ada banyak rasa gelato di Italia dan rasanya akan terus berkembang sesuai selera zaman. Saya kemudian memilih rasa coklat dan madu. Rasanya memang mantap. Sampai sekarang saya masih kangen rasa gelato St Crispino yang letaknya tak jauh dari Pantheon ini. Setelah dua scoop gelato yg nikmat terhabiskan, saya pun beranjak ke tujuan selanjutnya, Vatican City.

Gelato St Crispino
Gelato St Crispino

Vatican City adalah pusat dari tahta Paus, pemimpin agama Katolik Roma. Negara kota ini terletak di dalam kota Roma dengan luas 44 hektar saja. Vatican City memiliki kedaulatan sendiri dimana Paus memegang kekuasaan tertinggi. Pusat agama Katolik ini juga menjadi tujuan ziarah dan wisata dari jutaan turis tiap tahun. Karena akses kendaraan yang terbatas dari Pantheon menuju Vatican City, saya memutuskan untuk berjalan kaki. Tidak sulit berjalan dari Pantheon menuju Vatican City, saya hanya perlu berjalan sekitar 30 menit menuju Castel Sant’angelo dan kemudian belok kiri menuju St Peter’s Square. Walaupun cuaca panas, tapi berjalan di sekitaran Roma ga bakalan bikin bosan. Pemandangan gedung-gedung berarsitektur Renaissance dan Baroque membuat betah mata.

Castel Sant' Angelo and Ponte Sant Angelo
Castel Sant’ Angelo and Ponte Sant Angelo
Castel Sant'Angelo
Castel Sant’Angelo

IMG_4797 Setelah berjalan sekitar 20 menit, saya sampai di Castel Sant’Angelo. Castel Sant’Angelo awalnya dibangun sebagai mausoleum atau makam Kaisar Hadrian. Kaisar Hadrian yang terkenal sangat mencintai budaya membangun makamnya di luar tembok kota Roma. Sesuai dengan minat dan egonya, Kaisar Hadrian membangun makam berbentuk bundar yang megah dan mirip dengan benteng. Makam ini kemudian beralih nama menjadi Castel Sant’ Angelo setelah Paus Gregorius Agung mendapat penglihatan Malaikat Agung Michael menyarungkan pedangnya di atas makam tersebut. Sejak saat itu, makam ini juga menjadi tempat pengungsian para Paus. Terdapat suatu koridor bernama Passeto di Borgo yang menghubungkan Istana Kepausan di Vatican dengan Castel Sant’Angelo. Koridor ini digunakan oleh Paus Clement VII untuk melarikan diri ketika Kaisar Romawi Suci Charles V menyerbu Roma dan membunuh sebagian besar Swiss Guard (pengawal pribadi Paus).

The way to St Peter's Square
The way to St Peter’s Square

Castel Sant’ Angelo dapat dicapai dengan menyebrangi sungai Tiber dengan berjalan melalui Jembatan Ponte Sant’Angelo. Jembatan yang indah ini dihiasi oleh patung-patung malaikat di kiri dan kanannya. Saya pun tidak menyia-nyaiakan kesempatan untuk berfoto dengan latar belakang Castel Sant’ Angelo dan jembatan ini. Karena waktu yang terbatas, saya tidak mengunjungi makam ini. Saya langsung melanjutkan perjalanan menuju Vatican City. 10 menit berjalan saya sudah sampai di St Peter’s Square.

IMG_4805
antrian panjang menuju pintu masuk Basilica St Peter
Basilica St Peter
Basilica St Peter
St Peter's Square
St Peter’s Square

St Peter’s Square adalah alun-alun yang terhampar di hadapan Basilica St Peter. Alun-alun yang luas ini merupakan tempat para umat berkumpul untuk beribadah, para turis mengantri masuk Basilica St Peter, burung-burung beristirahat sambil minum dari air mancur dan lain-lainnya. Alun-alun yang dikelilingi pilar dan patung para santo ini luas dan megah. Saya merasa sangat kecil ketika berada disana. Banyaknya orang yang mengunjungi Vatican segera terlihat dari tempat ini. Jam menunjukkan pukul 4 sore dan saya hanya punya waktu 2 jam sebelum Basilica St Peter tutup. Antrian panjang menuju Basilica St Peter tidak membuat saya malas mengantri. Maklum, sudah kepalang tanggung, masa sudah di depan mata ga jadi masuk karena antrian. Setelah mengantri sekitar 30 menit saya pun berhasil memasuki gereja termegah di dunia ini.

