Pengalaman Berharga di Otogar/Terminal Bis Istanbul : Suatu Narasi Deskriptif Kontemplatif

Dalam setiap perjalanan sering sekali terjadi sesuatu yang tak terduga, baik menyenangkan atau pun menyebalkan. Terkadang kita mesti menyesuaikan rencana perjalanan kita kala sesuatu yang tak terduga terjadi. Hal seperti ini pernah terjadi kepada saya ketika berpergian di Turki beberapa waktu yang lalu.

Jadi ceritanya begini, setelah berjalan-jalan selama 3 hari di Istanbul, sesuai dengan itinerary saya, saya akan melanjutkan perjalanan menuju Bergama atau yang lebih dikenal dengan nama Pergamum, salah satu kota kuno yang lokasinya 2 jam dari Izmir. Pergamum terkenal akan reruntuhan kuil Aesculapius dan teater dengan tingkat kecuraman yang luar biasa. Selain itu, banyak juga yang bisa dilihat di kota yang letaknya di pegunungan ini. Saya pun tak sabar pengen mengunjungi tempat ini dan tak pake lama saya segera membeli tiket di Buyuk Otogar (terminal bis di Istanbul ).

Buyuk Otogar Istanbul courtesy of : http://www.extrahaber.com/images/haber/9609.jpg
Buyuk Otogar Istanbul courtesy of : http://www.extrahaber.com/images/haber/9609.jpg

 

Buyuk Otogar merupakan terminal bis terbesar di Istanbul. Otogar ini terintegrasi dengan tram dan metro sehingga relatif mudah untuk dicapai. Kita bisa membeli tiket bis hampir ke segala tujuan di Turki di terminal ini. Kita hanya perlu berjalan menuju salah satu kantor agen bis disana dan langsung membelinya. Setelah bertanya pada om Google terlebih dahulu, saya kemudian memutuskan untuk membeli tiket bis menuju Bergama di kantor Metro. Metro adalah provider bis terbesar di Turki. Jaringannya terluas dan terkenal dengan reputasi yang relatif baik. Selain itu, Metro adalah satu-satunya provider bis yang menyediakan rute langsung menuju Bergama. Provider bis lain mengharuskan kita turun di Izmir dan lanjut naik dolmus menuju Bergama. Setelah saya membayar 70 TL untuk bis menuju Bergama keesokan harinya, saya pun percaya diri berjalan-jalan di Istanbul.

Keesokan harinya, saya sengaja berlelah-lelah sepanjang hari mengunjungi Mosaic Museum, naik kapal menyusuri Bophorus, manjat-manjat tembok benteng di Rumeli Hisari, iseng nonton film dan nongkrong di Istiklal Street. Saya termasuk tipe orang yang susah tidur di bis,mobil,pesawat,kapal laut,kereta..hmmm..pokoknya semua tempat dimana saya tidak bisa berbaring. Saya sengaja berlelah-lelah seharian biar nantinya ketika di bis malam menuju Bergama saya bisa tidur nyenyak. Saat malam tiba, saya pun berangkat dari Sultanahmet menuju Otogar, tas saya yang berat serasa semakin membebani badan saya yang sudah kecapekan. Saya ngantuk dan capek, berharap segera sampai di Otogar, naik bis dan tidur supaya bangun-bangun segar dan tentu saja sampai di Bergama. Namun kenyataan berkata lain…jeng..jeng..

Setelah sampai di Otogar, suasananya berbeda sekali dengan ketika saya di sana sehari sebelumnya. Otogar malam itu ramai sekali dan bising. Banyak sekali anak muda yang berkerumun dan ada juga yang mengibar-ngibarkan bendera Turki sambil bernyanyi seperti pendukung sepak bola. Apa gerangan ini? saya sempat menebak-nebak kalau malam itu ada pertandingan piala dunia antara kesebelasan Turki melawan tim dari negara lain. Namun Turki kan tidak lolos ke Piala Dunia. Rasa penasaran saya semakin bertambah ketika saya melihat banyak sekali penumpukan penumpang di kantor-kantor agen bis. What’s going on? Saya segera menuju kantor Metro dan menunjukkan tiket saya. Bis menuju Bergama akan berangkat pukul 11 malam dan saya diminta menunggu di platform 12 di belakang kantor.

