Goreme Open Air Museum : A visit to the eternal memory

Setelah puas menikmati pemandangan pagi Goreme dengan balon-balon udaranya yang indah, saya pun segera kembali ke hostel untuk mandi dan bersiap-siap. Hari ini adalah hari terakhir saya di Goreme. Jam tujuh malam nanti saya akan berangkat ke Istanbul dengan bis malam. Namun sebelum saya meninggalkan kota ini, saya masih punya dua tempat yang saya harus kunjungi, yaitu Goreme Open Air Museum dan Uchisar Castle.

Goreme Open Air Museum adalah tempat yang paling populer di Goreme. Tempat ini sebenarnya adalah kompleks gereja dan biara yang berasal abad ke 11. Gereja-gereja yang ada di kompleks ini dibangun dari bukit bebatuan lunak khas Cappadocia.Gereja-gereja ini tidak lagi berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi sebagai museum. Keindahan dan kekayaan sejarah tempat ini menjadi daya tarik yang sulit dilewatkan ketika berkunjung ke tempat ini.

10557326_10152483607458654_5752149500014677143_n
Jalan menuju Goreme Open Air Museum
10516680_10152483602743654_7490002268746458868_n
Pohon dengan tembikar dengan latar peternakan kuda
10513516_10152483603008654_2480618627462187008_n
Pohon dengan hiasan Evil Eyes

10557202_10152483602563654_8456658887818896152_n 10513271_10152483603993654_7601700276303632361_n 10491105_10152483604383654_637322275398155655_n 10478141_10152483605433654_6115547442491441584_n

Tidak sulit mengunjungi Goreme Open Air Museum. Saya hanya berjalan melewati Otogar dan kemudian belok kanan sesuai dengan arah yang ditunjukkan papan petunjuk. Ahmed, sang pemandu wisata, bilang hanya sekitar 10 menit berjalan dari Otogar menuju Goreme Open Air Museum, namun saya berjalan selama setengah jam untuk mencapai tempat tersebut. Namun, saya cukup menikmati jalan- jalan saya pagi itu. Langit biru yang cerah dan bangunan- bangunan batu yang unik membuat saya merasa seolah-olah berjalan di planet lain. Saya pun melewati peternakan kuda dan padang luas dimana kuda-kuda tersebut berlari lepas. Pantaslah tempat ini dinamakan Cappadocia yang berarti “Tanah asal kuda-kuda yang indah” dalam bahasa Persia Kuno.Sungguh unik dan membuat saya makin betah di sini.

10557177_10152483568053654_7233289253516768704_n
bergaya ala suku Bedouin

Selagi berjalan menuju Goreme Open Air Museum, saya juga melewati papan petunjuk menuju El Nazari Church, namun arahnya agak menyimpang dari tujuan utama saya, sehingga saya melewatkannya untuk sementara. Saya pun melanjutkan perjalanan sampai ke parkiran Goreme Open Air Museum.Tak jauh dari parkiran saya melihat Tokali Church,namun saya tidak dapat masuk karena belum membeli tiket Goreme Open Air Museum. Nampaknya gereja ini baru dipugar dan dapat dikunjungi oleh para turis. Gereja yang cukup besar ini kemudian menjadi tujuan saya setelah saya selesai mengunjungi Goreme Open Air Museum. Berjalan menuju loket, langkah saya terhenti melihat seekor unta yang sedang dituntun oleh seorang bocah kecil. Anak ini kemudian menawarkan saya untuk berfoto dengan untanya. Saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto ala Lawrence of Arabia haha. Dengan membayar 5 TL , saya pun duduk di atas punggung unta dengan sorban ala suku Bedouin.

10505541_10152483570398654_6330523924663035371_n
Biara di Goreme Open Air Museum
10500281_10152483571013654_8292599013810066270_n
St Basil’s Church
10325272_10152483576093654_4552896397476636654_n
Lubang tempat menyimpan jenazah
1907388_10152483582848654_7355125728653694359_n
Mosaik St Basil
10345726_10152483589288654_2261889277671060603_n
Mosaik Yesus Kristus
10511147_10152483593818654_793833902105531528_n
Salah satu kerangka yang masih ada

