Selcuk, Basilica of St. John : “This is my resting place forever, here will I dwell.”

Saya terbangun dari tidur-tidur ayam saya ketika sinar matahari terbit menyinari mata saya yang sayu karena kurang tidur. Ya, saya memang kurang bisa tidur di dalam bis walaupun kondisi bis sangat nyaman. Sepanjang malam, saya hanya menonton film “Atilla The Hun” dalam bahasa Turki dan browsing dengan menggunakan fasilitas WIFI yang di sediakan di bis Pamukkale ini. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi dan sebentar lagi saya akan sampai di Selcuk, kota kecil tujuan saya selanjutnya setelah gagal pergi ke Bergama (Pergamum).

Aquaduct di Selcuk
Aquaduct di Selcuk
Monogram Justinian
Monogram Justinian

Bis tiba di Terminal Bis Selcuk atau biasa disebut Selcuk Otogar. Pagi itu sangat dingin dan perut saya masi kosong belum terisi apa-apa selain biskuit yang diberikan pramugara bis semalam. Saya membawa backpack Avtech kesayangan saya menuju sebuah kedai teh untuk minum teh dan mencari info mengenai arah menuju Nur Pension,hostel tempat saya menginap selama dua hari ke depan.Ketika bertanya mengenai arah ke Nur Pension, pemilik kedai yang tidak begitu paham bahasa Inggris namun mengerti kata “Nur Pension” memberi isyarat kalau dia akan menelpon pemilik Nur Pension untuk menjemput saya. Saya pun senang karena tidak perlu repot-repot mencari alamat penginapan tersebut. Ternyata setelah dua gelas teh saya habiskan, yang ditunggu pun tak kunjung datang. Masih tidur rupanya kata sang pemilik kedai. Saya pun hilang sabar dan akhirnya memutuskan untuk mencari penginapan tersebut. Mestinya sih tak jauh..Selcuk kota yang kecil dan mudah untuk mencari alamat. Ketika beranjak pergi dari Otogar, saya bertemu seorang anak muda Turki yang sedang browsing dengan tablet Samsungnya. Dengan ramah saya bertanya alamat tersebut dan dia dengan sigap mencarikan alamat tersebut berikut petanya. Saya tinggal memfoto peta tersebut dan berjalan menuju Nur Pension. Mungkin anda heran, kenapa saya tidak beli SIM card Turki dan bisa online setiap saat?Well..jawabannya adalah karena SIM card untuk orang asing itu MAHAL.. Tidak seperti di Indonesia, kita bisa gonta ganti SIMcard seenaknya, di Turki setiap SIMcard harus didaftarkan ke Pemerintah dan ada ongkosnya. Setelah saya hitung- hitung, lebih baik tak usah.Mendingan hemat untuk ongkos lain saja, toh WIFI ada di mana-mana.

 

Saya pun sampai di Nur Pension dan disambut oleh pemiliknya Ramazan dan Ayako, sepasang suami istri yang merupakan pemilik penginapan ini. Saya segera diantar ke kamar dorm yang dapat memuat 3 orang namun saat saya menginap hanya ada saya seorang. Lumayan juga, bayar dorm dapet kamar pribadi. Setelah mandi, saya menyadari kalau ada loteng yang bisa dipakai untuk menjemur pakaian. My cheapo sense suddenly tingling..hmm I could do something out of this. Saya segera mengambil baju2 kotor saya dan masuk ke kamar mandi. Bermodal deterjen yang saya beli di Istanbul, saya mulai menggunakan wastafel sebagai bak cuci saya. Upsss..ternyata ada tulisan dilarang mencuci baju.Tapi ya sudalah,terlanjur nyuci. Selesai saya mencuci, saya langsung naik ke loteng dan menjemur baju di bawah matahari yang terik. Matahari di daerah Mediteranean memang terik saat musim panas ditambah dengan udara yang kering sangat ideal untuk menjemur pakaian. Pakaian saya pun kering kurang dari sejam. Luar biasa.Kalau anda heran kenapa saya mau repot-repot nyuci baju sendiri, well..ini Turki, bukan Thailand. Di Chiang Mai, jasa laundry hanya 2 US Dollar per 5 kg, klo d Turki 15 Lira (nyaris Rp 80ribu) per load.

Setelah mencuci baju- baju saya yang apek, saya pun mulai menjelajah Selcuk. Ada beberapa tempat menarik yang dapat dikunjungi di Selcuk atau sekitarnya. Sebagian besar turis yang tinggal di Selcuk pasti akan mengunjungi Ephesus dan saya pun salah satunya. Namun, saya sudah telat untuk mengunjungi Ephesus. Jam sudah menunjukkan jam 10 pagi. Menurut Ayako, jam terbaik untuk mengunjungi Ephesus adalah sepagi mungkin ketika pintu masuk sudah dibuka yaitu jam 9 pagi.Alasannya adalah kita dapat menikmati Kota Ephesus tanpa harus bertemu dengan rombongan turis yang akan memenuhi Ephesus sekitar jam 11 siang. Selain itu, matahari siang akan membuat jalan-jalan di Ephesus kurang nyaman, maklum sebagian besar bangunan di Ephesus terbuat dari pualam dan jarang sekali terdapat tempat untuk berteduh. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi mengunjungi Ephesus besok saja, sekarang saatnya untuk pergi mengunjungi reruntuhan Basilika St. John yang letaknya tak jauh dari Otogar.