Suasana Ramai di Otogar
Hiruk pikuk di Otogar

Saya segera membawa backpack saya menuju platform 12 melewati kerumunan penumpang yang sedang menunggu bis tujuan mereka. Awalnya saya mengira ini normal. Mungkin memang seperti ini naik bis di Turki. Bis-bisnya memang bagus tapi sistem menunggu bisnya masi seperti di Terminal Pulo Gadung. Tapi setelah jam menunjukkan pukul 11:10, saya mulai mencium gejala tidak beres. Saya melihat seorang petugas dengan logo Metro di kemejanya sibuk menerima keluhan-keluhan penumpang dan sesekali ia mengarahkan penumpang menuju bis yang letaknya jauh dari platform yang semestinya. Saya pun segera menuju petugas tersebut dan menanyakan dimana bis menuju Bergama. Petugas dengan keterbatasan bahasa memberikan isyarat agar saya mencari bis sendiri dengan mengacu pada nomor yang ada di tiket. Saya pun heran tapi karena terburu waktu, saya menurutinya. Saya harus melewati kerumunan penumpang yang menunggu di luar bis-bis sambil membawa backpack yang rasanya semakin berat saja. Saya mencari bis dengan nomor yang tertera di tiket namun setelah berkeliling dari satu platform ke platform lain, saya tidak menemukan bis tersebut, Seorang bapak-bapak Turki yang dapat berbicara bahasa Inggris mencoba membantu saya dan membawa saya menuju manajer Metro, Manajer tersebut yang lagi-lagi tidak begitu bisa bahasa Inggris meminta saya menunggu. Bapak-bapak yang bernama Ugay tersebut akhirnya kembali turun tangan setelah melihat saya terlantar di platform. Ugay berbicara dengan manajer tersebut dan meminta agar saya dibantu. Akhirnya manajer tersebut meminta saya menunggu di kantornya. Kepala saya pusing dan nafas saya sesak karena terlalu banyak menghirup asap rokok di terminal tersebut. Jam pun sudah menunjukkan waktu 00:25. Saya merasa amat lelah dan putus asa. Beruntung masih ada Ugay yang membantu. Setelah menunggu manajer Metro yang sibuk berlari kesana-kemari menangani komplain para penumpang, akhirnya manajer tersebut menghampiri saya dan meminta saya mengikutinya ke meja kantornya. Manajer tersebut segera membuka situs Google Translate dan mengetikkan kalimat dalam bahasa Turki yang diterjemahkan menjadi ” Your bus no show. Tomorrow 11:00?okay?” Saya terhenyak kaget dan segera menggelengkan kepala dan berkata,”No..I want to leave tonight..take me to Izmir instead.” Manajer tersebut menjawab kalau tidak ada lagi bis menuju Izmir malam itu dan menawarkan tiket ke Bergama untuk esok malam atau uang saya dikembalikan. Saya pun memilih opsi kedua. Setelah mendapat refund, saya pun melangkah gontai keluar dari kantor Metro. Pikiran saya kalut dan berada 3 jam di terminal yang ramai tanpa kepastian membuat saya lelah fisik dan mental.

Saya segera menyetop taxi dan memintanya mengantar saya menuju Sultanahmet. Pikiran saya terus berputar-putar memikirkan apa yang harus saya lakukan. Saya sudah kehilangan momentum untuk ke Bergama dan saya sudah menyewa kamar hostel di Selcuk dan tempat-tempat lain. Jika saya nekad terus ke Bergama, maka jadwal perjalanan saya akan berantakan. Setelah sampai di Sultanahmet dan membayar taxi sebesar 30TL, saya pun kembali ke Cheers Hostel. Untungnya masih ada tempat tidur untuk saya malam itu, kalau tidak, lengkaplah penderitaan saya saat itu. Sesampainya disana saya segera mencari tiket pesawat menuju Izmir karena saya agak trauma dengan bis malam setelah pengalaman barusan. Tiket pesawat sebesar 70 USD pun hampir saya beli, namun ternyata kartu kredit saya tak satu pun yang bisa dipakai karena adanya security pin code yang dikirim ke telepon seluler saya, Sialnya, saya tidak mengaktifkan roaming dan akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan adik saya di Indonesia untuk membeli tiket. Adik saya ternyata sedang dalam perjalanan menuju Bandung dan dia tidak membantu saya. Tidak patah arang, saya segera menghubungi teman saya. Teman saya setuju membantu, namun dia takut salah membeli dan meminta saya saja yang membeli dengan kartu kreditnya.Kepala saya semakin pusing dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak membeli tiket pesawat dan tidur saja. Rasa lelah dan trauma membuat saya tidur tak nyenyak.