Sesampainya di loket Goreme Open Air Museum, saya membeli tiket masuk dan tiket Dark Church yang dijual terpisah. Saya sengaja membeli tiket Dark Church di loket masuk agar tidak perlu antri lagi di depan Dark Church. Ketika saya di sana, kompleks gereja ini masih sepi. Rombongan turis masih belom tiba.Jelas saja, waktu masih menunjukkan pukul 9:30. Saya pun segera mengunjungi gereja-gereja yang letaknya tersebar di kompleks ini. Beberapa gereja memiliki keunikan tersendiri, contohnya Gereja St Basil yang masih menyimpan kerangka manusia di lantai gerejanya. Sebagian besar gereja dulunya dihiasi dengan mosaik bertema cerita Injil dengan warna-warni yang sangat indah. Sayangnya banyak dari mosaik ini yang sudah rusak dan pudar. Namun ada juga gereja yang kondisi mosaiknya masih bagus seperti di Tokali Church dan Dark Church.

10487340_10152483595898654_6413364547710934663_n
St Catherine’s Church
10487340_10152483596338654_6848754513594596505_n
Pemandangan dari Biara
10530776_10152483597033654_6544184039694272857_n
Mosaik di Biara
10522756_10152483598683654_7806867663918840368_n
Mosaik Transfigurasi Kristus di Dark Church
10544374_10152483600143654_3559779461351877691_n
Dark Church

10491248_10152483600283654_7349725352820993082_n 10553487_10152483600473654_2321531614786026991_n 10443512_10152483601578654_7569791167123092436_n

Dark Church atau Karanlik Church adalah gereja yang mosaiknya masih utuh berkat burung-burung yang bersarang di gereja ini. Kotoran burung yang menutupi mosaik malah melindunginya dari tangan jahil dan gangguan cuaca. Tak heran, jika kita harus membayar lebih untuk masuk ke gereja ini. Saya mendapat kehormatan sebagai pengunjung pertama di gereja ini. Saya masuk dan terkesima dengan indahnya mosaik- mosaik yang menghiasi dinding di gereja ini. Saya pun dengan reflek mengambil kamera dan memotret lukisan-lukisan di dinding gereja gua ini, Tak lama kemudian, rombongan turis jepang masuk dan petugas penjaga mengingatkan untuk tidak menggunakan kamera. Saya pun kemudian segera patuh menyimpan kamera saya. Untung sudah sempat mengambil beberapa foto hehe (jangan ditiru ya). Agaknya pemerintah Turki melarang penggunaan foto untuk menjaga kelestarian mosaik ini. Mosaik yang usianya sudah berabad-abad ini memang sangat rentan dengan cahaya blitz. Semenjak saat itu, saya pun patuh tidak mengambil gambar di tempat yang tidak diizinkan penjaga.

10502168_10152483606253654_7928294730800126005_n
El Nazar Church

10487316_10152483606008654_2014598509824153192_n 10477389_10152483606753654_1966462604844216992_n 10547418_10152483606903654_9009484051699987001_n 10561527_10152483607253654_165952041546797028_n

Setelah mengunjungi Goreme Open Air Museum, saya melanjutkan perjalanan menuju Gereja El Nazar yang saya lewati tadi siang. Ternyata gereja ini berada dalam satu rute trekking yang biasa dikunjungi para turis. Siang itu cuaca cukup terik, saya sendirian berjalan menuju gereja yang letaknya cukup jauh dari jalan utama. Saya berjalan melewati pepohonan dan sisa-sisa bangunan jaman dulu serta mendaki jalan menuju bukit dimana gereja ini berdiri. Akhirnya sampai juga. Gereja ini jarang dikunjungi orang dan ketika saya sampai disana, gereja ini dikunci. Untungnya, penjaga gereja tak lama datang dan saya pun bisa masuk ke dalam gereja. Gereja ini memiliki mosaik yang sudah mulai pudar namun masih indah dilihat. Sungguh perjuangan saya trekking ke bukit ini tidak sia-sia. Selesai dengan kunjungan singkat ke Gereja El Nazar, saya pun segera berjalan ke Otogar untuk menumpang dolmus menuju Uchisar Castle.

What you should not miss : all the churches in Goreme Open Air Museum, especially Dark Church and Tokali Church.

Opening Hours : 08:00-19:00

Entrance Ticket : 30 Lira (including Dark Church ticket)

How to get here : Jalan kaki dari Otogar (30 menit).

Advertisements

4 thoughts on “Goreme Open Air Museum : A visit to the eternal memory

  1. Jadi pengen pergi tanpa tour..
    Ini pergi sendiri apa ada berdua or bertiga ko ?
    Abis baca santorini jg, jadi pengen pergi cuma takut 😅

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s