From Taksim Square to Galata Bridge : A Walk to Remember

Ada dua kawasan di Istanbul yang paling populer di mata turis mancanegara. Sultanahmet yang terkenal akan kawasan kota tua dan peninggalan sejarahnya dan tentu saja, Beyoglu atau yang lebih populer dengan nama Taksim. Kawasan Taksim merupakan daerah yang paling hype untuk anak-anak muda Istanbul dan para turis yang menyukai keramaian serta belanja. Tidak seperti Sultanahmet, kawasan Taksim sangat ramai pada siang atau pun malam hari. Pusat kehidupan di Kawasan Taksim adalah Istiklal Street yang panjangnya 1.4 kilometer dan kiri kanannya toko, cafe dan pusat perbelanjaan. Dari Istiklal Street kita dapat berjalan terus menuju Galata Tower yang merupakan peninggalan bangsa Italia yang dulu menempati daerah ini.

Saya memulai perjalanan saya menuju Kawasan Taksim dengan Tram 1 Baciglar Kabatas. Tram ini membawa saya menuju stasiun Kabatas dan dari sana saya transfer ke furnicular train yang membawa saya ke stasiun Taksim. Stasiun Taksim adalah salah satu pusat transportasi umum yang terintegrasi. Dari Stasiun ini kita dapat naik metro,tram dan furnikular menuju tempat yang dilewati moda transportasi tersebut. Ketika keluar dari stasiun Taksim, kita akan berada di Taksim Square yang terkenal itu. Lapangan luas dengan Republic Monument di pusatnya ini merupakan tempat diadakannya berbagai acara seperti perayaan kemerdekaan, pameran budaya dan bahkan demonstrasi menentang kebijakan pemerintah seperti yang terjadi beberapa bulan lalu. Tempat ini relatif aman ketika saya kunjungi bahkan agak sepi, jauh dari kesan adanya pengelompokan massa demonstran. Beberapa anak muda sibuk bercengkrama dan sekelompok turis tampak sibuk berfoto ria. Burung-burung merpati yang jinak berkumpul dan terbang ketika dihampiri oleh anak kecil yg berusaha mengejarnya. Kita juga dapat dengan mudah menemukan penjual Simit dan Misir (jagung rebus) di sini. Puas berfoto ria dengan Republic Monument, saya pun segera berjalan menuju Istiklal Street.

Tram Nostalgia
Tram Nostalgia
Taksim Square
Taksim Square
Republic Monument
Republic Monument
Kumpulan restoran di depan Taksim Square
Kumpulan restoran di depan Taksim Square

Istiklal Street atau Grand Rue de Pera ini merupakan jalan yang sangat ramai dikunjungi oleh turis atau pun penduduk lokal. Ada sesuatu yang unik dari jalan yang panjangnya 1,4 km ini. Bangunan- bangunannya terlalu indah untuk dijadikan toko atau cafe sekali pun. Bangunan- bangunan yang bergaya Neo-Klasik sampai Renaissance ini dulunya memang ditinggali oleh orang – orang asing. Beberapa negara bahkan dulunya menempatkan kedutaannya di jalan ini sebelum Ibukota Turki dipindahkan ke Ankara. Bangunan- bangunan peninggalan orang-orang asing ini kemudian menjadi toko dan cafe yang ramai dikunjungi orang. Saya amat menyukai atmosfir di tempat ini.Begitu banyak orang yang berjalan menyusuri jalan ini. Bahkan dikatakan ada sekitar 3 juta orang hilir mudik di jalan ini setiap harinya. Ikon utama dari Istiklal Street adalah Tram Nostalgia yg menghubungkan daerah Galata sampai Taksim Square. Tram yang berwarna merah ini hilir mudik menyusuri Istiklal Street sambil membunyikan lonceng untuk memberi peringatan pada pejalan kaki. Anak-anak kecil terkadang suka ikutan “membonceng” Tram ini dan tak heran jika Tram ini juga menjadi obyek foto para turis. Tram Merah, kerumunan orang dan bangunan ala Renaissance memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemar fotografi. Saya pun juga tertarik dan karena memang as an Asian I do love taking picture..saya pun mengeluarkan tongsis (tongkat narsis atau monopod) saya untuk berfoto dengan tram tersebut. Namun tampaknya ulah saya ini menarik perhatian beberapa anak muda Turki yang penasaran dan akhirnya saya pun berfoto selfie bersama mereka. Beberapa kali saya berusaha mengambil foto, ada aja yang nimbrung. Agaknya orang-orang Turki memang ramah dan ehem..narsis haha. Puas berfoto ria,saya pun akhirnya cape jalan dan memutuskan untuk ngaso sebentar di bioskop Pink. Bioskop di Turki memiliki opsi bahasa, bahasa asli film tersebut atau bahasa Turki. Saya membeli sebuah tiket bioskop dan masuk ke teater 2. Saya agak heran dengan kursi di bioskop ini. Kursinya dibuat berpasangan dan rata-rata yang menonton adalah anak muda Turki yang sedang berpacaran. Wow..tampaknya saya salah masuk..Saya pun tetap masuk dengan pede dan nonton sendirian di dua bangku sambil selonjoran sementara suara-suara aneh khas pasangan pacaran terdengar dari bangku belakang..ya sudalah nasib pegi ndirian haha..ketika film sudah berlangsung setengah durasi, saya dibuat kaget dengan lampu yang menyala tiba-tiba.Saya kaget mengira ada situasi darurat atau film telah selesai. Ternyata lampu dinyalakan karena waktu break 10 menit tiba. Saya sempat heran namun tetap di kursi saya sementara beberapa penonton pergi ke luar untuk ke toilet dan membeli popcorn.