Pintu masuk Basilika St John
Pintu masuk Basilika St John
ruang sayap kanan basilika
ruang sayap kanan basilika
mosaik malaikat yang masih tersisa
mosaik malaikat yang masih tersisa
Baptismal (kolam baptis)
Baptismal (kolam baptis)
Miniatur Basilika St John
Miniatur Basilika St John
Ruins of St John
Ruins of St John

10482429_10152479239183654_4026243163321085194_n

Gereja St John atau Basilika St John merupakan gereja besar yang dibangun oleh Kaisar Justinian diatas makam Rasul Yohanes murid kesayangan Yesus Kristus. Menurut tradisi gereja, Yohanes pergi dan tinggal di sekitar Ephesus bersama Bunda Maria setelah terjadi penganiayaan terhadap orang-orang kristen di Yerusalem. Yohanes membawa Bunda Maria pergi menuju Asia Kecil dan menetap di sekitar Ephesus. Pada masa pemerintahan Kaisar Domitian, Yohanes ditangkap dan diasingkan ke Pulau Patmos. Di pulau inilah dia menulis Kitab Wahyu. Yohanes akhirnya diampuni oleh Kaisar Nerva dan diijinkan kembali ke Ephesus dimana dia tinggal sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di bukit Ayasoluk.Di atas makamnya didirikan sebuah gereja sederhana yang kemudian diruntuhkan dan diperindah oleh Kaisar Justinian. Basilika ini menjadi salah satu gereja terbesar di kekaisaran Byzantium saat itu. Setelah Kekaisaran Byzantium runtuh, Basilika ini kemudian diubah menjadi mesjid namun kemudian runtuh karena gempa bumi. Reruntuhan gereja ini masih menyisakan keagungannya di masa silam. Kita dapat melihat pilar-pilar penyangganya yang terbuat dari pualam serta beberapa ruang gereja serta kolam baptis yang terletak di ruang tengah gereja. Hal paling menarik bagi saya adalah makam Rasul Yohanes yang terletak di bagian (dulunya) altar. Makam ini tertutup batu pualam dengan tertulis “St Jean In Mezzari,The Tomb of St John”. Menurut legenda, pada jaman pemerintahan Kaisar Constantine, makam ini pernah dibuka untuk diambil reliknya (tulang atau barang peninggalan orang suci yang dipercaya memiliki kekuatan) namun tidak ditemukan apa-apa. Legenda ini semakin diperkuat dengan tidak adanya klaim akan relik rasul kesayangan Yesus Kristus ini. Banyak gereja di masa lampau mengklaim memiliki relik rasul Petrus, Yakobus, Filipus dan lainnya. Namun tidak ada yang mengklaim memiliki relik Yohanes. Misterius ya?

Makam Rasul Yohanes
Makam Rasul Yohanes
to the crypt of St John's Tomb
to the crypt of St John’s Tomb

 

Setelah puas berziarah ke makam Rasul Yohanes, saya berjalan menuju Benteng Ayasoluk yang terlihat dari penjuru Selcuk. Benteng yang terletak di atas bukit Ayasoluk ini terlihat megah dan indah. Benteng yang letaknya di atas Basilika St. John ini bisa dimasuki tanpa dipungut biaya. Saya yang memang sangat suka dengan bangunan benteng segera naik ke atas tanpa menghiraukan panasnya cuaca Selcuk kala itu. Benteng yang mengelilingi puncak bukit Ayasoluk ini memiliki beberapa bangunan lain seperti mesjid, gereja dan beberapa tempat penampungan air. Benteng ini dulunya sempat digunakan oleh tentara Byzantium dan Turki Ottoman sebagai pusat pertahanan. Ketika berada di puncak bukit ini, saya merasakan suatu kedamaian yang luar biasa. Gunung Bulbul yang jauh disana tampak menjulang tinggi, awan-awan yang berlatarkan langin yang biru terserak oleh hembusan angin.Saya bisa melihat sawah serta perkebunan buah di bawah sana yang menghijau dan hembusan angin yang sejuk juga menambah ketenangan hati. Saya sempat duduk di antara sela benteng dan merenung. Di tempat yang sama ini, rasul Yohanes mungkin juga pernah duduk dan menikmati pemandangan yang indah ini. Konon,Rasul Yohanes menulis Kitab Injil Yohanes ketika berusia 90 tahun di bukit ini. Hmm..tempat yang begitu damai dan indah. Tak heran, pada makamnya dulu bertahta tulisan ” This is my resting place forever, here will I dwell.”

Kemegahan Benteng Ayasoluk
Kemegahan Benteng Ayasoluk
Pemandangan dari benteng Ayasoluk
Pemandangan dari benteng Ayasoluk
Mesjid Selcuk
Mesjid Selcuk
Ruang Gereja yg dipercaya merupakan tempat Rasul Yohanes menulis kitab Injil
Ruang Gereja yg dipercaya merupakan tempat Rasul Yohanes menulis kitab Injil
Gunung Bul Bul
Gunung Bul Bul
Penampungan Air
Penampungan Air
bergaya di sela benteng
bergaya di sela benteng
Selfie bersama bapak2 penjual oleh-oleh di dekat Basilica St John
Selfie bersama bapak2 penjual oleh-oleh di dekat Basilica St John

 

Things you should not miss : Aquaduct dengan sarang burung bangau, makam Rasul Yohanes, Kolam baptis, benteng Ayasoluk, gereja kecil tempat Rasul Yohanes menulis kitab Injil Yohanes, pemandangan indah di sekitar bukit Ayasoluk.

Entrance Ticket : 10 Lira

Opening Hours : 08:30-17:00

How to get there : Basilika St John dapat dicapai dengan berjalan kaki 15 menit dari Otogar. Tidak sulit menemukannya karena letaknya dibawah Benteng Ayasoluk yang terlihat dari segala penjuru Selcuk

Advertisements

One thought on “Selcuk, Basilica of St. John : “This is my resting place forever, here will I dwell.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s