Swiss Guard sedang berjaga
Swiss Guard sedang berjaga

IMG_4820

Interior Basilica St Peter
Interior Basilica St Peter
Cupola karya Bernini yang menaungi makam St Peter
Cupola karya Bernini yang menaungi makam St Peter

IMG_4833

Pieta karya Bernini
Pieta karya Michaelangelo
Jasad Paus Yohanes XXIII yang masih utuh.
Jasad Paus Yohanes XXIII yang masih utuh.
Daftar nama Paus yang menjabat dari Paus pertama yaitu St Peter sampai Paus yang sekarang, Paus Francis.
Daftar nama Paus yang menjabat dari Paus pertama yaitu St Peter sampai Paus yang sekarang, Paus Francis.

IMG_4842 Pengamanan Basilica St Peter sangat ketat. Pengunjung diwajibkan berpakaian sopan mengingat tempat ini adalah tempat ibadah. Jika tidak berpakaian pantas, pengunjung tidak diperkenankan masuk. Ketika saya di sana ada beberapa turis perempuan yang diminta memakai jaket untuk menutupi pundaknya yang terbuka. Tas pengunjung pun diperiksa dengan mesin x-ray untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Proses pemeriksaan tidak berlangsung lama, saya pun segera bisa masuk ke Basilica St Peter. Gereja Katolik terbesar di dunia ini memberikan kesan yang luar biasa bagi saya. Belum pernah saya memasuki bangunan gereja yang membuat saya merasa sangat kerdil. Bangunan gereja ini indah, luas, dan terkesan agung. Hampir tiap sisi gereja dihiasi oleh karya seni berkualitas tinggi. Patung St Andrew,Patung St Peter yang jari jempol kakinya mengkilat karena sering dicium pengunjung, Kanopi Altar karya Bernini, Patung Pieta ( Bunda Maria memangku mayat Tuhan Yesus) karya Michaelangelo .adalah beberapa karya agung yang menghiasi gereja ini. Selain patung patung tersebut terdapat juga Makam Paus Yohanes Paulus II dan tubuh Yohanes XXIII. Basilica ini dibangun diatas makam Rasul Petrus dan tempat penyalibannya. Makam Rasul Petrus, Simon Zelot dan Judas Tadeus terletak di kompleks pemakaman di bawah gereja ini.  Nyatanya, ada 91 paus dan beberapa bangsawan yang dikuburkan di gereja ini. Sebagian besar bertempat di ruang bawah tanah gereja (crypt). Selain mengunjungi Crypt, pengunjung juga dapat naik ke dome (kubah gereja)  untuk menikmati pemandangan kota Roma. Dome Basilica St Peter adalah bangunan tertinggi di Roma, dari atas gereja ini kita dapat menikmati pemandangan yang menakjubkan. Sayangnya karena waktu yang terbatas, saya tidak bisa mengunjungi dome dan juga crypt. Suatu pelajaran bagi saya jika lain kali mengunjungi Vatican City, paling tidak sisakan waktu sehari untuk menikmati semua tempat di negara terkecil di dunia ini. Waktu pun menunjukkan pukul 6 sore dan gereja mulai dikosongkan. Saya pun melangkah keluar gereja dengan agak kecewa karena gagal naik Dome dan masuk ke Crypt. Well, mau bagaimana lagi. Akhirnya saya berjalan pergi menuju kunjungan saya berikutnya, yaitu Vatican Museum.

Vatican Walls
Vatican Walls
Gerbang menuju Vatican Museum
Gerbang menuju Vatican Museum

Sebelum mengunjungi Italia, saya sudah browsing mengenai Vatican Museum dan antriannya yang luar biasa. Ada sekitar 4 juta pengunjung tiap tahunnya dan biasanya antrian masuk mengular sampai tembok Vatican. Belom lagi, ketika masuk ke dalam museum, ramainya pengunjung membuat museum ini terkesan sumpek dan pengap. Untungnya, Vatican Museum sekarang memiliki program Vatican Museum at Night setiap jumat malam dari jam 7 malam sampai 11 malam. Mengunjungi Vatican Museum pada malam hari mempunyai keuntungan tersendiri. Saya tidak perlu antri lama karena hanya pengunjung yang booking online yang boleh masuk dan Vatican Museum pada malam hari tidak begitu ramai sehingga saya puas menikmati karya agung para seniman zaman Renaissance dengan nyaman.

