Constantine (part II) : Sang Penguasa Roma Baru

Constantine yang didukung oleh pasukan veterannya segera menuju ke timur untuk berhadapan dengan Licinius. Licinius yang memiliki pasukan lebih besar akhirnya dikalahkan di sebuah daerah dekat selat Bophorus yang kelak kemudian menjadi ibukota kekaisaran Romawi yang baru, Byzantium.

Usai mengalahkan Licinius, Constantine menjadi penguasa tunggal tanpa tanding di Kekaisaran Romawi. Kekaisaran yang membentang dari barat ke timur tersebut akhirnya tersatukan lagi di bawah pemerintahan seorang Kaisar. Constantine mengadakan suatu reformasi di bidang kependudukan yang mengharuskan tiap penduduk yang bermata pencaharian tertentu meneruskan mata pencaharian tersebut kepada anak dan cucunya. Seorang petani akan mendidik anaknya untuk menjadi petani dan demikian pula seorang nelayan akan memiliki anak seorang nelayan. Inilah cikal bakal feodalisme yang kemudian akan diteruskan di Kekaisaran Romawi dan juga kerajaan-kerajaan Eropa di abad pertengahan.

Constantine telah menguasai kekaisaran Romawi seutuhnya. Musuh-musuhnya pun telah bertekuk lutut atau musnah dilibasnya. Constantine pun mulai mengadakan perubahan dalam tata masyarakat, terutama dalam hal religi. Constantine yang telah menjadi kristen sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan. Maklum saja, belum semua penduduk Romawi beragama kristen. Namun setelah situasi kekaisaran Romawi stabil, Constantine mulai mengambil beberapa kebijakan untuk mendukung agama barunya. Constantine membiayai pembangunan gereja-gereja di kekaisaran Romawi, termasuk gereja Lateran yang sekarang menjadi pusat dari agama Katolik. Ibunda Constantine,Helena, mengadakan ziarah ke Yerusalem dan mendirikan Gereja Makam Kudus (Holy Sepulchre) dan Gereja Kelahiran Kristus (Nativity Church). Constantine pun kemudian melarang praktek-praktek paganisme yang bertentangan dengan kekristenan seperti pelacuran bakti dan pesta seks yang identik dengan penyembahan dewi Venus dan dewa Dionysius. Pertunjukan Gladiator yang brutal pun diganti dengan balap kereta di Hippodrome. Constantine memaksa kuil-kuil pagan untuk menyerahkan pembendaharaan uang mereka kepadanya dan Constantine membangun gereja-gereja dengan uang tersebut. Segalanya terlihat berbeda dan stabil sampai adanya perpecahan dalam gereja akibat ajaran Arianisme yang kemudian mengganggu kestabilan tersebut.

Konsili Nicaea,courtesy ofhttp://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4f/Nicea.jpg
Konsili Nicaea,courtesy ofhttp://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4f/Nicea.jpg

Arianisme adalah paham yang diperkenalkan oleh seorang rahib bernama Arius. Arius mengajarkan bahwa Yesus Kristus tidaklah sama dan sejajar dengan Allah Bapa melainkan lebih rendah dibandingkan dengan Allah Bapa. Tentu saja ini bertentangan dengan ajaran gereja yang mengajarkan kesetaraan dalam tiga persona trinitas ( Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus). Namun, Arius adalah seorang yang mahir bicara dan argumennya berhasil mendapatkan banyak pengaruh di Kekaisaran Romawi. Situasi pun semakin memburuk karena terjadi pertikaian antara pendukung ajaran gereja dan ajaran Arius. Constantine yang bermental prajurit tidak tinggal diam. Teologi bukanlah hal yang menjadi prioritasnya tapi keutuhan dan ketenangan Kekaisaran merupakan hal yang dibutuhkannya. Constantine pun kemudian memfasilitasi Konsili Nicaea dimana para uskup berkumpul untuk membicarakan masalah agama dan terutama masalah Arianisme. Konsili ini pun berakhir dengan kemenangan gereja terhadap Arianisme. Arius dan pendukungnya kemudian diekskomunikasi dan buku-buku ajarannya dibakar. Selain kemenangan atas Arianisme, Konsili Nicaea juga menghasilkan Pengakuan Iman Rasuli (Nicaea Creed) yang menjadi pengikraran iman kristiani sampai sekarang ini.

Wilayah Constantinople yang strategis  courtesy of : http://www.medievalwall.com/wp-content/uploads/2011/02/The-city-plan-of-Constantinople.jpg
Wilayah Constantinople yang strategis courtesy of : http://www.medievalwall.com/wp-content/uploads/2011/02/The-city-plan-of-Constantinople.jpg

Kestabilan politik serta meningkatnya kekayaan Romawi menjadi modal untuk Constantine membangun ibukota Kekaisaran Romawi. Constantine memilih Byzantium menjadi ibu kotanya menggantikan Roma yang menurutnya sudah tak layak menjadi Ibukota Kekaisaran Romawi. Pilihan Constantine terhadap Byzantium untuk menjadi ibukotanya sangatlah tepat. Byzantium terletak sangat strategis dengan ketiga sisinya yang dilindungi oleh air dan terletak diantara dua benua. Kelak daerah yang dulunya tak dikenal dan dianggap sebelah mata ini akan menjadi pusat peradaban dan perdagangan dunia. Constantine yang sementara ini tinggal di Nicomedia (sekarang Izmit), tidak menghemat dana untuk pembangunan ibukota barunya. Constantine memerintahkan pembangunan-pembangunan gedung dan fasilitas publik seperti pemandian, penampungan air, hippodrome, dan banyak lainnya. Hanya dalam waktu 6 tahun, desa Byzantium kemudian bertransformasi menjadi Ibukota Kekaisaran Romawi yang megah. Constantine menamakan kota ini Nova Roma (Roma Baru) walau kelak kota ini lebih dikenal dengan Constantinople sesuai dengan nama pendirinya.