say cheeeseee
say cheeeseee
Loket tiket Cinema Pink
Loket tiket Cinema Pink
Istiklal Street
Istiklal Street

10479174_10152479223153654_1395204777592439113_n

Setelah film usai, saya pun melanjutkan perjalanan saya sepanjang Istiklal Street. Saya berhenti sebentar melihat penjual dondurma (es krim Turki) yang bercanda dengan pembelinya. Saya pun akhirnya iseng membeli satu dan tidak luput dari keisengan sang penjual. Es krim yang semestinya diberikan kepada saya malah dipermainkan dengan berbagai cara. Keisengan penjual es ini memang mengundang gelak tawa dan perhatian para turis yang lewat. Tentu saja setelah diisengin, saya dapat menikmati es krim saya dengan aman. Es yang enak dan berbeda dengan yang pernah saya coba di Kuala Lumpur. Di sepanjang jalan ini kita juga dapat mengunjungi salah satu bagian terindah dari Istiklal Street yaitu Cicek Pasaji atau Flower Passage. Gang kecil yang dulunya merupakan teater pertunjukan drama ini sekarang merupakan tempat pub- pub dan restoran mewah. Arsitekturnya yang indah membuat makan siang disini suatu pengalaman yang sulit dilupakan. Setelah melewati Cicek Pasaji, kita akan menemukan gereja Saint Anthony of Padova. Gereja Katolik yang masih berfungsi ini sangat indah dan masi mengadakan misa harian. Sayang ketika pergi kesana, saya terlambat menghadiri misa.

Saint Anthony of Padua Church
Saint Anthony of Padua Church
Cicek Pasaji
Cicek Pasaji

Perjalanan saya menyusuri jalan Istiklal akhirnya berakhir di ujung rel Tram Nostalgia. Saya yang mau mengunjungi Galata Tower akhirnya memutuskan untuk bertanya arah. Tidak sulit mencapai  Galata Tower ternyata. Kita hanya perlu lurus menuruni jalan yang agak terjal sampai kita menemukan menara tersebut.Galata Tower didirikan oleh koloni Genoa yang dulu dominan di daerah Galata ini. Galata Tower yang tingginya 66,9 meter ini dulunya merupakan bangunan paling tinggi di Constantinople pada saat dibangun pada tahun 1348. Kita dapat naik ke Galata Tower dan menikmati pemandangan sekitar Istanbul dan Bophorus dengan duduk santai di kafe.

Galata Tower
Galata Tower
Galata Neighbourhood
Galata Neighbourhood
Galata Tower
Galata Tower

Setelah puas mengunjungi Galata Tower, saya terus berjalan menuju Galata Bridge yang menghubungkan daerah Beyoglu dengan kawasan kota tua. Saya berjalan di sisi kiri sambil menikmati pemandangan sore yang mengagumkan. Kita dapat melihat Yeni Cami (Mesjid Baru) dan Blue Mosque di ujung jembatan. Di sisi jembatan tampak beberapa pemancing sibuk mengulurkan kailnya untuk menangkap ikan yang banyak terdapat di bawah jembatan. Di bagian bawah Galata Bridge ini terdapat banyak restoran yang menjual makanan – makanan khas Turki dan Eropa. Jika kita melewati restoran-restoran ini banyak pelayan yang dengan ramah menawarkan menu dan mengajak kita makan di restorannya. Harganya yang lumayan mahal membuat saya mengurungkan niat makan disana. Akhirnya saya membeli sebuah Simit di ujung jembatan dan menikmatinya sambil memandang ombak di Selat Bophorus dan burung- burung yang terbang berkeliling. Senja yang tak terlupakan di Istanbul.

view from the end of Galata Bridge
view from the end of Galata Bridge
para pemancing
para pemancing
Ikan hasil tangkapan
Ikan hasil tangkapan
Yenni Camii dari Galata Bridge
Yenni Camii dari Galata Bridge
Bagian bawah Galata Bridge
Bagian bawah Galata Bridge
Restoran di Galata Bridge
Restoran di Galata Bridge

Things you should not miss : makan di salah satu kafe di Istiklal Street, nyobain es krim turki, naik Tram Nostalgia, jalan kaki menyebrangi Galata Bridge, foto-foto di Cicek Pasaji

 

How to get there :

– Taksim Square dapat dicapai dengan menggunakan Tram 1 Baciglar – Kabatas, turun di stasiun tram Kabatas dan transfer ke furnicular train menuju stasiun Taksim. Sesampainya di Stasiun Taksim, berjalan ke luar stasiun dan sampai di Taksim Square.

– Istiklal Street terletak tak jauh dari Taksim Square (5 menit jalan kaki)

– Galata Tower dapat dicapai dengan berjalan kaki mengikuti jalur Tram Nostalgia dan terus menuruni jalan sampai Galata Tower terlihat.

– Galata Bridge dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Galata Tower atau naik Tram 1 Baciglar – Kabatas dan turun di Stasiun Eminonu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s