Just a street in Vatican City
Just a street in Vatican City

Sesuai dengan jadwal yang tertera di tiket online saya, saya bisa memasuki Vatican Museum jam 7 malam. Saya tidak perlu mengantri untuk masuk, hanya memberikan print-an tiket saya dan saya mendapat tiket asli untuk masuk museum. Benar saja, Vatican Museum tidak begitu ramai. Saya bisa berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain menikmati lukisan dan patung serta artefak sejarah yang dikumpulkan para Paus sejak zaman Paus Julius II. Umumnya para turis yang awam karya seni, hanya akan berjalan terus menuju Sistine Chapel tempat lukisan langit-langit gereja karya Michaelangelo. Bagi turis yang melek karya sejarah, waktu 2 atau 3 jam serasa tidak cukup untuk menikmati museum dengan koleksi yang mengagumkan ini. Saya sendiri tergolong yang awam namun berusaha menikmati walaupun tidak paham. Saya menggunakan audio guide gratisan dari Rick Steve Europe untuk membantu saya memahami apa yang saya lihat. Saran saya, lebih baik jika ada uang lebih, sewalah tour guide resmi agar mengetahui sejarah dan asal usul karya-karya seni yang anda lihat. Kalau ga, ya bingung sendiri dan ga nikmatin.

School of Athens karya Raphael
School of Athens karya Raphael
Constantine Agung dalam pertempuran Milvian Bridge karya Raphael
Constantine Agung dalam pertempuran Milvian Bridge karya Raphael
Salah satu karya lukisan langit-langit di Vatican Museum
Salah satu karya lukisan langit-langit di Vatican Museum

IMG_4883 IMG_4899 Saya berpindah dari satu ruang dan ke ruang lain sambil terpukau akan arsitektur bangunan museum ini. Museum yang  menjadi kediaman para paus ini benar-benar suatu istana dengan keindahan bertema dunia dan rohani. Ruangan-ruangan yang dulunya merupakan apartemen dari paus terdahulu dihiasi oleh lukisan indah yang menurut saya amat mewah. Raphael’s Rooms adalah ruangan-ruangan yang dihiasi oleh lukisan karya Raphael dan dimaksudkan untuk menjadi apartemen pribadi Paus Julius II. Dinding ruangan-ruangan ini dihiasi dengan lukisan  fresco indah yang salah satunya adalah lukisan School of Athens yang menggambarkan para filsuf jaman klasik berkumpul. Ada banyak fresco karya Raphael, namun favorit saya adalah fresco mengenai Kaisar Constantine Agung yang menceritakan bagaimana sang kaisar mendapat penglihatan salib,kemenangannya di Battle of Milvian Bridge,Pembaptisannya dan Donasinya.

Langit-langit Sistine Chapel courtesy of :http://www.romandream.info/site/wp-content/uploads/2013/02/Sistine_Chapel.jpg
Langit-langit Sistine Chapel courtesy of :http://www.romandream.info/site/wp-content/uploads/2013/02/Sistine_Chapel.jpg
The Creation of Adam by Michaelangelo. Courtesy of https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/ac/Creaci%C3%B3n_de_Ad%C3%A1m.jpg
The Creation of Adam by Michaelangelo. Courtesy of https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/ac/Creaci%C3%B3n_de_Ad%C3%A1m.jpg

Setelah menikmati Raphael’s Room saya berjalan menuju Sistine Chapel. Sistine Chapel adalah kapel yang digunakan untuk Papal Conclave (pemilihan paus) dan dindingnya dihiasi oleh fresco karya Michaelangelo. Lukisan yang paling terkenal di Sistine Chapel adalah The Creation of Adam yang merupakan bagian dari lukisan penciptaan dunia. The Creation of Adam menggambarkan Adam yang digambarkan terlentang dan telanjang berusaha menggapai jari Tuhan yang digambarkan dengan seorang tua namun kuat. Adegan ini merupakan pusat dari lukisan The Creation. Bagaimana tangan Adam yang lemah dan jari Tuhan yang kuat memindahkan energi kehidupan ke ciptaanNya yang paling mulia. Sayangnya, kita tidak boleh mengambil foto di Sistine Chapel. Lukisan yang umurnya sudah ratusan tahun ini sangat sensitif dan sering sekali para petugas berseru dalam bahasa Inggris agar para turis tidak memotret. Saya mendongak dan menikmati lukisan-lukisan di langit-langit sambil berdiri karena tidak kebagian duduk. Sulit berpaling dari keindahan lukisan Michaelangelo ini dan lebih sulit lagi membayangkan dia melukis selama 4 tahun dengan keringat dan berlumuran cat. Bahkan dia nyaris meninggal karena hampir jatuh dari platform yang menyokongnya.Sungguh dedikasi yang luar biasa mengingat awalnya Michaelangelo sempat menolak mengerjakan proyek ini karena dia adalah seorang pematung bukan pelukis.