Column of Constantine, salah satu monumen yang didirikan Constantine di masa pembangunan Constantinople.
Column of Constantine, salah satu monumen yang didirikan Constantine di masa pembangunan Constantinople.

Ibukota baru ini pun kemudian dibanjiri oleh pendatang dan penduduk. Constantine memastikan penduduknya mendapatkan roti gratis dan air bersih dari cistern (penampungan air) yang dibangunnya. Pelabuhan-pelabuhan pun dibangun untuk menunjang perdagangan di seluruh Kekaisarannya. Constantinople menjadi jantung dari Kekaisaran Constantine. Sayangnya, keberhasilan pemerintahan Constantine kembali terganggu dengan bangkitnya ajaran Arius di Mesir. Arianisme mendapatkan pendukung yang kuat di ujung timur kekaisaran Romawi. Uskup Alexandria yang baru, Athanasius, terkenal sangat vokal menentang Arianisme. Perselisihan pun kembali terjadi antara gereja dengan pengikut Arianisme. Constantine yang tidak begitu peduli siapa yang benar atau salah dalam masalah Arianisme segera memihak pihak yang dianggapnya akan menang. Kali ini Constantine memihak Arianisme dan memberhentikan Athanasius dari jabatan Uskup. Ketika Athanasius sampai di Constantinople untuk membela diri, Constantine segera berganti haluan membela Athanasius dan mengucilkan Arius lagi. Arius tidak begitu memperdulikan pengucilan ini dan kemudian mendirikan sendiri gerejanya. Pengikut Arius di istana kemudian mempengaruhi Constantine untuk membela Arius dan hasilnya bisa ditebak, Constantine membela Arius dan mengucilkan Athanasius! Kondisi ini pun kemudian memburuk walaupun akhirnya Arius mati mengenaskan.

Church of the Holy Apostles (sekarang telah runtuh dan tempat berdirinya gereja ini sekarang didirikan Mesjid Fatih) courtesy of : http://www.byzantium1200.com/images/apostles.jpg
Church of the Holy Apostles (sekarang telah runtuh dan tempat berdirinya gereja ini sekarang didirikan Mesjid Fatih) courtesy of : http://www.byzantium1200.com/images/apostles.jpg

Kekacauan di bidang agama ini membuat Constantine mencari cara untuk mengalihkan perhatian rakyatnya dan mengembalikan kepercayaan mereka kepadanya. Constantine besar sebagai seorang prajurit dan masalah teologi bukanlah keahliannya. Setelah sedemikian lama tidak memiliki lawan yang kuat, akhirnya Constantine memutuskan untuk menuntaskan dendam lama Kekaisaran Romawi dengan Kekaisaran  Sassanid dari Persia (Irak dan Iran sekarang). Kekaisaran Sassanid adalah musuh bebuyutan Kekaisaran Romawi sejak dulu. Bahkan kulit Kaisar Roma, Valerian*, masih tergantung di pintu gerbang ibukota kekaisaran Persia. Constantine segera menyiapkan pasukannya dan berangkat menuju Persia. Namun baru saja memulai ekspedisinya, kesehatannya memburuk dan Constantine harus menghentikan niatnya. Constantine yang menjelang ajal kemudian memanggil seorang uskup untuk membaptisnya. Constantine memang sengaja menunda pembaptisannya karena berpendapat baptisan dapat membersihkannya dari segala dosa yang dilakukannya. Constantine yang terkenal sangat sombong dan mencintai citra dirinya kemudian dimakamkan di Gereja Para Rasul ( Church of Holy Apostles). Constantine meminta untuk dikuburkan di tengah gereja dengan kedua belas peti kosong mengelilingi dirinya. Kedua belas peti kosong tersebut melambangkan kedua belas rasul Kristus.Constantine berniat untuk mengisi kedua belas peti kosong tersebut dengan relik dari kedua belas rasul namun akhirnya hanya berhasil mengumpulkan relik St Andreas, Lukas dan Timotius. Lukas dan Timotius bukanlah anggota dari kedua belas rasul, namun penerus Constantine,Constantius, tetap menganggapnya berharga untuk menemani jasad ayahnya.Constantine, sang Kaisar Romawi kristen pertama dan juga pendiri Constantinople akhirnya meninggal dengan segala keagungan dan kontroversinya.Sang Kaisar agung tersebut telah meletakkan suatu fondasi yang kuat terhadap berdirinya Kekaisaran Romawi Timur atau yang lebih dikenal dengan nama Kekaisaran Byzantium.

* Valerian adalah Kaisar Romawi yang memimpin sendiri penyerangan ke Kekaisaran Sassanid.Namun penyerangan ini gagal dan berakibat ditangkapnya Valerian dan pasukannya. Valerian dijadikan tawanan dan akhirnya mati dikuliti hidup-hidup.

Referensi :

Brownworth, L. (2009). Constantine and the Church Ascendant. In Lost to the West: The forgotten Byzantine Empire that rescued Western civilization. New York: Crown.

Sacred Destinations. (n.d.). Retrieved November 16, 2014, from http://www.sacred-destinations.com/turkey/istanbul-church-of-holy-apostles

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s