Setelah tidur selama 2 jam, saya segera terbangun dan seolah mendapat kekuatan dan inspirasi baru. Saya segera berangkat menuju Otogar dan mencoba mencari tiket menuju Selcuk,tujuan saya selanjutnya setelah Bergama. Saya berjalan menuju kantor Pamukkale Bus dan setelah bertanya mengenai jadwal dan kepastian keberangkatan bis, saya pun akhirnya membeli tiket menuju Selcuk seharga 75 TL. ” I assure you,Sir. Our bus will take you to Selcuk. No harm.No problem. Last night was a problem. Students are going to military service.” kata sang penjual tiket kepada saya. Ternyata semalam banyak orang tua yang mengantarkan anak-anaknya wajib militer ke Ankara, sehingga terjadi penumpukan penumpang dan ada bis-bis yang dialihkan untuk mengangkut penumpang tersebut. Saya hanya kebetulan saja tidak beruntung menjadi penumpang yang tidak jadi berangkat. Dengan tiket di tangan saya pun meninggalkan Otogar dan berharap peristiwa semalam tak terulang lagi malam ini.

Pramugara dan trolleynya
Pramugara dan trolleynya
Kondisi bis Pamukkale
Kondisi bis Pamukkale
Televisi di tiap kursi penumpang
Televisi di tiap kursi penumpang

Bis menuju Selcuk berangkat pukul 8 malam. Saya sudah berada di Otogar sejak jam 7 malam. Kondisi terminal berbeda dengan malam sebelumnya. Tidak ada lagi penumpukan penumpang dan kerumunan anak-anak muda berteriak-teriak. Saya duduk menunggu di ruang tunggu Pamukkale Bus dengan santai. Kira-kira pukul 8 kurang, saya dan 4 penumpang dari RRT kemudian diminta naik ke bis dan ternyata penumpang menuju Selcuk hanya 5 orang saja! Pramugara segera sigap memberikan minuman dan snack kepada kami. Fasilitas wifi juga tersedia dan ini membuat saya senang karena dapat berhubungan dengan teman-teman di tanah air. Ketika bosan dengan wifi, saya kemudian menyalakan televisi dan nonton Attilla The Hun yang dibintangi oleh Gerard Butler saat muda. Lumayan, walaupun bahasanya pake bahasa Turki. Ahh..saya puas dan lega karena akhirnya bisa pergi dariย Istanbul dengan aman. Saya tidak kapok naik bis, malahan saya terus menggunakan bis malam sepanjang perjalanan saya di Turki. Apa yang terjadi pada saya di Otogar Istanbul kala itu hanya kebetulan saja. Memang saya tidak jadi ke Bergama, but..why not leave something so that you can visit it again next time?

Advertisements

4 thoughts on “Pengalaman Berharga di Otogar/Terminal Bis Istanbul : Suatu Narasi Deskriptif Kontemplatif

  1. Kamu kebetulan datang di saat yang ngga tepat.
    Saya ngga ada masalah pake bis di istanbul. Ada yang go show juga dan langsung berangkat. Antriannya juga rapi.
    Tapi, bagus juga.. Ada alasan kembali ke Turki. Saya sudah 3 kali ke Turki dan sedang nyari2 alasan biar bisa balik ke sana. Kalau bisa, tinggal di sana ๐Ÿ˜€
    Happy travelling…

    Like

    1. iya mbak Nurul, itu kejadian yg sangat2 jarang dan kebetulan saya berada di saat itu. Seterusnya saya ga kapok naik bis di Turki dan tidak ngalemin masalah sama sekali. Turki memang ngangenin ya..haha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s