Obelisk
Obelisk
Vatican City at Night
Vatican City at Night
Suatu Malam di St Peter's Square
Suatu Malam di St Peter’s Square

Saya keluar dari Sistine Chapel dengan leher pegal namun puas. Kapel yang bersejarah dan indah ini telah saya kunjungi. Malam pun tiba dan saya berjalan kembali menuju St Peter’s Square untuk menikmati pemandangan malam di jantung Vatican ini. Basilica St Peter bersinar terang seolah sinar ilahi terpancar dari bangunan ini. Patung-patung para kudus berdiri seolah menemani terangnya sang Basilica di bawah langit temaram yang kebiruan. Sungguh indah tempat ini. Sayang malam ini adalah malam terakhir saya di Roma. Esok hari saya berpindah ke Florence. Ciao Vatican.Ciao Roma. Buongiorno Pompeii.

Ticket and how to get here :

-Basilica St Peter : gratis,kecuali jika ingin mengunjungi Dome (5 euro jika naik tangga, 7 euro naik lift setengah jalan dan lanjut naik tangga lagi). Jam buka gereja: April-September 0700-19:00. October-Maret 07:00-18:30. Gereja tutup setiap hari rabu pagi karena ada acara ‘Temu Paus”. Kita bisa bertemu dengan Paus dengan tiket gratis yang bisa didapatkan di Basilica St Peter sehari sebelumnya atau pada hari H sebelum jam 10:30 (saat acara berlangsung)

-Vatican Museum : 16 euro (beli di tempat) 16+4euro (beli online). Amat disarankan beli online jika anda berpergian pada musim panas karena antrian panjang dan suhu yang panas. Jam buka museum : 09:00-18:00. Tutup setiap hari besar keagamaan katolik dan setiap hari minggu kecuali minggu akhir bulan dimana pengunjung dapat masuk gratis. Pada bulan Mei-Juli dan September-Oktober, museum dibuka juga tiap jumat malam jam 19:00-23:00. Tiket untuk jumat malam hanya bisa dibeli online.

Vatican City dapat dicapai dengan beberapa cara:

1. Naik Metro ke Stasiun Ottaviano lalu jalan kaki 10 menitan ke St Peter’s Square.

2. Naik bis #40 atau #492 dari stasiun Termini menuju Vatican.

3. Jalan kaki (buka google map dan ketik St Peter’s Square n ikutin dah)

Tips and things to do:

1.  Sediakan waktu seharian penuh untuk benar2 menikmati Vatikan. Datang pagi sebelum rombongan bis turis tiba dan ikutlah misa pagi jika anda beragama Katolik. Jangan terburu-buru seperti saya.

2.  Vatican City memiliki Kantor Pos sendiri dan layanannya lebih baik dari Kantor Pos Italia. Anda bisa membeli kartu pos dan mengirimnya ke tanah air sebagai kenang-kenangan. Saya mengirim kartu pos dan kartu pos tersebut sampai dua minggu kemudian.

Ngirim Kartu Pos di Vatican
Ngirim Kartu Pos di Vatican
Advertisements

8 thoughts on “Vatican City : A Day at the Basilica St Peter and A Night at Vatican Museum

  1. Halo Mas Hendro Liu, salam kenal. Wah, bagus ceritanya Mas.. Tapi saya mau coba koreksi sedikit kalau patung Pieta itu karyanya Michaelangelo tahun 1498, jadi bukan karyanya Bernini..
    Oh iya, kalau sempet main ke Blog saya ya, disitu saya sedikit menjelaskan lukisan Raphael yang School of Athens dengan sedikit penjelasan objek filsufnya http://galihmulya.blogspot.com/2015/07/mengenal-figur-di-dalam-mahakarya.html

    Salam 🙂

    http://galihmulya.blogspot.com/

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s